Mendidik Anak Mencintai Para Sahabat Nabi ﷺ

oleh -1036 Dilihat
oleh
Mendidik Anak Mencintai Para Sahabat Nabi ﷺ

Setiap Muslim harus mencintai para Sahabat Nabi رضي الله عنه , tidak boleh membenci, tidak boleh mencaci-maki dan harus selalu mendoakan mereka. Hal itu merupakan kewajiban syar’i, bahkan merupakan salah satu pokok aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله mengatakan: “Di antara pokok (aqidah) Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dan lidah terhadap para Sahabat Rasûlullâh ﷺ “1.

Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân hafizhahullâh menjelaskan maksud Syaikhul Islam di atas bahwa di antara pokok aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dari kebencian dan kedengkian terhadap para Sahabat رضي الله عنه , serta selamatnya lidah dari caci-makian dan umpatan terhadap mereka رضي الله عنه . Hal itu karena para Sahabat رضي الله عنه adalah generasi yang serba lebih dahulu (dalam segala hal), yang memiliki kekhususan menjadi sahabat Nabi ﷺ , dan juga merupakan generasi terbaik umat ini. Merekalah yang benar-benar telah memikul amanat syari’at Nabi ﷺ dan menyampaikannya kepada generasi sesudahnya. Merekalah yang benar-benar telah berjihad bersama Rasûlullâh ﷺ dan benar-benar membelanya.2

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selanjutnya menerangkan tentang sikap dan sifat Ahlu Sunnah wal Jama’ah terhadap para Sahabat Nabi رضي الله عنهم  , sebagaimana yang telah disebutkan Allâh سبحانه وتعالى dalam firman-Nya:

﴿ وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠ ﴾

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (sesudah generasi Muhajirin dan Anshar) mengucapkan (doa) : Ya Allâh ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami. Dan janganlah Engkau jadikan kebencian ada di dalam hati-hati kami terhadap orangorang yang telah beriman. Ya Allâh ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang. (QS. al-Hasyr/59:10).

Maksud orang-orang yang datang “sesudah mereka” dalam ayat di atas adalah sesudah generasi Muhajirin dan Anshar, yaitu orang-orang yang mengikuti para Muhajirin dan Anshar dengan baik, semenjak generasi Tâbi’în hingga generasi akhir zaman dari umumnya kaum Muslimin.

Demikian pula maksud “orang-orang yang lebih dahulu beriman daripada kami”, adalah Muhajirin dan Anshar. Sedangkan maksud kata “orang-orang yang telah beriman” dalam ayat “jangan Engkau jadikan kebencian ada di dalam hati kami terhadap orang-orang yang telah beriman” adalah semua orang yang benar-benar beriman, dan yang paling pertama di antara mereka adalah seluruh Sahabat Nabi رضي الله عنه (termasuk Muhajirin dan Anshar)3 .

Jadi, Ahlu Sunnah wal Jama’ah pasca generasi Sahabat رضي الله عنهم  , yang terdiri dari generasi Tâbi’în serta generasi seterusnya yang mengikuti jejak para Sahabat رضي الله عنهم  sampai Hari Kiamat, selalu mendoakan para Sahabat, mencintai mereka serta menjaga hati dan lidah dari kebencian, kedengkian dan caci-makian terhadap para Sahabat رضي الله عنه .

Kemudian Syaikhul Islam رحمه الله juga menerangkan pokok aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah berikutnya tentang Sahabat, yaitu menaati Rasûlullâh ﷺ ketika bersabda:

لَاتَسُبُّوا أَصْحَابِيْ، فَوَلَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَابَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيْفَهُ

Janganlah engkau mencaci Sahabat-sahabatku, maka Demi Allâh yang jiwaku ada di tangan-Nya, sekiranya ada seseorang di antaramu berinfak emas sebesar Gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai kebaikan salah seorang di antara Sahabatku itu meskipun hanya satu mud saja, bahkan meskipun hanya setengah mud nya saja. (HR. al-Bukhâri, Muslim dan lain-lain)4

Demikianlah, begitu besar jasa dan kebaikan para Sahabat رضي الله عنهم  bagi Islam dan bagi umat Islam sesudahnya, sehingga wajib bagi generasi sesudahnya untuk mencintai mereka, tidak boleh menyimpan kebencian dan kedengkian di dalam hati apalagi sampai mengeluarkan caci makian terhadap mereka melalui lidah atau tulisan. Bahkan harus mencintai dan mendoakan mereka.

