Dalil Do’a Lailatul – Qadr?

oleh -546 Dilihat
oleh
Do'a Lailatul Qadr

Asyhadu an-lâ ilâha illallah, astagfirullah asalukal-jannata wa ana a’udzubika minannar. Allahuma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa`fu ‘anna ya Karîm. Mohon penjelasannya!

08191756xxxx

JAWAB: Dzikir tersebut memuat empat bagian. Yaitu syahadat lâ ilâha illallah, istighfar, doa meminta surga dan berlindung dari neraka, serta doa permintaan maaf kepada Allah.

Masalah keutamaan membaca syahadat lâ ilâha illallah disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barang siapa bersyahadat (bersaksi) lâ ilâha illallâh, dia pasti akan masuk surga.1

Masalah keutamaan membaca istighfar (memohon ampun) kepada Allah disebutkan dalam beberapa hadits. Antara lain:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُوْلُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِي، يا ابْنَ آدَدَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Mâlik رضي الله عنه , dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah Tabaraka wa Ta’âla berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni untukmu dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamumencapai awan di langit, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menghadap-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui-Ku, engkau tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku menemuimu dengan ampunan seperti itu.2

Tentang doa meminta surga dan berlindung dari neraka ini disebutkan dalam beberapa hadits. Antara lain:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَهِ ﷺ مَنْ سَأَلَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتْ النَّارُ اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنْ النَّارِ

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه , dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa meminta surga (kepada Allah) tiga kali, surga berkata,’Wahai Allah, masukkanlah dia ke dalam surga,’ dan barang siapa meminta perlindungan dari neraka (kepada Allah) tiga kali, neraka berkata.’Wahai Allah, lindungilah dia dari neraka’.” 3

Tentang doa permintaan maaf kepada Allah سبحانه وتعالى , disebutkan dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَارَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو؟ قَالَ تَقُوْلِيْنَ : اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها , dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku menemui malam al-qadr, doa apa yang akan aku katakan?” Beliau menjawab: “Katakanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku)”.4

Dalam riwayat at-Tirmidzi ada tambahan karîm setelah kata ‘afuwwun, tetapi tidak ada kata-kata ya Karîm di akhirnya. Riwayat ini sebagai berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ، مَا أَقُوْلُ فِيْهَا؟

قَالَ: قُوْلِيْ؛ اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها , dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku mengetahui waktu malam al-qadr, apa yang akanaku katakan pada waktu itu?” Beliau menjawab: “Katakanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun karîm tuhibbul-’afwa fa’fu ‘anni (wahai Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf lagi Mahapemurah, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku)”.5

Intinya dzikir di atas kandungannya benar, namun waktunya mutlak, yaitu tidak ditentukan kecuali doa terakhir yang diucapkan pada malam yang diharapkan terdapat malam al-qadr padanya. Demikian juga susunannya tidak sebagaimana tersebut dalam pertanyaan.

Oleh karena itu, jika dzikir dan doa itu diucapkan pada waktu-waktu yang tidak ditentukan, dan tidak mesti dengan susunan seperti di atas -insya Allah-tidak mengapa. Namun jika diucapkan secara rutin pada waktu yang ditentukan dan dengan susunan seperti di atas, maka hal itu dikhawatirkan termasuk dalam bid’ah idhafiyyah. Yaitu bid’ah yang pada asalnya ada dalilnya, namun cara pelaksanaannya tidak mengikuti dalil. Wallahu a’lam.


1) HSR al-Bazzar dari Ibnu ‘Umar. Lihat ash-Shahîhah, no. 2344. Shahîhul-Jami’, no. 6318.

2) HSR at-Tirmidzi, no. 3540. Dishahîhkan oleh Syaikh al- Albâni.

3) HSR Ibnu Majah, no: 4340. Dishahîhkan oleh Syaikh al- Albâni.

4) HR Ibnu Majah, no. 3850 dan Ahmad. Dishahîhkan oleh Syaikh al- Albâni.

5) HR at-Tirmidzi, no. 3513. Dishahîhkan oleh Syaikh al- Albâni.

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.