Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

Haram Berbuat Zhalim

Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas

0

Bagian Kedua dari 2 Tulisan

Berikut kami sajikan lanjutan penjelasan hadits Qudsi tentang Larangan Berbuat Zhalim yang dimuat dalam Majalah As-Sunnah edisi 04 Tahun XIII (Redaksi).

  1. Kerajaan Allah سبحانه وتعالى tidak akan bertambah dengan ketaatan hamba-Nya dan tidak akan berkurang dengan perbuatan maksiat hamba-Nya.

Firman Allah سبحانه وتعالى : “Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian semua seperti hati salah seorang dari kalian yang paling bertakwa, maka itu semua sedikit pun tidak menambah kerajaan-Ku. Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian semua seperti hati salah seorang dari kalian yang paling jahat, maka itu semua sedikit pun tidak mengurangi kerajaan-Ku.”

Firman Allah سبحانه وتعالى di atas adalah isyarat bahwa kerajaan Allah سبحانه وتعالى tidak bertambah dengan ketaatan makhluk, kendati mereka semua orang baik-baik dan bertakwa dan hati mereka seperti hati orang yang paling bertakwa di antara mereka. Firman Allah سبحانه وتعالى di atas juga sebagai dalil bahwa kerajaan Allah سبحانه وتعالى tidak berkurang dengan kemaksiatan orang-orang yang bermaksiat, kendati jin dan seluruh manusia bermaksiat dan menjadi orang-orang jahat, serta hati mereka seperti hati orang yang paling jahat di antara mereka; karena Allah سبحانه وتعالى Maha kaya (tidak membutuhkan) dengan dzat-Nya siapa saja selain diri-Nya dan mempunyai kesempurnaan mutlak pada Dzat, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Jadi, kerajaan Allah سبحانه وتعالى adalah kerajaan yang sempurna dan tidak berkurang karena suatu apa pun.1

Hadits ini menyatakan bahwa seandainya seluruh makhluk-Nya berada dalam sifat kebaikan dan takwa hamba-Nya yang paling sempurna, maka itu sedikit pun tidak menambah kerajaan-Nya. Dan seandainya mereka berada dalam sifat kejahatan hamba-Nya yangpaling jahat, maka itu sedikit pun tidak mengurangi kerajaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Allah سبحانه وتعالى itu sempurna dalam kondisi apa pun; tidak bertambah atau sempurna dengan ketaatan-ketaatan, menjadi tidak berkurang dengan kemaksiatan-kemaksiatan, dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mempengaruhi kekuasaan Allah سبحانه وتعالى .

Di sini terdapat dalil bahwa pokok takwa dan kejahatan adalah hati. Jika hati telah baik dan bertakwa, maka seluruh organ tubuh menjadi baik. Sebaliknya, jika hati jahat, maka seluruh organ tubuh menjadi jahat,2 seperti disabdakan Nabi ﷺ ,

التَّقْوَى هَاهُنَا

Takwa itu di sini

Dan beliau berisyarat ke dadanya.3

  1. Perbendaharaan Allah سبحانه وتعالى tidak akan pernah habis

Firman Allah سبحانه وتعالى : “Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian semua berada di tempat yang sama kemudian setiap dari kalian meminta kepada-Ku lalu Aku memberikan permintaannya itu, maka hal itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang mengurangi air laut jika dimasukkan ke dalamnya.”

Yang dimaksud dengan firman tersebut ialah ungkapan kesempurnaan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan kerajaan-Nya. Kerajaan dan perbendaharaan Allah tidak pernah habis dan tidak berkurang dengan pemberian, kendati Dia mengabulkan seluruh permintaan jin dan manusia generasi pertama hingga generasi terakhir di satu tempat. Di sini terdapat himbauan bagi manusia agar mereka meminta danmengajukan permohonan dan kebutuhannya kepada Allahk.4

Rasulullah ﷺ bersabda,

(( يَدُ اللَّهِ مَلَأَى، لَاتَغِيْضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ )) قَالَ: ((أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِيْ يَدِهِ …))