Tetapi akhir-akhir ini, cinta kepada para Sahabat رضي الله عنهم  ini seakan-akan semakin memudar di banyak kalangan kaum Muslimin. Bahkan seolah-olah tidak lagi menjadi salah satu pilar penting dalam beraqidah. Banyak kaum Muslimin sekarang yang tidak tahu diri dalam bersikap terhadap para Sahabat رضي الله عنهم  .

Karena itulah menjadi sangat penting untuk mendidik dan memahamkan secara khusus tentang siapa sesungguhnya para Sahabat Supaya tumbuh rasa cinta yang besar dan benar pada jiwa anak-anak kaum Musimin terhadap para Sahabat رضي الله عنهم  , apalagi kemudian ditengarai telah muncul gerakan-gerakan sistematis dan terorganisir yang selalu menggembar-gemborkan suara sumbang tentang para Sahabat رضي الله عنهم  Tidak lain tujuannya adalah untuk memudarkan kepercayaan kaum Muslimin kepada para pendahulu Umat Islam itu yang pada gilirannya mementahkan kepercayaan kepada ajaran Islam itu sendiri.

Sebagaimana telah dipaparkan di atas, para Sahabat رضي الله عنهم  adalah manusia terbaik dari umat ini. Nabi ﷺ jelas-jelas telah menyatakan secara tegas tentang hal ini dalam sabdanya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudahku, kemudian orang-orang sesudahnya lagi. (HR. al-Bukhâri dan Muslim dan lainnya).5

Maka, sungguh merupakan ibadah yang besar jika para orang tua, para pendidik dan para guru selalu menanamkan rasa cinta kepada para Sahabat Nabi رضي الله عنهم  dalam diri anak-anak didiknya. Sampai mereka benar-benar mencintai para Sahabat Nabi رضي الله عنهم  , selalu mendoakan, dan menjaga hati serta lisan untuk tidak membenci, mendengki, dan mencaci-maki para para pendahulu umat Islam itu. Orang-orang yang benar-benar telah memperjuangkan Islam bersama Nabi n, hingga benar-benar tegak di muka bumi. Karena itulah, seluruh musuh Islam, baik yang terang-terangan maupun yang bersembunyi di balik label Islam karena dahulu negerinya di tumbangkan oleh Islam melalui para Sahabat Nabi رضي الله عنهم  , menjadi benci terhadap Islam dengan kebencian yang amat besar. Dan jalan untuk itu adalah dengan menghancurkan nama baik para Sahabat رضي الله عنه supaya mereka kelak akan sampai pada target sebenarnya, yaitu menghancurkan Islam. Sebab, tidak mungkin bagi mereka untuk langsung membenci Islam secara terbuka karena tantangannya akan sangat besar. Wallâhu al-Musta’ân wa ‘Alahi at-Tuklân.

Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

1 Syarh al-’Aqîdah al-Wȃsithiyyah, Dr. Shȃlih bin Fauzȃn alFauzȃn, Maktabah al-Ma’ȃrif Riyȃdh, cet. VI, 1413 H/1993 M, hal. 184 (matan), sub judul: Al- Wȃjib Nahwa Ash-hȃbi Rasûlillȃhi ﷺ .

2 Ibid. Syarah dengan terjemah bebas secara makna.

3 Lihat syarah Syaikh Dr. Shȃlih bin Fauzȃn al-Fauzȃn, ibid hal. 185

4 Shahîh al-Bukhȃri/Fathu al-Bȃrî: Kitȃb Fadhȃˈil ash-hȃbi an-Nabiyyi Radhiyallȃhu ‘Anhum, VII/21, no. 3673, Shahîh Muslim Bi Syarhi an-Nawawî, Khalîl Maˈmûn Syîhȃ, Kitȃb Fadhȃˈil ash-Shahȃbah, Bȃb Tahrîm Sabbi ash-Shahȃbah Radhiyallȃhu ‘Anhum, XVI/309, no. 6435.

5 Shahîh al-Bukhȃri/Fathu al-Bȃrî, Kitȃb Fadhȃˈil ash-hȃbi an-Nabiyyi Radhiyallȃhu ‘Anhum, op,cit, VII/3 no. 3651 dan Shahîh Muslim Bi Syarhi an-Nawawî, Khalîl Maˈmûn Syîhȃ, op. cit, XVI/302-303 no. 6419

 

Majalah As-Sunnah

Baituna edisi 07/Thn. XVIII

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.