Perihal Shalat Berjama’ah

oleh -329 Dilihat
oleh

Saya mohon penjelasan mengenai:

  1. Sahkah shalat berjama’ah dua orang dengan imam di depan dan makmum di belakang?
  2. Kalau shalat berjama’ah sudah tertinggal satu raka’at, apakah makmum ikut tasyahud ataukah diam sampai menunggu imam salam kemudian makmum bangkit menambah raka’at yang tertinggal.

Hasan Oku, Sumatera Selatan 08153203xxxx

JAWAB: Pertanyaan nomor satu, kami jawab: Cara beridiri dalam shalat berjama’ah, jika yang ada hanyalah imam dan satu makmum, makamakmum berdiri sejajar dengan imam di sebelah kanannya. Dalil masalah ini sebagai berikut:

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رضي الله عنه- قَالَ بِتُّ في بَيْتِ خَالَتي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ العِشَاءَ، ثُمَّ جَاءَ، فَصَلَّى أرْبَعَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ نَامَ، ثُمَّ قَامَ، فَجِئْتُ، فَقُمْتُ عن يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عن يَمِينِهِ، فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ نَامَ حتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ – أوْ قالَ: خَطِيطَهُ – ثُمَّ خَرَجَ إلى الصَّلَاةِ.

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه , dia berkata: “Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah (isteri Rasulullah). Rasulullah n melakukan shalat ‘Isya, kemudian beliau datang (ke rumah) lalu shalat empat raka’at, lalu beliau tidur. Kemudian beliau bangun, lalu shalat (malam). Maka aku berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau menjadikanku di sebelah kanannya. Beliau shalat lima ra’akat, lalu shalat dua raka’at, kemudian tidur, sampai aku mendengar beliau mendengkur. Kemudian beliau keluar menuju shalat (di masjid)”. (HR Bukhari, no. 697).

Tetapi, jika ada dua orang shalat berjama’ah dan makmum berdiri di belakangnya, maka –insya Allah- shalatnya sah. Karena cara berdiri sebagaimana di atas tersebut, bukan termasuk syarat atau rukun shalat. Apalagi pada zaman sekarang, banyak orang yang belum memahami hal ini. Akan tetapi, jika orang itu sudah mengetahui, lalu dia tetap melakukannya, maka dia berdosa karenanya. Wallahu a’lam.

Pertanyaan nomor dua, kami jawab:

Makmum ikut tasyahud imam, karena dijadikannya imam adalah untuk diikuti. Nabi ﷺ telah bersabda:

إنَّما جُعِلَ الإمَامُ لِيُؤْتَمَّ به، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وإذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وإذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وإنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا ونَزَلَ لِتِسْعٍ وعِشْرِينَ، فَقالوا: يا رَسولَ اللَّهِ، إنَّكَ آلَيْتَ شَهْرًا، فَقالَ: إنَّ الشَّهْرَ تِسْعٌ وعِشْرُونَ.

Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Oleh karena itu, jika dia telah bertakbir, maka bertakbirlah kamu. Dan jika dia ruku’, maka ruku’lah kamu. Dan jika dia bersujud, maka sujudlah kamu. Dan jika dia shalat dengan berdiri, maka shalatlah dengan berdiri. (HR Bukhari, no. 378, Muslim, no. 411).

Oleh karena itu, jika makmum menemui imam dalam keadaan apa pun, maka sebagai makmum, dia harus mengikuti imamnya. Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أَتى أحَدُكم الصَّلاةَ والإمامُ على حالٍ فليَصنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الإمامُ.

Jika seseorang di antara kamu mendatangi shalat, sedangkan imam dalam keadaan apa pun, maka hendaklah dia melakukan sebagaimana yang sedang dilakukan oleh imam. (HR Tirmidzi, no. 591. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, no. 1188).

Setelah membawakan hadits ini, Imam Tirmidzi رحمه الله mengatakan: “Hadits ini diamalkan oleh ulama. Mereka mengatakan, jika seseorang datang pada waktu imam sedang sujud, maka hendaklah dia sujud. Tetapi raka’at itu tidak dihitung, jika dia tidak mendapati ruku’ bersama imam. ‘Abdullah bin Mubarak memilih sujud bersama imam, dan dia menyebutkan, dari sebagian ulama yang mengatakan: “Mudah-mudahan dia tidak mengangkat kepalanya dari itu sampai dia diampuni”.1

Setelah imam salam, maka makmum masbuq tadi melanjutkan shalatnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فلا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وأْتُوهَا تَمْشُونَ، عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَما أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وما فَاتَكُمْ فأتِمُّوا.

Jika iqamat shalat sudah dikumandangkan, maka janganlah kamu mendatangi shalat dengan lari, namun datangilah dengan berjalan secara tenang. Apa yang kamu dapati (pada imam), maka shalatlah. Dan apa yang lepas darimu, maka sempurnakan. (HR Muslim, no. 602).

Footnote:

1) Sunan Tirmidzi. Lihat keterangan hadits no. 591.

Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun X/1428H/2007M

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.