Tangan Allah penuh dan tidak berkurang oleh infak dan banyak memberi pada malam dan siang hari. Tahukah kalian apa yang telah Dia infakkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya itu semua tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya.5

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلَا يَقُلْ : اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمِسْأَلَةَ، وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

Jika salah seorang dari kalian berdoa, janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkehendak,’ namun hendaklah ia serius dalam meminta dan memperbesar keinginan, karena Allah tidak merasa berat dengan sesuatu yang Dia berikan.”6

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِيْ الدُّعَاءِ. وَلَا يَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئتَ فَأَعْتِنِيْ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا مُسْتَكْرِهَ لَهُ

Apabila salah seorang dari kalian berdoa maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, janganlah ia mengatakan, ‘Ya Allah, jika Engkau berkehendak, berikanlah kepadaku,’ karena tidak ada yang memaksa Allah. 7

Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه berkata, “Jika kalian berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى , tinggikan permintaan kalian, karena apa yang ada di sisi-Nya tidak bisa dikurangi oleh sesuatu apa pun.”

Apa yang ada di sisi Allah سبحانه وتعالى tidak berkurang sedikit pun, seperti firman Allah سبحانه وتعالى :

﴿ مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍۗ  ﴾

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal…” (Qs an-Nahl/16:96)

Jika satu jarum dimasukkan ke laut kemudian di angkat, maka sedikit pun air laut tidak berkurang. Begitu juga, jika burung pipit minum di laut, maka laut sedikit pun tidak berkurang. Oleh karena itu, Nabi Khidir عليه السلام membuat perumpamaan seperti itu untuk Nabi Musa عليه السلام tentang ilmu keduanya jika dibandingkan dengan ilmu Allah سبحانه وتعالى .8 Hal itu karena air laut selalu dipasok oleh seluruh air dunia dan sungai-sungainya yang mengalir. Jadi, meskipun diambil, maka tidak ada yang berkurang padanya, karena pasokannya lebih banyak daripada air yang diambil. Begitu juga makanan surga dan apa saja yang ada di dalamnya, maka tidak habis, seperti firman Allah سبحانه وتعالى :

﴿وَّفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍۙ ٣٢ لَّا مَقْطُوْعَةٍ وَّلَا مَمْنُوْعَةٍۙ ٣٣ ﴾

Dan buah-buahan yang banyak. Yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya. (Qs al-Wâqi’âh/56:32-33)

Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi ﷺ pada khutbah shalat Gerhana:

وَرَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُوْدًا، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا

Dan aku melihat surga kemudian aku memegang satu tandan daripadanya. Jika aku mengambilnya, kalian bisa memakannya selama dunia masih ada.9

  1. Amal-amal hamba semuanya tertulis di sisi Allah سبحانه وتعالى

Firman Allah سبحانه وتعالى : “Wahai hamba-Ku! Sesungguhnya itu semua adalah amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian kemudian Aku menyempurnakannya.”

Maksudnya, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى menulis seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya kemudian menyempurnakan pahala-Nya. Maka barangsiapa yang beriman dan beramal shalih maka ia mendapatkan ganjaran yang baik dan barangsiapa yang kafir dan durhaka maka ia mendapatkan akibat yang buruk.10 Firman Allah سبحانه وتعالى dalam hadits Qudsi ini seperti firman Allah سبحانه وتعالى dalam al-Qur‘ân:

﴿ فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ ٨ ﴾

Maka barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Qs az-Zalzalah/99:7-8)

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿  وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ ﴾

…Dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menzhalimi seorang pun.” (Qs al-Kahfi/18:49)

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗ…. ﴾

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu…” (Qs Ali ‘Imrân/3:30)

Dan firman Allah سبحانه وتعالى :

﴿ يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْاۗ اَحْصٰىهُ اللّٰهُ وَنَسُوْهُۗ ࣖ ﴾

Pada hari itu mereka semua dibangkitkan oleh Allah, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (amal perbuatan itu), meskipun mereka melupakannya…” (Qs al-Mujâdilah/58:6)

Firman Allah سبحانه وتعالى : “Kemudian Aku menyempurnakannya.”

