Muslim kok mendua

oleh -435 Dilihat
oleh
Muslim kok mendua

Disusun oleh : Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA

PROLOG

“Mendua” sebuah istilah yang lebih dikenal dalam kehidupan rumah tangga. Yakni suami yang memiliki lebih dari satu istri. Seringkali orang awam menilai kesetiaan seorang suami dari dimadu atau tidak dimadunya si istri. Padahal sebenarnya tidak demikian. Apalagi jika praktek mendua (berpoligami) itu tadi dijalankan sesuai dengan norma-norma yang telah digariskan Islam, tidak merugikan atau mennelantarkan salah satu dari kedua istri.

Namun bukan masalah “mendua” di atas yang akan dibahas dalam tulisan ini. Yang akan dibahas di sini adalah praktek “mendua” lainnnya, yang benarbenar tidak bisa ditolerir. Sebab ia merupakan tindak kejahatan yang paling berat! Apakah itu? Yaitu mendua dalam peribadatan atau ibadah. Atau di samping beribadah kepada Allâh عزوجل, ia juga menyembah atau beribadah kepada selain Allâh سبحانه وتعالى . Dalam agama Islam, perbuatan mendua seperti ini disebut syirik. Syirik itulah kejahatan yang paling berat.

ISLAM AGAMA TAUHID

Tauhid bermakna mengesakan Allâh سبحانه وتعالى . Di antara bentuknya adalah dengan memurnikan segala macam bentuk ibadah untuk Allâh سبحانه وتعالى . Sebagaimana yang Dia sebutkan dalam salah satu firman-Nya:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Mereka hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Allâh dengan ikhlas menaati-Nya sematamata karena (menjalankan) agama, juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus (QS. AlBayyinah/98:5)

Ajaran tauhid amatlah indah. Sisi keindahan tersebut bisa terlihat, antara lain pada tidak terpecahnya dan tidak bercabangnya tujuan para hamba. Semuanya menuju kepada Dzat yang satu; Yang Maha Kuasa yaitu Allâh سبحانه وتعالى . Dengan demikian, mereka semua berkonsentrasi pada tujuan yang sama, yakni memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Rabb yang telah menciptakan mereka, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan.

Keindahan tauhid tersebut telah Allâh isyaratkan dalam sebuah perumpamaan :

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيْهِ شُرَكَاۤءُ مُتَشٰكِسُوْنَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ۗبَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Allâh membuat perumpamaan (yaitu): seorang lakilaki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh dari seorang (saja). Apakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Segala puji bagi Allâh, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS. Az-Zumar/39:29)

Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa perumpamaan di atas, Allâh سبحانه وتعالى buat untuk menggambarkan perbedaan antara orang musyrikyang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allâh سبحانه وتعالى, dengan orang Mukmin yang mengikhlaskan seluruh ibadahnya hanya untuk-Nya. 1

Namun sayangnya, sebagaimana firman Allâh سبحانه وتعالى di atas, “kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Ya, orang-orang yang menduakan Allâh سبحانه وتعالى dengan menggantungkan nasibnya pada benda-benda mati atau makhluk Allâh lainnya, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah merugikan diri sendiri. Di mana mereka telah memecah hati dan jiwanya untuk sesembahan-sesembahan tersebut, yang seharusnya dikonsentrasikan untuk Yang Maha Esa, yaitu Allâh سبحانه وتعالى .

Banyaknya sesembahan di muka bumi bukan hanya merugikan manusia, namun juga merugikan bumi dan langit. Sebagaimana diisyaratkan Allâh سبحانه وتعالى dalam fi rman-Nya (yang artinya): Seandainya dalam keduanya (langit dan bumi) ada tuhantuhan selain Allâh, tentu keduanya akan hancur. Maha suci Allâh yang memilik ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan (QS. Al-Anbiya’/21:22)

Mengapa akan hancur? Sebab langit dan bumi akan dijadikan rebutan oleh para tuhan-tuhan tersebut! Yang satu ingin begini, namun yang lain ingin begitu. Akhirnya yang menjadi korban adalah bumi dan langit juga penghuninya. 2

MENGENAL LEBIH DALAM MAKNA TAUHID

Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan makna tauhid. Di antara ayat yang sangat simpel redaksinya, namun amat dalam kandungannya: ayat pertama surat al-Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١

Katakanlah, Dialah Allâh Yang Maha Esa. (QS. AlIkhlas/112:1)

“Allâh Maha Esa” berarti “Allâh satu dan tunggal. Dia tidak memiliki padanan, pembantu, sekutu, duplikat ataupun kembaran”.3 Juga berarti “Allâh Maha tunggal dalam ilâhiyyah dan rubûbiyyah-Nya”.4

Dari keterangan di atas dan penjelasan lain para Ulama, bisa disimpulkan bahwa Allâh Maha Esa dalam segala-galanya.

Berikut beberapa kupasan tentang berbagai sisi tinjauan keesaan Allâh سبحانه وتعالى :

Pertama: Allâh Esa dalam dzat-Nya

Allâh سبحانه وتعالى satu dan tidak berbilang. Ini senada dengan ayat lain yang berbunyi:

اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ

Sesungguhnya Allâh adalah sesembahan yang satu. (QS. An-Nisâ’/4:171)

Dan ini membantah para penganut agama non monoteisme, seperti Nasrani saat ini yang meyakini tiga tuhan, Majusi yang meyakini adanya dua tuhan dan Hindu yang meyakini banyak tuhan5 . Segala sesuatu memiliki dewa. Ada dewa air, angin, sungai, gunung dan seterusnya. Lalu di abad kesembilan sebelum masehi, para pembesar agama Hindu ‘menyatukan’ para dewa tersebut dalam satu tuhan yang terdiri dari tiga unsur. Yaitu: Brahma, Wisnu dan Siwa.6

Keesaan Allâh dalam dzat-Nya menunjukkan kesempurnaan Allâh سبحانه وتعالى . Di mana Dia tidak membutuhkan apapun dan tidak butuh kepada siapapun juga.7

Di antara yang menunjukan keesaan Allâh dalam dzat-Nya yaitu keterangan bahwa Allâh tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, sebagaimana yang Allâh سبحانه وتعالى tegaskan dalam fi rman-Nya,

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ٣

(Allah) tidak beranak juga tidak diperanakkan”. (QS. Al-Ikhlâs/112:3)

Ayat ini merupakan bentuk penegasan dari Allâh سبحانه وتعالى bahwa Dia tidak melahirkan atau memiliki anak, tidak pula merupakan anak dari dzat lain.

Mengapa Allâh سبحانه وتعالى mustahil memiliki anak?

  1. Sebab keberadaan keturunan menunjukkanadanya kebutuhan orang tua terhadap keturunan tersebut, baik karena membutuhkan bantuan mereka dalam menghadapi urusan dunia, atau harapan akan keberlangsungan trah dan klan, atau hanya sekedar agar tidak kesepian. Allâh سبحانه وتعالىsama sekali tidak membutuhkan itu semua.8 Oleh karena itu, diantara nama-Nya adalah al-Ghaniy yang artinya: Dzat Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan kepada siapapun.9

اِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٦

Sesungguhnya Allâh tidak membutuhkan seluruh alam (QS. Al-‘Ankabût/29:6)

  1. Sebab untuk melahirkan anak, seseorang pasti membutuhkan pasangan10, sedangkan Allâh سبحانه وتعالى sama sekali tidak butuh kepada siapapun, sebagaimana telah diterangkan di atas. Karenanya dengan gamblang Allâh سبحانه وتعالى telah menegaskan bahwa Dia tidak memiliki istri:

اَنّٰى يَكُوْنُ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَمْ تَكُنْ لَّهٗ صَاحِبَةٌ ۗ

Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri”. (QS. Al-An’am /6:101)

  1. Karena dzat yang melahirkan sesuatu lazimnya menyerupai apa yang dilahirkan11, sedikit atau banyak . Sedangkan Allâh سبحانه وتعالى tidak ada yang menyerupainya sama sekali.

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat”. QS. Asy-Syûrâ/42:11)

Mengapa pula Allâh سبحانه وتعالى tidak mungkin merupakan anak yang terlahir dari dzat lain?

