Sultan Mahmud Subuktikin رحمه الله Penakluk India dan Penghancur Berhala

oleh -979 Dilihat
oleh
Sultan Mahmud Subuktin

Keberadaan berhala-berhala termasuk simbol syirik yang tidak semestinya berada dalam lingkungan kaum Muslimin. Hal itu dikarenakan merupakan perwujudan syirik kepada Allâh سبحانه وتعالى , disembah dan diagungkan sebagaimana pengagungan kepada Allâh سبحانه وتعالى . Maka, sudah menjadi kewajiban pemegang kekuasaan untuk tidak membiarkannya begitu saja, tanpa usaha untuk melenyapkannya..

Sejarah Islam telah memaparkan bagaimana Nabi mengutus sejumlah Sahabat ke daerah-daerah tertentu untuk menghancurkan berhala-berhala yang memang dahulu disembah dan diagungkan di sana. Jazirah Arab yang dahulu penuh dengan berhala, akhirnya bersih dari sumber-sumber paganisme. Demikian juga Khulafa Rasyidîn ketika memegang tampuk pemerintahan, mereka memberikan perhatian kepada masalah ini demi kemurnian tauhid kaum Muslimin. Misi penting inilah yang juga dipertontonkan oleh tokoh kita sekarang, Sultan Mahmud Subuktikîn رحمه الله.

Nasab Mahmûd Subuktikîn رحمه الله

Beliau adalah Abul Qâsim Mahmûd putra Sayyidul Umarâ Nâshirud Daulah Subuktikîn at-Turki. Penguasa Khurasan, India dan wilayah lainnya. Lahir tahun 361H. Wafat pada bulan Jumadil Ula tahun 421H.1

Beliau dikenal sebagai orang yang tulus dalam menegakkan agama, banyak memenangkan peperangan melawan kaum kuffar, cerdas dan memiliki kebijakan yang lurus

Aqidah Sultan Mahmûd رحمه الله

Ada dialog menarik yang terjadi antara Sultan Mahmuud dengan seseorang bernama Ibnu Fauruk. ‘Ali bin Husain al-Ukbari mendengar Mahmud bin Ahmad bin Muhammad al-Bajali menceritakan, “(Suatu hari) Ibnu Fauruk mendatangi Sultan Mahmûd seraya berkata (di hadapannya), “Allâh سبحانه وتعالى tidak boleh disifati dengan fauqiyyah (berada di atas), sebab itu berkonsekuensi harus disifati tahtaniyyah (berada di bawah juga). Dzat yang memiliki sifat di atas, maka dzat itu juga bisa memiliki sifat berada di bawah”.

Sultan Mahmûd menyanggahnya dengan berkata, “Bukan aku yang berkata demikian (Allâh berada di atas) sehingga aku harus mengatakan konsekuensinya. Akan tetapi, Allâh سبحانه وتعالى sendiri yang mensifati dzat-Nya (dengan berada di atas)”.

Mendengar jawaban ini, Ibnu Fauruk terdiam seribu bahasa. 2

Inilah yang menjadi kewajiban umat, menetapkan segala sifat yang telah Allah tetapkan bagi dzat-Nya dan menetapkan segala sifat yang ditetapkan Rasulullah bagi Allâh سبحانه وتعالى tanpa melakukan takwil, takyîif, (mencari tahu bagaimana bentuknya), ta’thîl (menafi kannya), tasybîh (menyerupakannya dengan sifat makhluk).

Sultan Mahmûd Subuktikîn رحمه الله, penakluk India

Banyak laga peperangan fi sabilillah yang diarungi oleh Sultan Mahmûd semasa hidupnya, sehingga daerah kekuasannya pun meluas. Wilayah India termasuk daerah yang beliau taklukkan. Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar mengalungkan gelar penakluk India kepada Sultan Mahmûd atas jasa dan usahanya menaklukkan wiyalah tersebut sehingga masuk dalam pangkuan Islam3 . Adz-Dzahabi رحمه الله berkata, “Peperangan Sultan Mahmûd رحمه الله terkenal lagi banyak. Penaklukan wilayah-wilayah baru yang beliau lakukan sangat mengesankan”.