Secara zhahirnya, yang dimaksud firman tersebut ialah penyempurnaan pahala di akhirat, seperti firman Allah سبحانه وتعالى :

﴿ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ ﴾

…Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…” (Qs Ali ‘Imrân/3:185)

Atau bisa jadi yang dimaksudkan adalah Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan pahala amal-amal hamba-hamba-Nya di dunia dan akhirat, seperti difirmankan Allah سبحانه وتعالى :

﴿ لَيْسَ بِاَمَانِيِّكُمْ وَلَآ اَمَانِيِّ اَهْلِ الْكِتٰبِ ۗ مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِهٖۙ وَلَا يَجِدْ لَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا ﴾

…Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu…” (Qs an-Nisâ’/ 4:123)

Karena diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau menafsirkan yang demikian. Beliau ﷺ bersabda bahwa kaum Mukminin diberikan balasan atas kesalahan[1]kesalahan mereka di dunia dan kebaikan-kebaikan mereka disimpan di akhirat, kemudian pahala-pahala kebaikan tersebut disempurnakan. Sedang orang kafir, pahala kebaikan-kebaikannya disegerakan di dunia dan kesalahan-kesalahannya disimpan di akhirat; kemudian ia disiksa karenanya di akhirat. Penyempurnaan perbuatan ialah penyempurnaan balasan; baik atau buruk. Keburukan dibalas dengan keburukan yang sama tanpa ditambahi; kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memaafkannya. Sedang kebaikan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus lipat atau hingga beberapa kali lipat yang hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى saja.11

  1. Memuji Allah سبحانه وتعالى atas segala nikmat dan karunia-Nya

Firman Allah سبحانه وتعالى : “Barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji Allah سبحانه وتعالى , dan barangsiapa mendapatkan selain itu maka janganlah ia sekali-kali mencela (menyalahkan) kecuali kepada dirinya sendiri.”

Ini merupakan isyarat bahwa seluruh kebaikan itu dari Allah سبحانه وتعالى sebagai karunia dari-Nya untuk hamba[1]Nya, sedang seluruh keburukan berasal dari manusia karena hawa nafsu mereka,12 seperti difirmankan Allah سبحانه وتعالى :

﴿ مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ﴾

Kebaikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri…” (Qs an-Nisâ’/ 4:79)

Jika Allah سبحانه وتعالى berkehendak memberikan bimbingan kepada hamba-Nya, Dia membantunya, membimbingnya untuk taat kepada-Nya, dan itu karunia dari-Nya. Jika Allah سبحانه وتعالى berkehendak menelantarkan hamba-Nya, Dia menyerahkannya kepada dirinya sendiri, dan meninggalkannya. Kemudian ia ditipu setan karena kelalaiannya untuk berdzikir kepada Allah سبحانه وتعالى , lalu ia mengikuti hawa nafsunya, melewati batas; dan itu keadilan dari-Nya. Karena sesungguhnya hujjah tetap ada pada seorang hamba dengan diturunkannya al-Qur‘ân dan diutusnya seorang rasul. Jadi, siapa pun dari manusia tidak mempunyai hujjah lagi pada Allah سبحانه وتعالى setelah pengutusan para rasul.13

Jika maksud hadits di atas ialah bahwa barangsiapa mendapatkan kebaikan di dunia, ia diperintahkan memuji Allah سبحانه وتعالى atas apa yang ia dapatkan, yaitu pahala-pahala perbuatannya yang shalih yang disegerakan kepadanya di dunia, seperti difirmankan Allah سبحانه وتعالى :

﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ﴾

Barangsiapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs an-Nahl/16:97)

Ia juga diperintahkan menyalahkan dirinya atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya karena dosa-dosa tersebut dipercepat akibatnya di dunia, seperti difirmankan Allah سبحانه وتعالى :

﴿ وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ﴾

Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs as-Sajdah/32:21)

Jadi, jika seorang Mukmin mendapatkan musibah di dunia, ia kembali kepada dirinya dengan menyalahkannya dan mengajaknya kembali kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dengan bertaubat dan beristighfar kepada-Nya.