  1. Sebab sesuatu yang terlahir menunjukkan bahwadia bukanlah yang pertama.12 Padahal Allâh سبحانه وتعالى memiliki nama al-Awwal, sebagaimana dalam fi rman-Nya:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir”. (QS. AlHadîd/57:3)

Makna al-Awwal sebagaimana dijelaskan Rasûlullâh ﷺ adalah:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

Ya Allâh, Engkaulah Yang Pertama, tidak ada sesuatupun yang mendahului-Mu. (HR. Muslim)

  1. Sebab setiap yang terlahir pasti ia akan mati,13 sedangkan Allâh سبحانه وتعالى adalah Maha hidup, sebagaimana diterangkan dalam fi rman-Nya:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ە

Allah, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha hidup dan Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya) (QS. Al-Baqarah/2:255)

  1. Sebab tuhan yang berupa anak dari dzat lain merupakan ciri khas tuhannya kaum musyrikin14, sebagaimana telah dijelaskan di depan.

Kedua: Keesaan Allâh سبحانه وتعالى dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya

Allâh Maha Esa dalam nama-nama dan sifatsifat-Nya, maksudnya adalah Allâh سبحانه وتعالى satusatunya dzat yang memiliki nama-nama dan sifatsifat yang sempurna dari segala sisinya. Andaikan ada selain Allâh سبحانه وتعالى yang memiliki sifat atau nama yang serupa dengan sifat atau nama-Nya, maka sifat dan nama tersebut tidaklah sempurna.

Contohnya: Sifat hidup, melihat dan mendengar. Sifat-sifat tersebut selain dimiliki Allâh سبحانه وتعالى , juga dimiliki oleh para manusia. Namun, ‘kualitas’ sifat yang dimiliki manusia jelas jauh berbeda dengan yang ada dalam diri Allâh سبحانه وتعالى .

Berikut sedikit penjabarannya:

Keesaan Allâh dalam sifat hidup-Nya

Allâh memiliki nama al-Hayyu (Yang Maha hidup). Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah fi rman-Nya:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ

Allah, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, yang Mahahidup dan Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya) (QS. Al-Baqarah/2: 255)

Sifat hidup Allâh سبحانه وتعالى maha sempurna. Dalam arti, kehidupan yang bukan didahului dengan ketidakadaan, juga kehidupan yang tidak akan ada akhirnya, alias tidak diakhiri dengan kematian. Kehidupan Allâh pun tidak ada kekurangan dan celanya. Juga kehidupan-Nya diiringi kesempurnaan pengetahuan, pendengaran, penglihatan, kekuatan, kehendak, kasih sayang dan sifat-sifat sempurna lainnya.15

Ini jelas berbeda dengan kehidupan manusia atau makhluk lainnya, yang penuh dengan kekurangan. Kehidupan mereka diawali dengan ketidakadaan dan diakhiri dengan kematian. Kehidupan mereka diiringi dengan kekurangan, berupa sakit, mengantuk, tidur, makan, minum dan yang semisal.

Dzat yang memiliki kehidupan sempurna, itulah yang berhak dan pantas untuk diibadahi, sebagaimana ditegaskan Allâh سبحانه وتعالى dalam fi rman-Nya:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ

Bertawakallâh kepada Allâh Yang Mahahidup, Yang tidak mati. (QS. Al-Furqân/25:58)

Adapun makhluk hidup yang akan mati, atau mayit yang tidak hidup, atau benda mati yang sama sekali tidak memiliki kehidupan, mereka semua sama sekali tidak pantas untuk disembah atau diibadahi!16

Keesaan Allâh dalam penglihatan-Nya

Salah satu nama Allâh adalah al-Bashîr (Yang Maha Melihat). Hal itu disebutkan dalam al-Qur’anlebih dari empat puluh kali.17 Di antaranya dalam ayat:

اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍۢ بَصِيْرٌ ١٩

Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. AlMulk/67:19)

Penglihatan Allâh maha sempurna. Sebab Dia mampu untuk melihat segala sesuatu, sekecil apapun. Dia bisa melihat semut kecil berwarna hitam, di atas batu hitam, di malam yang gelap gulita. Melihat darah yang mengalir dalam urat dan sumsum yang ada dalam tulang serangga kecil. Kuasa melihat apa yang ada di dalam dasar lapis ketujuh bumi, sebagaimana mampu melihat apa yang ada di atas langit ketujuh. Tidak ada sesuatupun yang terhalang dari penglihatan-Nya.18

Ini jelas amat berbeda dengan penglihatan manusia yang serba terbatas, yang tidak bisa melihat benda yang amat jauh darinya, bahkan benda yang berada di sampingnya pun tidak bisa terlihat andaikan terhalangi triplek yang tebalnya hanya beberapa millimeter saja.19

Jika seorang hamba memahami kesempurnaan sifat penglihatan Allâh سبحانه وتعالى , ia akan selalu merasa dalam pengawasan-Nya, sehingga merasa malu ketika tergoda untuk melakukan perbuatan maksiat.20

Dikisahkan di suatu padang pasir ada seorang wanita yang dibujuk lelaki untuk melakukan perbuatan zina. Namun si wanita tersebut menolak. Pria itu berkata, “Bukankah tidak ada yang melihat kita kecuali hanya bintang-bintang!?”. Wanita tersebut menjawab, “Ya, tapi bukankah Yang Menciptakan bintang-bintang itu melihat kita??”.21

Keesaan Allâh dalam pendengaran-Nya

Allâh سبحانه وتعالى memiliki nama as-Samî’ (Yang Maha Mendengar). Penamaan Allâh سبحانه وتعالى dengan nama ini terulang dalam al-Qur’an sekitar lima puluh kali.22 Di antaranya dalam ayat:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١١

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat”. QS. AsySyûrâ/42:11)

Allâh سبحانه وتعالى amatlah sempurna. Sebab Dia bisa mendengar segala suara, baik yang lirih apalagi yang keras. Allâh سبحانه وتعالى tidak akan kebingungan manakala dalam waktu yang sama para hamba-Nya memanjatkan permintaan yang berbeda-beda, dengan bahasa yang berlainan pula. Dia juga tidak letih dengan banyaknya permohonan yang ditujukan pada-Nya.23

Lain halnya dengan pendengaran kita yang serba terbatas dari berbagai sisi. Suara amat lirih tidak bisa kita dengar. Kita juga akan kerepotan manakala dalam satu waktu diajak berbicara oleh banyak orang. Begitu pula ketika ada orang berkomunikasi dengan non bahasa kita, kita akan merasa kebingungan dan terpaksa menggunakan bahasa isyarat.

Jika seorang hamba meyakini bahwa Allâh Mahamendengar, maka dia akan termotivasi untuk selalu menjaga lisan dan tutur katanya, memperbanyak dzikir, syukur, doa, munajat dan bertawassul kepada Allâh سبحانه وتعالى dengan namanama-Nya yang mulia ini.24

Al-Qur’an banyak menceritakan tawassul para Nabi dalam doa mereka dengan nama Allâh yaitu as-Samî’. Manakala dikaruniai dua orang putra; Ismail q dan Ishaq q , Nabi Ibrahim q berkata:

اِنَّ رَبِّيْ لَسَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ٣٩

Sungguh Rabbku benar-benar Maha Mendengar (mengabulkan) doa (QS. Ibrâhîm/14:39)

Setelah ‘membangun’ Ka’bah, Nabi Ibrâhîm q dan Ismâ’îl q berdoa :

 رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١٢٧

Wahai Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah/2: 127)

Ketika Nabi Zakaria q memohon agar dikaruniai keturunan yang salih, beliau q menutup doanya dengan:

اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ٣٨

Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. (QS. Ali Imran/3:38)

Maka Allâh pun mengabulkan doa mereka semua.

Dari pemaparan di atas terlihat dengan jelas bahwa nama Allâh “al-Ahad” merupakan nama yang amat istimewa, sebab mengandung makna yang begitu luas dan sempurna. Karena itulah nama al-Ahad merupakan salah satu nama yang khusus untuk Allâh سبحانه وتعالى . Tidak ada suatu dzat pun yang boleh menggunakannya sebagai nama. Hanya Allâh سبحانه وتعالى yang berhak menggunakannya, sebab Dialah satu-satunya yang maha sempurna dalam setiap sifat dan perbuatan-Nya.25

Ketiga: Keesaan Allâh dalam rubûbiyyah-Nya

Maksudnya adalah keesaan Allâh سبحانه وتعالى dalam perbuatan-Nya. Perbuatan Allâh amatlah banyak, di antaranya : menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur kekuasaan, memberikan manfaat, mencegah dari marabahaya, menyembuhkan, … dan yang lainnya. Satu-satunya yang kuasa melakukan semua itu secara sempurna hanyalah Allâh سبحانه وتعالى ”.26

Berikut beberapa penjabaran keesaan Allâh سبحانه وتعالى dalam berbagai perbuatan tersebut di atas:

Allâh Maha Esa sebagai Pemberi rezeki

Allâh سبحانه وتعالى menegaskan:

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ ٥٨

Sungguh Allâh, Dialah Pemberi rizki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-Dzâriyât/51:58)

Di lain kesempatan, Allâh سبحانه وتعالى mengajak kita untuk berfi kir dan membandingkan antarakekuasaan Allâh سبحانه وتعالى dengan apa yang bisa dilakukan para sesembahan manusia selain-Nya.