Penghancuran Berhala Keramat

Pada masa itu, di wilayah India terdapat berhala (patung) terbesar yang diagungkan dan disembah oleh masyarakat, dikenal dengan nama Sumnat. Orang-orang pun mendatanginya dari berbagai penjuru layaknya Ka’bah bagi kaum Muslimin. Sementara bagi orang yang belum bisa mengunjunginya, tersimpan kerinduan yang hebat dalam hatinya.

Mereka meyakini bahwa berhala ini mampu menghidupkan dan mematikan. Para pemuja ini menyumbangkan berbagai macam kekayaan dan harta benda untuknya. Maka tidak mengherankan, ‘wakaf-wakaf’ yang dimiliki oleh berhala ini sangat banyak, berupa ribuan desa dan kota-kota yang terkenal. Dua ribu orang menjadi pelayan bagi berhala ini.

Kabar tentang berhala besar yang diagungkan di India dan banyaknya orang yang memuja dan menyembahnya sampai ke telinga Sultan Mahmûd ini. Namun perjalanan ke tempat tersebut sangat jauh dan penuh rintangan. Membutuhkan waktu selama sebulan untuk sampai ke sana.

Selanjutnya, sang Sultan melakukan istikhorah kepada Allâh سبحانه وتعالى untuk menjalankan misi melenyapkan berhala. Bersama 30 ribu pasukan ditambah dengan para sukarelawan, beliau berangkat menuju tanah India dan berhasil menginjakkan kaki -dengan izin Allâh سبحانه وتعالى– ke negeri tempat berhala tersebut dengan selamat. Dalam tiga hari, beliau bersama pasukannya berhasil menguasai daerah tersebut.

Imam Ibnu Katsîr رحمه الله menyampaikan bahwa tidak sedikit ahli sejarah yang menyatakan bahwa bangsa India menawarkan kekayaan besar kepada Sultan Mahmûd agar berkenan mengurungkan niat dalam menghancurkan berhala itu. Mendengar tawaran ini, beliau berkata, “Saya akan istikhoroh dahulu”. Keesokan harinya, beliau menegaskan prinsipnya dengan berkata, “Setelah aku pikir-pikir tentang masalah ini, sungguh pada hari Kiamat nanti aku lebih suka dipanggil mana Mahmûd yang telah menghancurkan berhala ketimbang dipanggil manakah Mahmûd yang membiarkan berhala demi meraih kenikmatan dunia”. Selanjutnya, beliaupun tetap pada pendiriannya dan menghancurkan berhala sesembahan bangsa India dan sekitarnya ini.

Berbagai macam batu mulia dan emas dalam jumlah yang sangat banyak tersimpan di dalam berhala besar ini. Berhala itu berhasil diporakporandakan dan kemudian dibakar. 4

Kesimpulan

Menjadi kewajiban pemimpin Islam untuk menjaga aqidah rakyat yang dipimpinnya. Segala hal yang dapat menyimpangkan rakyat dari keyakinan yang lurus dan akhlak buruk harus disirnakan. Wallâhu a’lam. (Abu Minhal)

Sumber:

Siyar A’lâmin Nubalâ, adz-Dzahabi, Al-Bidayâh wan Nihâyah , Ibnu Katsir Tahdzîrul Muslimîn min al-Ghuluwwi fî Qubûril ash-Shâlihîn, Muhammad bin ‘Abdullâh al-Imâm, Cet. I, Thn.2006, Dar Imam Ahmad


Footnote:

1 Siyar A’lâmin Nubalâ 17/488

2 Siyar A’lâmin Nubalâ 17/487

3 Siyar A’lâmin Nubalâ 17/483

4 Usai mengetengahkan kisah ini, Imam Ibnu Katsir رحمه الله mendoakan semoga Allâh سبحانه وتعالى memberi balasan besar bagi Sultan Mahmud dan merahmati beliau atas usaha baiknya yang akan terus dikenang oleh umat. (Al-Bidayâh wan Nihâyah 12/463)

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.