Namun, jika yang dimaksudkan firman Allah سبحانه وتعالى di hadits tersebut ialah orang yang mendapati kebaikan dan keburukan di akhirat, maka itu penjelasan dari Allah سبحانه وتعالى bahwa orang-orang yang mendapatkan kebaikan di akhirat itu memuji Allah سبحانه وتعالى karena hal tersebut; dan orang-orang yang mendapatkan keburukan itu mengecam diri mereka sendiri pada saat kecaman tidak bermanfaat bagi mereka. Jadi, ungkapan tersebut adalah ungkapan perintah namun maknanya pemberian informasi, seperti sabda Nabi ﷺ :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا؛ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. (Muttafaqun alihi)

Maksudnya, pendusta itu sedang menyiapkan tempat duduknya di neraka.

Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tentang penghuni surga bahwa mereka memuji Allah سبحانه وتعالى atas karunia-Nya yang diberikan kepada mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُۚ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُ ……. ﴾

Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sunga-sungai. Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami…” (Qs al-A’râf/7:43)

Allah سبحانه وتعالى juga menjelaskan bahwa penghuni neraka mengecam diri mereka sendiri dan sangat membencinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh karena itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri…” (Qs Ibrâhîm/14:22)

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللّٰهِ اَكْبَرُ مِنْ مَّقْتِكُمْ اَنْفُسَكُمْ اِذْ تُدْعَوْنَ اِلَى الْاِيْمَانِ فَتَكْفُرُوْنَ ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada mereka (pada hari Kiamat) diserukan, ‘Sungguh, kebencian Allah (kepadamu) jauh lebih besar daripada kebencianmu terhadap dirimu sendiri, ketika kamu diseru untuk beriman lalu kamu mengingkarinya.’” (Qs al-Mu’min/40:10)

Para Ulama Salaf sangat bersungguh-sungguh dalam beramal shalih karena khawatir mencerca dirinya sendiri pada saat amal perbuatan terputus karena ia dulu lalai.

‘Amir bin ‘Abdu Qais berkata, “Demi Allah سبحانه وتعالى , aku pasti bersungguh-sungguh. Demi Allah سبحانه وتعالى , aku pasti bersungguh-sungguh. Jika aku selamat, itu karena rahmat Allah سبحانه وتعالى . Jika tidak, aku tidak menyalahkan diriku.”

Ziyad bin ‘Ayyasy berkata kepada Ibnul Munkadir dan Shafwan bin Sulaiman, “Bersungguh-sungguhlah dan waspadalah. Bersungguh-sungguhlah dan waspadalah. Jika segala sesuatu seperti yang kita harapkan, maka apa yang telah kalian berdua kerjakan adalah karunia. Jika tidak, kalian berdua tidak perlu menyalahkan diri kalian berdua.”14

 