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ هَلْ مِنْ شُرَكَاۤىِٕكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰلِكُمْ مِّنْ شَيْءٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ࣖ ٤٠

Allah yang menciptakan kalian, kemudian memberimu rizki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kalian sekutukan dengan Allâh itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian? Maha suci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Ar-Rûm/30:40)

Allâh Maha Esa sebagai Penyembuh

Dalam salah satu doanya, Rasûlullâh ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ البَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَايُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allâh, Rabb para manusia, Yang menghilangkan penyakit. Sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau Maha penyembuh. Tidak ada penyembuh selain Engkau. Berilah kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit”. (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik رضي الله عنه .)

Arti dari Allâh Mahapenyembuh adalah kesembuhan itu bersumber dari-Nya.27 Allâh سبحانه وتعالى yang menyembuhkan penyakit rohani maupun jasmani. Penyakit rohani adalah penyakit hati, semisal hasad, sombong, keraguan, kegelisahan dan syubhat yang merupakan sumber dari bid’ah. Sedangkan penyakit jasmani banyak contohnya, mulai yang ringan semisal panu, hingga yang berat seperti kanker dan aids.28

Secara garis besar penyakit rohani, sumbernya ada dua: syahwat dan syubhat. Contoh penyakit syahwat: zina dan narkoba. Penyakit syubhat contohnya: bid’ah. Keduanya sama-sama berbahaya, walaupun yang terakhir lebih disukai iblis. Seorang insanharus waspada dari tipu daya setan yang berusaha mempermainkannya dengan memindahkan dari satu jenis penyakit ke penyakit yang lain.

Tidak sedikit para pasien penyakit rohani yang merasa telah sembuh, padahal pada hakekatnya ia hanyalah berpindah dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Berpindah dari penyakit maksiat ke penyakit bid’ah misalnya. Seperti orang-orang yang ingin mengobati penyakit hati dan mencari ketenangan batin dengan cara membaca wirid atau dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Rasûlullâh ﷺ . Kalaupun ia mengklaim telah mendapatkan ketenangan hati yang didambakannya, sebenarnya apa yang ia nilai ketenangan itu, tidak lain adalah tipu muslihat dan khayalan iblis.

Termasuk praktek pengobatan para korban narkoba dengan amalan-amalan yang tidak jelas landasannya. Sejatinya mereka sedang dipindahkan dari penyakit syahwat ke penyakit syubhat!

Dan ini sama sekali bukan sedang menutup pintu ikhtiyar pengobatan. Namun yang perlu diketahui bahwa ikhtiyar itu ada rambu-rambunya dalam Islam.

Allâh Maha Esa sebagai Rabbul ‘alamin

Makna Rabbul ‘alamin

Rabb adalah dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/ penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir) 29.

Tidak setiap pencipta sesuatu pasti akan memilikinya. Contohnya: para tukang batu dan tukang kayu yang membangun rumah di suatu real estate, mereka yang menciptakan dan membangun rumah tersebut, namun demikian mereka bukanlah pemiliknya.

Juga tidak setiap pemilik sesuatu ialah yang menciptakannya. Seperti kita yang memiliki sepeda motor, jelas bukan kita yang membuat dan menciptakannya, kita hanya terima jadi dari dealer motor.

Begitu pula tidak setiap pengatur sesuatu, dialah yang memilikinya. Seperti tukang parkir yang mengatur berbagai jenis motor dan mobil, dari yang paling mewah sampai yang paling butut, kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah miliknya.

Namun Allâh سبحانه وتعالى tidak demikian. Dialah yang terkumpul dalam diri-Nya secara mutlak tiga sifat sekaligus; pencipta, penguasa/pemilik dan pengatur. Kalimat “secara mutlak” perlu digarisbawahi; karena terkadang ada yang mengklaim memiliki tiga sifat tersebut dalam dirinya, namun tatkala kita cermati ternyata hal itu hanya bersifat parsial. Seperti orang yang menciptakan komputer, dia pula yang memiliki dan mengaturnya. Namun ketiga sifat tersebut hanya berlaku pada komputer itu saja. Adapun barangbarang lainnya, maka bisa dipastikan, orang itu hanya memiliki salah satu sifat dari tiga sifat tersebut di atas. Adapun Allâh سبحانه وتعالى , Dialah yang menggabungkan tiga sifat itu secara mutlak! Mengapa? Karena Dialah Rabbul ‘âlamîn, yakni: Yang Menciptakan, Menguasai dan Mengatur seluruh alam semesta.

Kata al-’âlamûn maknanya adalah segala sesuatu selain Allâh سبحانه وتعالى , berupa langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya serta yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.30

Dari makna al-’âlamûn ini, kita bisa membayangkan betapa banyak ciptaan Allâh سبحانه وتعالى ! Betapa besar kekuasaan-Nya ! Dan betapa luas wilayah yang diatur-Nya!

Berikut sedikit kupasan tentang tiga sifat di atas:

Allâh سبحانه وتعالى sebagai Pencipta alam semesta.

Secara fitrah, seluruh manusia, baik Mukmin maupun kafir, sepakat bahwa Allâh سبحانه وتعالى adalah Sang Pencipta. Dalam al-Qur’an diceritakan (yang artinya): Sungguh jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka (orang kafir), “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, tentu mereka akan menjawab, “Allah”. (QS. Luqmân/31:25 dan azZumar/39:38)

Namun demikian, ada orang yang fitrahnya sudah rusak atau bahkan mati, sehingga mengingkari hal tersebut. Salah satu contohnya adalah apa yang dikisahkan Imam Abu al-Qâsim at-Taimi رحمه الله dalam kitabnya: al-Hujjah fî Bayân al-Mahajjah, tentang seorang ateis yang mengklaim bisa menciptakan makhluk hidup tanpa ‘campur tangan’ Allâh سبحانه وتعالى .

Ia memasukkan sekerat daging dalam sebuah toples lalu ia tutup rapat. Beberapa hari kemudian, muncullah belatung-belatung di daging tersebut, katanya, “Akulah pencipta makhluk-makhluk kecil ini!”.

Salah seorang Ulama ingin memberi pelajaran kepada ateis tersebut. Ia berkata, “Sang pencipta sesuatu, pasti ia akan mengetahui betul seluk-beluk ciptaannya. Sebagaimana diiisyaratkan Allâh سبحانه وتعالى :

اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ

Apakah pantas yang menciptakan tidak mengetahui? (QS. Al-Mulk/67:14)

Jika engkau mengklaim dirimu sebagai pencipta belatung-belatung tersebut, tolong beritahu aku, berapa jumlah mereka? Mana yang jantan dan mana yang betina? Mana yang bapak serta mana yang anak?!”.

Si ateis pun terperanjat lalu tertunduk diam seribu kata.

Andaikan memang betul, bahwa orang tersebut memang bisa menciptakan belatung, itupun tidak lantas menjadikan ia berhak untuk bersikap congkak. Hanya dengan menciptakan hewan kecil yang menjijikkan, ia berlaku sombong?! Alangkah naifnya! Adapun Allâh سبحانه وتعالى Dialah yang menciptakan seluruh makhluk tanpa terkecuali!

Seorang Ulama abad keempat; Imam Abu asySyaikh al-Ashbahâni (w. 369 H) menulis sebuah buku bagus berjudul Kitâb al-’Azhamah. Dalam kitab setebal lima jilid ini, beliau رحمه الله berusaha mengupas keagungan Allâh سبحانه وتعالى dan sebagian ciptaan-Nya. Beliau رحمه الله mengajak kita untuk bertafakkur dan merenungi keagungan Arsy Allâh سبحانه وتعالى , para Malaikat, langit, matahari, bulan, bintang, awan, hujan, halilintar, kilat, angin, bumi, laut, gunung, pepohonan, binatang dan lain sebagainya.

Sekedar contoh: kehebatan penciptaan langit dan tetumbuhan.

Allâh menceritakan bagaimana langit dibangun tanpa memakai tiang satupun!