FAWA-ID HADITS

  1. Periwayatan Nabi ﷺ dari Rabb-nya سبحانه وتعالى adalah tingkatan sanad yang paling tinggi, karena tingkatan akhir dari sanad ialah Allah سبحانه وتعالى pada hadits Qudsi, dan Rasulullah ﷺ pada hadits yang marfu’.
  2. Pengertian hadits Qudsi yang paling bagus ialah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi ﷺ dari Rabb-nya سبحانه وتعالى .
  3. Menetapkan bahwa Allah سبحانه وتعالى itu berbicara dengan suara sebagaimana yang ditunjukkan oleh al-Qur‘ân, Sunnah, dan ijmâ’ Salafush Shalih.
  4. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mampu berbuat zhalim akan tetapi Allah سبحانه وتعالى mengharamkannya atas diri-Nya karena kesempurnaan keadilan-Nya.
  5. Di antara sifat yang dinafikan dari Allah سبحانه وتعالى adalah zhalim, akan tetapi perlu diketahui bahwa tidak ada satu sifat pun yang dinafikan dari Allah سبحانه وتعالى melainkan lawan dari sifat itu yang ditetapkan. Maka menafikan sifat zhalim berarti menetapkan sifat adil yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun.
  6. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى berhak mengharamkan apa saja untuk diri-Nya karena hukum itu sepenuhnya milik-Nya.
  7. Yang dimaksud dengan nafsi (diri-Ku) dalam hadits ini ialah adalah dzat Allah سبحانه وتعالى .
  8. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mengharamkan berbuat zhalim di antara manusia.
  9. Sesungguhnya semua manusia itu sesat kecuali orang yang diberikan hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى , dari kaidah ini dapat diambil pelajaran bahwa kita diperintahkan untuk senantiasa memohon hidayah kepada Allah سبحانه وتعالى supaya kita tidak sesat dan tidak menyimpang.
  10. Anjuran untuk menuntut ilmu syar’i berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى dalam hadits Qudsi, “Setiap kalian adalah sesat.” Tidak diragukan bahwa menuntut ilmu adalah wajib dan sebaik-baik amal; apalagi pada zaman kita sekarang ini di mana kebodohan dan prasangka telah menyebar, serta orang yang tidak berhak berfatwa sudah berani berfatwa; maka menuntut ilmu pada zaman ini sangat ditekankan sekali.
  11. Hadits ini menunjukkan wajibnya memohon dan meminta kepada Allah سبحانه وتعالى semua kebutuhan yang bermanfaat bagi kehidupan agama dan dunia karena semua kebaikan itu ada di sisi Allah سبحانه وتعالى .
  12. Hidayah itu hanya boleh diminta dari Allah سبحانه وتعالى saja berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى , Hidayah yang dimaksud adalah hidayah taufîk dan hidayah bayân.
  13. Seorang Muslim wajib senantiasa memohon hidayah taufîk kepada Allah سبحانه وتعالى karena banyak manusia sangat membutuhkan hidayah dalam seluruh kehidupannya.
  14. Sesungguhnya seluruh manusia pada asalnya adalah dalam keadaan lapar karena tidak mampu menciptakan sesuatu pun yang dapat menghidupkan jasad-jasad mereka; kemudian Allah سبحانه وتعالى memberikan rezeki kepada mereka.
  15. Firman Allah, “Maka mintalah makanan kepadaku,” ini mencakup permintaan makanan kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencakup juga meminta usaha dalam mencari rizki dan karunia Allah سبحانه وتعالى , karena sudah diketahui bahwa langit itu tidak menurunkan emas maupun perak, maka wajib ada usaha untuk memperoleh rizki.
  16. Manusia pada asalnya adalah telanjang hingga Allah سبحانه وتعالى memberikannya pakaian dengan berbagai sebab yang ada.
  17. Tentang kedermawanan Allah سبحانه وتعالى . Dia سبحانه وتعالى menjelaskan kepada hamba-Nya keadaan mereka dan sangat butuhnya mereka kepada-Nya; kemudian Dia mengajak mereka untuk berdo’a kepada-Nya, sehingga hilanglah kefakiran dan kesulitan yang ada pada mereka.
  18. Bahwa seluruh anak Adam adalah banyak berbuat salah dan dosa.
  19. Wajib atas anak Adam untuk selalu bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى dan memenuhi syarat-syarat taubat.
  20. Bahwa sebanyak apapun dosa dan kesalahan manusia, Allah سبحانه وتعالى tetap akan mengampuninya; tetapi mereka wajib istighfâr (minta ampun kepada Allah سبحانه وتعالى ).
  21. Bahwa Allah سبحانه وتعالى mengampuni seluruh dosa orang yang beristighfâr berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى , “Maka minta ampunlah kepada-Ku.” Adapun orang yang tidak meminta ampun, maka dosa-dosa kecil dapat dihapuskan dengan amal shalih, sedang dosa-dosa besar harus dengan taubat secara khusus dan tidak bisa dihapus dengan amal-amal shalih. Sedangkan kekufuran maka ia harus dengan taubat berdasarkan ijma’ Ulama.
  22. Kesempurnaan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan tidak butuhnya Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hamba-Nya berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى , “Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian dapat membahayakan-Ku dan kalian tidak akan dapat memberi manfaat kepada-Ku sehingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku.”
  23. Hadits ini menunjukkan pentingnya kedudukan hati karena pokok dari ketakwaan dan perbuatan fasik adalah hati. Apabila hati istiqâmah maka seluruh anggota badan ikut dan apabila hati berbuat fasik maka rusaklah seluruh anggota badan.
  24. Hadits ini mengisyaratkan bahwa semua kebaikan dan keutamaan itu berada di tangan Allah سبحانه وتعالى ; yang dengannya Dia memberikan keutamaan itu kepada hamba-hamba-Nya sedangkan kejelekan dan kejahatan itu berasal dari diri mereka sendiri.
  25. Kesempurnaan kekayaan dan keluasan kekayaan Allah سبحانه وتعالى berdasarkan firman Allah kyang artinya: “Wahai hamba-Ku! Seandainya orang pertama dan terakhir dari kalian, manusia dan jin dari kalian semua berada di tempat yang sama…” ini menunjukkan luasnya kekayaan Allah سبحانه وتعالى dan luasnya karunia dan kedermawanan-Nya.
  26. Bahwa Allah سبحانه وتعالى menghitung seluruh amalan hamba-Nya dan tidak ada sedikit pun yang terluput.
  27. Bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak pernah menzhalimi seorang hamba sedikit pun, bahkan siapa yang mengerjakan suatu amalan maka dia pasti akan mendapati balasannya berdasarkan firman-Nya, “Kemudian Aku menyempurnakannya untuk kalian.”
  28. Wajibnya memuji Allah سبحانه وتعالى bagi orang yang mendapatkan kebaikan. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi: pertama, bahwa Allah سبحانه وتعالى telah memudahkannya melakukan perbuatan baik tersebut dan yang kedua, bahwa Allah سبحانه وتعالى memberikan ganjaran pahala atas perbuatan baiknya tersebut.
  29. Barangsiapa yang malas dan lalai dalam mengerjakan amal-amal sehingga dengan sebab itu ia tidak mendapatkan kebaikan di akhirat; maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.
  30. Hadits ini juga mengisyaratkan diperintahkannya introspeksi diri dan menyesal dari perbuatan dosa dan maksiat.