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا

Allâh yang mengangkat langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat. (QS. Ar-Ra’du/13:2)

Allâh سبحانه وتعالى juga mengajak kita berpikir bagaimana tetumbuhan yang berbagai macam bentuknya dan amat beragam buah, warna dan rasanya, ternyata semua disiram dengan satu jenis air!

وَفِى الْاَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّجَنّٰتٌ مِّنْ اَعْنَابٍ وَّزَرْعٌ وَّنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ٤

Di bumi terdapat tempat-tempat yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama. Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasa. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allâh) bagi orang-orang yang menggunakan akalnya. (QS. Ar-Ra’du/13:4)

Di akhir ayat di atas Allâh menjelaskan buah dari tafakkur akan ciptaan-Nya; yakni agar kita menyadari akan kebesaran Allâh سبحانه وتعالى .

Allâh sebagai pemilik dan penguasa alam semesta.

Kepemilikan dan kekuasaan Allâh سبحانه وتعالى atas alam semesta ini bersifat mutlak dan sempurna. Dialah yang memerintah dan melarang, memberi balasan kebajikan dan menghukum, memberi dan menahan pemberian, memuliakan dan menghinakan, mengangkat dan menjatuhkan, menghidupkan dan mematikan, serta murka dan ridha. Dia pula yang mengampuni dosa, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu orang yang terzhalimi, membalas orang yang menzhalimi, mengkayakan orang miskin dan memiskinkan orang kaya, memberi orang yang meminta, serta perbuatan-perbuatan lain yang menunjukkan kekuasaan hakiki dan kepemilikan mutlak Allâh سبحانه وتعالى . 31

Tentunya ini berbeda dengan kekuasaan manusia, yang seringkali hanya bersifat semu atau formalitas belaka. Seperti seorang yang dipasang sebagai penguasa suatu daerah, namun pada kenyataannya ternyata bukan dia yang menguasai daerah tersebut, dia hanyalah boneka. Sedangkan yang berkuasa di pasar adalah preman pasar, yang berkuasa di suatu komunitas tertentu adalah tokoh agama yang dikharismatikkan, yang berkuasa di salah satu bagian daerahnya adalah konglomerat, dan begitu seterusnya.

Allâh سبحانه وتعالى sebagai pengatur alam semesta.

Dikisahkan bahwa suatu hari, Imam Abu Hanîfah رحمه الله diajak berdebat oleh para ahli kalam yang kebetulan mereka mengingkari adanya pencipta dan pengatur alam semesta. Sebelum berdebat, Imam Abu Hanîfah رحمه الله berkata, “Sebelum membahas permasalahan ini, saya ingin bertanya, percayakah kalian bahwa di sungai Dijlah (sungai di kota Baghdad), ada sebuah perahu yang memuat sendiri ke atasnya berbagai jenis bahan pangan dan yang lainnya, berlayar sendiri dari satu tepi ke tepi lainnya, serta menurunkan barang-barang yang ada di atasnya juga dengan sendirinya, tanpa ada seorangpun yang menaikinya?”.

Serta merta mereka menjawab, “Mustahil! Itu tidak mungkin terjadi!”.

“Andaikan itu mustahil terjadi atas sebuah perahu. Mungkinkah itu terjadi atas seluruh alam semesta ini, langit dan buminya??!”. 32

Allâh سبحانه وتعالى berfirman (yang artinya): Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan tujuan) benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam, serta mengatur matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. (QS. Az-Zumar/39:5)

Belum lagi adanya pergantian musim sepanjang tahun. Bahkan adanya pengaturan sistem dalam tubuh kita sendiri! Semisal pemasukan bahan makanan, pencernaan, pengolahan, penyerapan sari yang dibutuhkan tubuh, lalu pembuangan sisanya. Juga adanya system dalam tubuh yang bisamemfi lter racun-racun dalam darah secara rutin oleh ginjal. Ditambah pertahanan darah putih dari virusvirus yang masuk ke dalam tubuh. Dan masih banyak fenomena pengaturan lainnya dalam tubuh kita.

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ ٢١

Dan (juga) dalam dirimu sendiri. Maka apakah kalian tidak memperhatikan?. (QS. Adz-Dzâriyât/51:21)

Pelajaran berharga dari merenungi makna Rabbul ‘alamin

  1. Dengan menghayati nama Allâh سبحانه وتعالىini, yakni Rabbul ‘âlamîn kita akan memetik banyak pelajaran berharga sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini. Di antara buah keimanan kita akan nama Allâh ini:

Dalam segala permasalahan, kesulitan, musibah dan yang semisal, kita hanya akan kembali kepada Allâh سبحانه وتعالى ; sebab di tanganNyalah segala sesuatu. Dialah Penguasa semua jagad raya ini dan Pemiliknya. Bukan kembali kepada para makhluk-Nya, apalagi kepada para dukun dan paranormal!

  1. Kita akan terjauhkan dan terhindarkan dari sifat sombong. Terkadang tatkala berhasil menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan orang lain, entah itu suatu penemuan ilmiah elektronik, peternakan, pertanian, atau apa saja, timbul dalam hati kita perasaan sombong; sebab merasa bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Andaikan kita bertafakur akan keagungan ciptaan Allâh سبحانه وتعالى, kita akan sadar betapa kecilnya kita, sebab yang menciptakan penemu karya ilmiah tersebut, yakni kita sendiri, ternyata adalah Allâh سبحانه وتعالى! Bukan hanya itu, Allâh سبحانه وتعالىpulalah yang menciptakan penemu teori Relativitas; salah satu ilmuwan terbesar yang pernah dimiliki bumi; Albert Einstein. Allâh سبحانه وتعالىjuga yang menciptakan penemu komputer; John von Neumann. Dan Allâh pula yang menciptakan segalanya, termasuk di dalamnya para pencipta dan penemu hal-hal yang menakjubkan di muka bumi.

Mengakui Allâhسبحانه وتعالى  sebagai Rabb (Tuhan), tapi mengapa beribadah kepada selain Dia? 33

Di lapangan, kerap kita menemukan orang berKTP Islam beribadah kepada selain Allâhk. Mulai dari makhluk hidup, semisal para Malaikat, Nabi, wali dan jin, hingga benda mati, semisal patung, kuburan, keris dan jimat. Namun jika mereka kita tanyai, “Siapakah Tuhan semesta alam, Penguasa langit dan bumi?”, niscaya rata-rata mereka akan menjawab, “Allâh!”.

Kenyataan ini bila dicermati, betul-betul merupakan suatu sikap plin-plan dan praktek amaliah yang amat kontradiktif dengan keyakinan.

Orang yang telah meyakini dengan sebenarnya bahwa Allâh سبحانه وتعالى satu-satunya Pencipta, Penguasa dan Pemelihara alam semesta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Mendatangkan manfaat, dan Yang Melindungi dari marabahaya –seharusnya ia mengiringi keyakinan ini dengan mengikhlaskan seluruh ibadah serta memurnikannya hanya untuk Allâh سبحانه وتعالى semata.

Dengan kata lain, bila dia meyakini bahwa Allâh سبحانه وتعالى satu-satunya Yang Menciptakannya dan Yang Memberinya rizki, mengapa dia tidak memurnikan seluruh ibadahnya kepada Allâh سبحانه وتعالى sebagai salah satu cara mengungkapkan syukurnya kepada Allâh? Mengapa dia masih memper sembahkan sebagian ibadahnya kepada Nyai Roro Kidul, Dewi Sri, Wali Songo, atau Syaikh Abdul Qadir Jaelani, dengan cara menyembelih qurban, memper sembahkan berbagai sesajian, menyeru mereka dengan dalih tawassul dan lain-lain? Apakah makhluk-makhluk tersebut yang telah menciptakan dia dan memberinya rizki??

Metode ini, yakni menuntut orang yang telah mengakui bahwa Allâh adalah Rabb. agar memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, banyak dipergunakan Allâh dalam al-Qur`an. Di antaranya, firman Allâh سبحانه وتعالى :

قُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَسَلٰمٌ عَلٰى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفٰىۗ ءٰۤاللّٰهُ خَيْرٌ اَمَّا يُشْرِكُوْنَ ۔ ٥٩ اَمَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ حَدَاۤىِٕقَ ذَاتَ بَهْجَةٍۚ مَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُنْۢبِتُوْا شَجَرَهَاۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗبَلْ هُمْ قَوْمٌ يَّعْدِلُوْنَ ۗ ٦٠

Katakanlah, ‘Segala puji hanya bagi Allâh dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilihNya. Apakah Allâh yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?’ Siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi serta yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kalian tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allâh ada sesembahan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS. An-Naml/27:59-60)

Di dalam ayat ini, Allâh سبحانه وتعالى mengingkari orangorang yang mengetahui bahwa Allâh-lah Yang Menciptakan langit dan bumi, Yang Menurunkan hujan dan Menumbuhkan pepohonan, tetapi mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allâh!

Di antara contoh bentuk penerapan metode ini: adalah perintah Allâh سبحانه وتعالى yang pertama kali dalam al-Qur`an :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai para manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS. Al-Baqarah/2:21)

Mengapa di dalam ayat ini Allâhk memerintah para manusia untuk beribadah kepada-Nya? Karena Dia-lah yang telah menciptakan mereka dan orangorang sebelum mereka.

Para Ulama Islam, termasuk ulama madzhab Syâfi ’î, juga telah meniti metode rabbani ini dalam menerangkan korelasi antara keyakinan bahwa Allâh سبحانه وتعالى merupakan Rabbul ‘alamin dengan kewajiban mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya.

Al-Baghawy (w. 510 H), tatkala menafsirkanayat ke-106 dari surat Yûsuf:

وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ

Kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allâh, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allâh”,

Beliau رحمه الله menjelaskan, “Dan di antara wujud keimanan mereka adalah jika ditanya, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, mereka menjawab, “Allâh”, dan jika ditanya, “Siapakah yang menurunkan hujan?”, mereka menjawab, “Allâh”. Meskipun demikian, mereka menyembah berhala dan berbuat syirik.”34

Az-Zarkasyi (w. 794 H) menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang Allâh سبحانه وتعالى tanyakan kepada kaum musyrikin dalam ayat ke-31 dari surat Yûnus:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup35, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’,

Seluruh pertanyaan-pertanyaan ini Allâh سبحانه وتعالى sampaikan sebagai alasan mengapa mereka harus bertakwa kepada-Nya dengan memurnikan seluruh ibadah untuk-Nya semata!

Az-Zarkasyi berkata, “Tatkala mereka mengakui semua hal ini, menjadi maka pas untuk berdalihdengan pengakuan tersebut atas mereka: jikalau yang mengerjakan ini semua adalah Allâh Yang tidak ada sesembahan selain Dia, maka mengapa kalian beribadah kepada selain-Nya disamping (juga beribadah kepada) Allâh?!”36

Fakhruddin ar-Râzy (w. 606 H) tatkala membawakan ayat di atas menjelaskan bahwa makna firman Allâh (yang artinya) “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”, “ (yaitu) Tidakkah kalian merasa takut untuk menjadikan berhalaberhala ini sebagai sekutu-sekutu Allâh dalam ibadah, padahal kalian telah mengakui bahwa seluruh kebaikan dunia dan akhirat itu bersumber dari rahmat Allâh dan kebaikan-Nya,37 dan kalian juga telah mengakui bahwa berhala-berhala ini sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun tidak membahayakan?”38

Masih banyak nukilan-nukilan dari para imam madzhab Syâfi ’iy yang senada dengan berbagai nukilan di atas.

Jadi, meyakini keesaan Allâh سبحانه وتعالى dalam rubûbiyah-Nya saja cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam agama Islam, jika diiringi dengan keyakinan bahwa hanya Allâh سبحانه وتعالى yang berhak atas semua ibadah para hamba-Nya.

Mengapa? Karena seluruh manusia, baik yang beriman maupun yang kafir, mereka meyakini rubûbiyyah Allâh, sebagaimana dijelaskan dalam fi rman-Nya:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗ

Sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka (kaum musyrikin), “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka menjawab, “Allâh”. (QS. AzZumar/39: 38)

Dan masih banyak ayat lain yang senada.

Meski kaum musyrikin telah meyakini hal tersebut, namun keyakinan tersebut belum cukup untuk memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Buktinya mereka masih dinyatakan sebagai orang musyrik dan tetap diperangi Rasûlullâh ﷺ , hingga mereka mau memurnikan seluruh peribadatan mereka hanya kepada Allâh سبحانه وتعالى semata. Dan inilah yang akan kita bahas dalam poin keempat berikut ini.

Keempat: Allâh Maha Esa dalam keberhakkanNya atas ibadah para hamba

Sisi ini biasa diistilahkan para Ulama dengan ulûhiyyah Allâh سبحانه وتعالى .

Imam ath-Thabary (w. 310 H) menjelaskan, “Dialah Allâh yang berhak atas ibadah segala sesuatu. Ibadah tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada-Nya, tidak pantas dipersembahkan kepada selain-Nya”.39

Allâh سبحانه وتعالى berfi rman:

ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗبَلْ هُمْ قَوْمٌ يَّعْدِلُوْنَ ۗ

Apakah ada sesembahan lain bersama Allâh? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)”. (QS. An-Naml/27:60)

Imam asy-Syaukâni (w. 1250 H) mengungkapkan keprihatinannya akan praktek yang dilakukan banyak orang di zamannya yang tidak sejalan dengan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ padahal mereka hapal ayat tersebut di luar kepala.

Kata beliau, “Alangkah anehnya perilaku sebagian kalangan yang berkumpul di sekeliling kuburan jasad yang telah terpendam di dalam tanah, sembari meminta berbagai kebutuhan yang tidak mampu diberikan kecuali oleh Allâh سبحانه وتعالى . Mengapa mereka tidak mengerti bahwa mereka telah terjerumus ke dalam kesyirikan? Tidak juga sadar bahwa mereka telah menyelisihi makna “la ilaha illallah” dan maksud dari : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Yang lebih aneh lagi, ada sebagian “ulama” yang mengetahui perilaku mereka tersebut, namun tidak mengingkarinya dan tidak menghalangi mereka untuk terjerumus ke dalam perilaku jahiliyah atau bahkan perilaku yang lebih parah dari itu… Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn”40.

Sebuah ayat dalam al-Qur’an yang sudah kita hapal di luar kepala, menjelaskan pada kita tentang prinsip mengikhlaskan ibadah hanyak kepada Allâh. Yakni fi rman-Nya:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”.

Ayat ini merupakan suatu ayat yang amat istimewa dan begitu agung, sampai-sampai sebagian Ulama salaf berkata, “Surat al-Fatihah merupakan inti dari al-Qur’an, sedangkan inti dari surat alFatihah adalah ayat ini”.41 Tidak heran jika Imam Ibnu Qayyim رحمه الله menulis sebuah buku fenomenal yang khusus mengupas kandungan ayat ini dan berbagai pembahasan yang berkaitan dengannya. Beliau beri judul “Madârij as-Sâlikîn baina Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în. Buku ini setebal tiga jilid!

Berikut tafsir ayat mulia ini:

“Hanya kepada-Engkaulah kami beribadah”.

Ibadah adalah: “Segala bentuk perbuatan ataupun perkataan, yang terlihat maupun tidak, yang dicintai Allâh dan diridhai-Nya”.42 Dan itu terangkum dalam dua kalimat; menjalankan ketaatan kepada Allâh سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya ﷺ serta menjauhi perbuatan maksiat. 43

Jika kita cermati, susunan kata dalam ayat di atas: obyeknya didahulukan atas predikat dan subyek. Dalam tata bahasa Arab, susunan tersebut memberi makna pembatasan dan pengkhususan44, yakni seluruh ibadah dibatasi khusus hanya untuk Allâh سبحانه وتعالى . 45 Juga memberi makna penekanan perhatian bahwa hal tersebut amatlah penting.46

Jadi makna ayat di atas adalah: persembahkan seluruh ibadah tanpa terkecuali hanya untuk Allâh سبحانه وتعالى semata. Dan inilah makna pengikhlasan ibadah untukAllâh سبحانه وتعالى . Jika ada yang ‘mendua’ dalam beribadah, dalam arti: sebagian ibadahnya dipersembahkan untuk Allâh سبحانه وتعالى dan sebagian yang lain untuk selain-Nya; maka praktek ini tidak dikategorikan ikhlas dalam beribadah, justru itulah yang dimaksud dengan syirik. Sebagian kalangan mengira bahwa seseorang dianggap melakukan perbuatan syirik jika mempersembahkan seluruh ibadahnya untuk selain Allâh سبحانه وتعالى , adapun jika ia beribadah kepada Allâh سبحانه وتعالى dan beribadah kepada selain-Nya maka tidak dianggap syirik. Pemahaman ini jelas keliru; sebab praktek kesyirikan kaum musyrikin pada zaman dahulu justru berupa menduakan sesembahan; mereka menyembah Allâh سبحانه وتعالى dan selain-Nya.

Tatkala menjelaskan makna hadits

“الإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَاتُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً …”.

Islam adalah engkau beribadah kepada Allâh dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun». (HR. Al-Bukhâri dan Muslim (I/115 no. 97) dari Abu Hurairah رضي الله عنه )

Imam an-Nawawi (w. 676 H) berkata, “Dalam hadits ini, perintah untuk beribadah kepada Allâh سبحانه وتعالى diiringi dengan larangan untuk mempersekutukanNya dengan suatu apapun; dikarenakan orang-orang kafir dahulu secara lahiriah beribadah kepada Allâh سبحانه وتعالى , namun di samping itu mereka juga beribadah kepada berhala-berhala yang mereka klaim sebagai sekutu Allâh سبحانه وتعالى . Maka Nabi ﷺ pun menafi kan keberadaan praktek tersebut (dalam ajaran Islam)”.47

Jadi jika ada di antara kaum Muslimin yang shalat dan puasa untuk Allâh سبحانه وتعالى , namun ia masih meminta-minta kepada para wali di kuburan mereka, atau masih menyediakan sesaji untuk Nyi Roro Kidul atau Ki Sapu Jagad; berarti ia belum dianggap mengikhlaskan ibadah untuk Allâh سبحانه وتعالى . Justru ia dianggap mempersekutukan-Nya, atau dengan kata lain telah berbuat syirik.

“Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”.

Ibnu Abbas رضي الله عنه menafsirkan ayat ini, “Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan untuk menjalankan ketaatan pada-Mu dan dalam semuaurusan kami”.48

Banyak sekali ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk meminta dan memohon pada Allâh سبحانه وتعالى , di antaranya firman Allâh سبحانه وتعالى :

وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ

Mohonlah pada Allâh sebagian dari karunia-Nya. (QS. An-Nisa’/4:32)

Juga sabda Nabi ﷺ :

“إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ، يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَك وَتَعَالى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ:”هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى، هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ؟” حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ”.

Jika setengah malam atau dua pertiganya telah lewat, Allâh tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia seraya berkata, “Adakah hamba yang memohon niscaya akan diberi? Adakah yang berdoa niscaya akan dikabulkan? Dan adakah yang meminta ampun niscaya ia akan diampuni?” hingga waktu Subuh datang”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه )

Sebaliknya, banyak pula hadits yang melarang kita untuk minta pada para makhluk. Dalam Shahîh Muslim (VII/133 no. 2400) diceritakan bahwa Nabi ﷺ telah membaiat banyak Shahabatnya untuk tidak meminta sesuatu apapun pada para manusia. Setelah peristiwa tersebut, manakala ada yang cemetinya terjatuh saat menunggangi onta, ia sama sekali tidak meminta tolong pada orang lain untuk memungutkan cemeti tersebut.

Jadi, kewajiban seorang hamba adalah memohon kepada Allâh سبحانه وتعالى bukan kepada sesamanya. Sebab sebuah permohonan mengandung unsur perendahan diri, penampakan kebutuhan serta pengakuan akan kemampuan pihak yang dimohon untuk mengabulkan permohonan tersebut dan membantu menghindarkannya dari marabahaya. Perendahan dan penghinaan diri tidaklah layak ditujukan melainkan hanya kepada Allâh سبحانه وتعالى ; sebab hal itu merupakanhakikat ibadah. Karena itulah, dahulu Imam Ahmad senantiasa berdoa pada Allâh سبحانه وتعالى , “Wahai Rabbi, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku untuk tidak sujud kepada selain-Mu, maka jagalah aku pula agar tidak meminta kepada selain-Mu”.

Allâh سبحانه وتعالى senang jika dimintai walaupun berulangkali, sebaliknya Dia murka jika tidak dimintai. Dia mampu untuk mengabulkan seluruh permintaan semua makhluk-Nya, tanpa mengakibatkan terkurangnya kekayaan-Nya sedikitpun. Berbeda dengan para makhluk-Nya; tidak suka jika dimintai, dan senang jika tidak dimintai; dikarenakan ketidakmampuan, kefakiran dan kekurangannya. Suatu saat Wahb bin Munabbih رحمه الله (w. 110 H) menasehati seseorang yang gemar ‘mendatangi’ para penguasa, “Celaka engkau! Mengapa engkau mendatangi mereka yang suka menutup pintunya, menampakkan kefakirannya dan menyembunyikan kekayaannya? Lalu engkau meninggalkan Dzat yang membuka pintu-Nya siang-malam, menampakkan kekayaan-Nya dan bahkan berkata, “Mintalah kepadaKu niscaya Kukabulkan!”.

Mengapa kita meminta tolong kepada Allâh سبحانه وتعالى bukan kepada selain-Nya?

Sebab seorang hamba tidak mungkin memenuhi seluruh kebutuhannya seorang diri, atau menghindarkan dirinya dari semua marabahaya serta meraih kebaikan dunia akhirat, tanpa ada pertolongan dari Allâh سبحانه وتعالى . Barangsiapa dibantu oleh Allâh سبحانه وتعالى maka ia akan meraih keberhasilan, sebaliknya siapapun yang ditinggalkan Allâh سبحانه وتعالى , maka dialah orang yang terlantar. Inilah realisasi dari makna “La haula wa la quwwata illa billah”. Kalimat mulia ini bermakna: tidak mungkin seorang mampu berpindah dari satu kondisi ke kondisi lainnya melainkan hanya dengan bantuan Allâh سبحانه وتعالى . Seorang insan tidak kuasa untuk menjalankan perintah agama, meninggalkan suatu perbuatan dosa, atau bersabar atas takdir, melainkan dengan pertolongan Allâh سبحانه وتعالى .

Barangsiapa enggan meminta pertolongan kepada Allâh سبحانه وتعالى dan mencarinya dari selainNya; niscaya Allâh سبحانه وتعالى akan menjadikan orang tersebut tergantung pada makhluk yang dimintaipertolongan itu dan pasti ia akan terlantar. Sebagian Ulama salaf berkata, “Wahai Rabbi, aku merasa heran dengan seseorang yang mengaku mengenal-Mu, mengapa ia berharap kepada selainMu? Aku juga merasa heran dengan seseorang yang mengaku mengenal-Mu, bagaimana mungkin ia meminta pertolongan kepada selain-Mu?49

Fenomena penyimpangan dalam prinsip ini

Prinsip mengikhlaskan seluruh ibadah dan permohonan tolong hanya kepada Allâh سبحانه وتعالى merupakan prinsip yang amat mendasar dan fundamental dalam agama Islam. Namun demikian, amat disayangkan tidak sedikit di antara kaum Muslimin yang belum memahaminya sehingga terjerumus ke dalam penyimpangan dalam masalah ini.

Ada sebagian kalangan yang dengan rutin dan khusyu’ melantunkan aurâd (wirid-wirid) yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allâh سبحانه وتعالى . Contohnya:

“الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَاسَيِّدِيْ يَارَسُوْلَ اللَّهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ”.

Shalawat dan salam untukmu wahai sayyidi, wahai Rasûlullâh, gamitlah tanganku, kemampuanku amat terbatas, bantulah aku!”.

Kalimat ini mereka baca 103 x.

“يَا شَيْخُ عَبْدَ القَادِرْ الجَيْلَانِيْ أَغِثْنِيْ”

Wahai Syaikh Abdul Qadir al-Jailany tolonglah aku!

Dua kalimat wirid di atas begitu jelas berisikan permohonan tolong kepada selain Allâh سبحانه وتعالى , dan ini merupakan kekeliruan yang amat besar, walaupun yang dimintai pertolongan adalah Rasûlullâh ﷺ atau Syaikh Abdul Qadir al-Jailany. Karena itu merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allâh سبحانه وتعالى . Apalagi Rasûlullâh ﷺ jelas-jelas pernah bersabda:

“إِذَا سَأَلْـتَ فَسأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ”.

Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allâh. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allâh. (HR. at-Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”)

Hadits ini senada dengan ayat kelima surat alFatihah di atas, bahkan menurut Imam Ibnu Rajab50, hadits tersebut dipetik dari ayat ini.

Maksud dari permohonan pada Allâh سبحانه وتعالى adalah berdoa serta berharap pada-Nya. Dan doa adalah ibadah, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi ﷺ 51. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh memohon kecuali pada Allâh dan tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya.

Berarti Anda tidak mengagungkan Rasul shallallahu’alahiwasallam dong!?

Inilah diantara argumen mereka untuk melegalkan penyimpangan akidah di atas. Ya, dengan dalih pengagungan terhadap Rasûlullâh ﷺ mereka mempertahankan wirid-wirid yang menyimpang dari ajaran Rasûlullâh ﷺ . Bahkan yang lebih parah, ada sebagian dari mereka yang berusaha mengesankan pada orang awam, bahwa pihak yang mengkritisi wirid tersebut tidak mengagungkan Rasûlullah Muhammadn! Tentu ini bisa dikategorikan dalam tindakan memutarbalikkan fakta dan harus diluruskan.

Hal pokok yang pertama kali yang perlu diketahui: mengagungkan Rasûlullâh ﷺ hukumnya wajib atas setiap kaum Muslimin, dan ini merupakan salah satu cabang besar keimanan. Cabang keimanan ini berbeda dengan cabang keimanan cinta kepada beliau52, bahkan pengagungan lebih tinggi derajatnya dibanding cinta. Sebab tidak setiap yang mencintai sesuatu, pasti ia mengagungkannya. Sekedar contoh: orang tua mencintai anaknya, namun kecintaan tersebut hanya akan mengantarkan untuk memuliakannya dan tidak mendorong untuk mengagungkannya. Beda dengan kecintaan anak kepada orang tuanya, yang akan mengantarkan untukmemuliakan dan mengagungkan mereka berdua.53

Pengagungan terhadap Rasûlullâh ﷺ bertempat di hati, lisan serta anggota tubuh.54 Dan pengagungan yang hakiki terhadap Beliau ﷺ tersimpulkan dalam empat kalimat: mempercayai berita yang bersumber dari Beliau ﷺ , mentaati perintahnya ﷺ , menjauhi larangannya ﷺ dan beribadah dengan tata cara yang disyariatkannya.55

Rasûlullâh ﷺ melarang kita untuk berlebihan dalam mengagungkannya

Secara garis besar, Allâh سبحانه وتعالى telah melarang kita dari sikap berlebihan dalam beragama, baik itu dalam keyakinan, ucapan maupun amalan. Sebagaimana dalam QS. An-Nisa’: 171.

Dan Nabi kita ﷺ telah melarang secara khusus dari sikap berlebihan dalam memujinya. Sebagaimana dalam sabdanya,

” لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى اِبْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ”.

Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hambaNya, maka ucapkanlah, “(Muhammad adalah) hamba Allâh dan Rasul-Nya. (HR. Al-Bukhâri (VI/478 no. 3445 –al-Fath) dari Umar bin Khaththab رضي الله عنه )

Rasûlullâh ﷺ juga mengingkari para Shahabat yang berlebihan dalam memujinya, karena khawatir mereka melampaui batas, sehingga terjerumus dalam hal yang terlarang. Juga demi menjaga kemurnian tauhid, agar tidak ternodai dengan kotoran syirik dan bid’ah. Beliau ﷺ sangat berhatihati dalam mengantisipasi hal tersebut, bahkan sampaipun dari hal-hal yang barangkali tidak dikategorikan syirik atau bid’ah.

Anas bin Mâlik رضي الله عنه bercerita :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ: “يَامُحُمَّدُ، يَاسَيِّدَنَا، وَابْنُ سَيِّدِنَا، وَخَيْرِنَا، وَابْنِ خَيْرِنَا!” فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ :يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكُمْ، وَلَايَسْتَهْوِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ، أَنَّا مُحَمَّدُ بْنُ عِبْدِ اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ، وَاللَّهِ مَاأُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِيْ فَوقَ مَنْزِلَتِيْ الَّتِيْ أَنْزَلَنِيْ اللَّهُ عَزَّوَجَلَّ”.

Suatu hari ada seseorang yang berkata, “Wahai Muhammad! Wahai sayyiduna (pemimpin kami), putra sayyidina! Wahai orang yang terbaik di antara kami dan putra orang terbaik di antara kami!”. Rasûlullâh ﷺ pun menjawab, “Wahai para manusia, hendaklah kalian berperpegang teguh dengan ketakwaan kalian! Jangan biarkan setan menyesatkan kalian. Aku adalah Muhammad bin Abdullah; hamba Allâh dan Rasul-Nya. Demi Allâh! Aku tidak suka kalian mengangkatku melebihi kedudukan yang telah Allâh tentukan untukku”. (HR. Ahmad (XX/23 no. 12551) dan dinilai shahih oleh adh-Dhiyâ’ al-Maqdisy (V/25 no. 1627) dan Ibn Hibban (XIV/133 no. 6240))

Dengan keterangan di atas, insyaAllâh telah terlihat jelas, mana bentuk pengagungan yang terpuji dan mana bentuk pengagungan yang tercela.

Ibn Hajar al-Haitamy رحمه الله  (w. 974 H) menasehatkan, “Wajib bagi setiap orang untuk tidak mengagungkan Nabi ﷺ melainkan dengan hal yang Allâh izinkan bagi umatnya, yaitu sesuatu yang layak untuk jenis manusia. Sesungguhnya melampaui batas tersebut akan menjerumuskan kepada kekafiran, -na’ûdzubillâhi min dzâlik. Bahkan melampaui batas pada sesuatu yang telah disyariatkan, pada asalnya akan mengakibatkan penyimpangan. Maka hendaknya kita mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dalilnya”.56

Beliau menambahkan, “Ada dua kewajiban yang harus dipenuhi: Pertama, kewajiban untuk mengagungkan Nabi ﷺ dan mengangkat derajatnya di atas seluruh makhluk.

Kedua, mengesakan ketuhanan dan meyakini bahwa Allâh Maha Esa dalam dzat dan perbuatanNya atas seluruh makhluk-Nya57. Barang siapa meyakini bahwa sesosok makhluk menyertai Allâh سبحانه وتعالى dalam hal tersebut; maka ia telah berbuat syirik. Dan barangsiapa merendahkan Rasûlullâh ﷺ di bawah derajatnya maka ia telah berbuat maksiat atau kafir.

Namun barangsiapa mengagungkan Beliau dengan berbagai jenis pengagungan dan tidak sampai menyamai sesuatu yang merupakan kekhususan Allâh سبحانه وتعالى , maka ia telah menggapai kebenaran, dan berhasil menjaga dimensi ketuhanan serta kerasulan. Inilah ideologi yang tidak mengandung unsur ekstrim atau sebaliknya”.58

Berarti Anda tidak menghormati Syaikh Abdul Qadir al-Jailany?!

Ini juga kalimat yang kerap terlontar dari lisan sebagian kalangan manakala dinasehati untuk tidak minta-minta pada Syaikh Abdul Qadir رحمه الله . Padahal sejatinya merekalah yang tidak mentaati nasehat-nasehat yang disampaikan beliau رحمه الله ! Jadi siapakah sebenarnya yang tidak menghormati beliau رحمه الله ??

Abdul Qadir al-Jailany menyampaikan petuahnya,

أَخْلِصُوْا وَلَاتُشْرِكُوْا، وَحِدُّوْا الحَقَّ، وَعَنْ بَابِهِ لَاتَبْرَحُوْا، سَلُوْهُ وَلَاتَسأَلُوْا غَيْرَهُ، اِسْتَعِيْنُوْا بِهِ وَلَا تَسْتَعِيْنُوْا بِغَيْرِهِ، تَوَكَّلُوْا عَلَيْهِ وَلَا تَتَوَكَّلُوْا عَلَى غَيْرِهِ”.

Ikhlaskanlah (ibadah kalian) dan jangan berbuat syirik! Tauhidkan Allâh dan janganlah kalian meninggalkan pintu-Nya! Mintalah pada-Nya dan jangan meminta kepada selain-Nya! Mohonlah pertolongan pada-Nya, dan jangan memohon kepada selain-Nya! Bertawakkallah pada-Nya, jangan bertawakkal kepada selain-Nya!59

Apakah keterangan di atas menunjukkan bahwa kita tidak boleh meminta tolong dalam hal apapun kepada orang lain?

Jika seorang Muslim bisa menyelesaikan urusannya sendiri tentu ini lebih utama, namun andaikan ia membutuhkan bantuan orang lain, dalam hal-hal yang mubah dan bisa dilakukan oleh makhluk, tidak masalah ia meminta tolong kepada orang lain. Dan yang dimintai tolong hendaklah membantu saudaranya. Dalam rangka merealisasikan perintah Allâh سبحانه وتعالى :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ

Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. (QS. Al-Mâidah/5: 2) 60

Adapun jika berkenaan dengan hal-hal yang diluar batas kemampuan makhluk, maka hal itu terlarang.

Imam an-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa seorang hamba yang membutuhkan pertolongan dalam urusan dunia maupun akhirat, hendaklah meminta pertolongan kepada Allâh سبحانه وتعالى , apalagi jika urusan tersebut tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allâh سبحانه وتعالى , seperti kesembuhan, karunia rizki atau hidayah.61

EPILOG

Setelah pemaparan ini, masih adakah insan yang tetap bertahan untuk terus ‘mendua’kan Allâh  ?

Semoga Allâh سبحانه وتعالى melindungi dan menjaga kita semua dari semua jenis perbuatan syirik, baik yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui, yang kita sadari ataupun yang tidak sadari.

Footnote:

1 Lihat: Tafsir Ibn Katsir (VII/96).

2 Lihat: Tafsir al-Qurthubi (XIV/188).

3 Tafsîr Ibn Katsîr (VIII/527).

4 Tafsîr Surah al-Ikhlash (II/538).

5 Ibid (XXX/615).

6 Lihat: Al-Mausû’ah al-Muyassarah fî al-Adyân wa al-Madzâhib wa al-Ahzâb al-Mu’âshirah (II/726).

7 Cermati: Tafsîr Hadâ’iq ar-Rauh wa ar-Raihân karya Muhammad al-Amin al-Harary (XXXII/441).

8 Lihat: Tafsîr as-Sa’dy (hlm. 866) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hlm. 350).

9 Baca: Fiqh al-Asmâ’ al-Husnâ (hlm. 183).

10 Periksa: Tafsîr Sûrah al-Ikhlâsh, sebagaimana dalam Majmû’ah Rasâ’il al-Hafi zh Ibn Rajab al-Hambaly (II/542).

11 Lihat: Tafsîr Sûrah al-Ikhlâsh, sebagaimana dalam Majmû’ah Rasâ’il al-Hafi zh Ibn Rajab al-Hambaly (II/542) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hlm. 350).

12 Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hlm. 350).

13 Cermati: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/558).

14 Periksa: Tafsîr Sûrah al-Ikhlâsh, sebagaimana dalam Majmû’ah Rasâ’il al-Hafi zh Ibn Rajab al-Hambaly (II/545).

15 Fiqh al-Asmâ’ al-Husnâ (hal. 87). Cermati pula: Mufradât Alfâzh al-Qur’ân karya ar-Raghib al-Ashfahany (hal. 269), Jâmi’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân karya al-Îjî (hal. 112), Tafsîr Ibn Katsîr (I/678).

16 Fiqh al-Asmâ’ al-Husnâ (hlm. 87).

17 Ibid (hlm. 130).

18 Lihat: Kitâb at-Tauhîd karya Imam Ibn Khuzaimah (I/114) dan Fiqh al-Asmâ’ al-Husnâ (hlm. 130).

19 Cermati: Kitâb at-Tauhîd (I/114-115).

20 Fiqh al-Asmâ’ al-Husnâ (hlm. 133).

21 Syarh Kalimat al-Ikhlâsh karya Imam Ibn Rajab (hlm. 49).

22 Fiqh al-Asmâ’ al-Husnâ (hlm. 126).

23 Ibid.

24 Ibid (hlm. 129).

25 Periksa: Tuhfah al-Maudûd bi Ahkâm al-Maulûd karya Imam Ibn al-Qayyim (hlm. 211), Tafsîr Ibn Katsîr (VIII/527-528) dan Tafsîr Sûrah al-Ikhlâsh (II/538, 540).

26 At-Tamhîd li Syarh Kitâb at-Tauhîd oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh (hlm. 6).

27 Ibid (hlm. 287).

28 Cermati: Al-Asnâ fî Syarh Asmâ’illah al-Husnâ karya Imam al[1]Qurthuby (I/339)

29 Lihat: Tafsîr ath-Thabary (I/142-143) dan Tafsîr Juz ‘Amma (hlm. 14).

30 Lihat: Tafsîr ath-Thabari (I/144-145) dan Tafsîr al-Qurthubi (I/213-214).

31 Lihat: Juhûd al-Imâm Ibn Qayyim al-Jauziyyah fî Taqrîr Tauhîd al-Asmâ’ wa ash-Shifât karya Dr. Walîd bin Muhammad al-’Aliy (II/1295-1296).

32 Syarh al-’Aqîdah ath-Thahâwiyyah karya Imam Ibn Abi al-’Izz (I/135).

33 Dinukil dengan beberapa penyesuaian dari buku kami yang berjudul “Imam Syafi ’i Menggugat Syirik” (hlm. 57-63).

34 Tafsîr al-Baghawi: IV/283.

35 Contoh mengeluarkan yang hidup dari yang mati, seperti menumbuhkan berbagai jenis pohon dan tetumbuhan dari bebijian, burung dari telur, mukmin dari kafir dan yang semisal. Adapun mengeluarkan yang mati dari yang hidup, misalnya adalah: kebalikan dari contoh-contoh di atas. Lihat: Tafsîr as[1]Sa’dy (hlm. 320)

36 Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur’ân: IV/9.

37 Dr. Abdullah al-’Anqary berkata, “Perkataan ar-Razy, ‘Padahal kalian telah mengakui bahwa seluruh kebaikan dunia dan akhirat itu bersumber dari rahmat Allâh dan kebaikan[1]Nya’ adalah musykil (problem) karena sebagian besar kaum Musyrikin —apalagi di Mekkah— tidak mengakui adanya akhirat. Adapun kebaikan-kebaikan dunia, maka betul seperti apa yang dipaparkannya. Wallahu a’lam.” Lihat Juhud asy-Syâfi ’iyyah fi Taqrîr Tauhîd al-’Ibâdah, hlm. 177.

38 Tafsîr ar-Râzy: XVII/91.

39 Tafsîr ath-Thabari (XXIV/729).

40 Fath al-Qadîr (I/970).

41 Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (I/134).

42 Al-’Ubûdiyyah karya Ibn Taimiyyah (hlm. 4) dan al-’Iqd ats-Tsamîn karya as-Suwaidy (hlm. 69).

43 Lihat: Fath al-Bâry (XI/412).

44 Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (I/134) dan Tafsîr as-Sa’dy (hlm. 22).

45 Lihat: Ibid dan Tafsîr al-Jalalain (hlm. 10).

46 Lihat: Tafsîr al-Qurthubi (I/224).

47 Syarh Shahîh Muslim (I/116).

48 Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam Tafsîrnya (I/160).

49 Lihat: Jâmi’ al-’Ulûm wa al-Hikam (hlm. 358-362).

50 Lihat: Ibid).

51 Dalam HR. Abu Dawud (II/109 no. 1479) dan dinyatakan “hasan sahih” oleh at-Tirmidzy (hlm. 651 no. 2968). Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb (II/275 no. 1627) menilai shahih hadits ini.

52 Lihat: Al-Minhâj fî Syu’ab al-Îmân karya al-Halîmy (II/124) dan al-Jâmi’ li Syu’ab al-Îmân karya al-Baihaqy (III/95).

53 Lihat: Al-Minhâj fî Syu’ab al-Îmân (II/124).

54 Lihat penjabarannya dalam Huqûq an-Nabi ﷺ ‘alâ Ummatih fî Dhau’i al-Kitâb wa as-Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimy (II/466-478).

55 Lihat: Ar-Radd ‘alâ al-Akhnâ’iy karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah (hlm. 18) dan al-Ushûl ats-Tsalâtsah wa Adillatuhâ karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (hlm. 23).

56 Al-Jauhar al-Munazham fî Ziârah Qabr an-Nabi ﷺ wa Karram (hlm. 64) dinukil dari Ârâ’ Ibn Hajar al-Haitamy al-I’tiqâdiyyah ‘Ardh wa Taqwîm fî Dhau’i ‘Aqîdah as-Salaf karya Muhammad bin Abdul Aziz asy-Syayi’ (hlm. 450).

57 Begitu pula dalam peribadatan kepada Allah سبحانه وتعالى .

58 Al-Jauhar al-Munazham (hlm. 13) dinukil dari Ârâ’ Ibn Hajar al-Haitamy al-I’tiqâdiyyah.

59 Al-Fath ar-Rabbâny, al-majlis 47 (hal. 151) sebagaimana dalam asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jailany wa Ârâ’uhu al-I’tiqâdiyyah karya Dr. Sa’id bin Musfir al-Qahthany (hal. 147).

60 Lihat: Tafsîr Juz ‘Amma (hal. 19).

61 Lihat: Syarh al-Arba’în Hadîtsan an-Nawawiyyah karya Imam an-Nawawy (hal 53-54).

                         Majalah As-Sunnah Edisi 08/Thn XVIII/Shafar 1436H/Desember 2014M

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Responses (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.