 

MARAJI’

  1. Al-Qur‘ân dan terjemahnya.
  2. Shahîhul-Bukhâri.
  3. Shahîh Muslim
  4. Musnad Imam Ahmad
  5. Sunan Abu Dawud
  6. Sunan at-Tirmidzi
  7. Sunan an-Nasâ‘i
  8. Sunan Ibnu Mâjah
  9. Al-Adabul Mufrad
  10. Musnad Abu Ya’la al-Mûshili.
  11. Mustadrak al-Hâkim.
  12. Syarah Shahîh Muslim lin Nawâwi.
  13. Riyâdhush Shâlihîn, karya Imam an-Nawâwi.
  14. Kitâbul Iman li Ibni Mandah.
  15. Al-Asmâ’ wash Shifât, karya Imam al-Baihaqi
  16. Shahîh al-Wâbilish Shayyib, karya Imam Ibnul Qayyim.
  17. Kasyful Ghithâ’ ’an Hukmi Simâ’il Ghinâ, karya Imam Ibnul Qayyim.
  18. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bâjis.
  19. Shahîh al-Adabil Mufrad, karya Syaikh al-Albâni.
  20. Qawâ’id wa Fawâ-id minal ‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nâzhim Muhammad Sulthân
  21. Al-Wâfi fî Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
  22. .Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn.

Footnote:

1 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/46-47).

2 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/47).

3 Shahîh: HR. Muslim (no. 2564), Ahmad (II/277), dan at-Tirmidzi (no. 1927) dari Abu Hurairah رضي الله عنه

4 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/47-48).

5 Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 4684), Muslim (no. 993),at-Tirmidzi (no. 3045) dari Abu Hurairah رضي الله عنه.

6 Shahîh: HR. Muslim (no. 2679) dari Abu Hurairah رضي الله عنه .

7 Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 6338) dan Muslim (no. 2678) dari Anas bin Mâlik رضي الله عنه .

8 Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 122, 3401, 4725, 4727), Muslim (no. 2380), at-Tirmidzi (no. 3149), Ibnu Hibbân (no. 6187 at-Ta’lîqâtul Hisân).

9 Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 1052), Muslim (no. 907), Ahmad (I/298), Ibnu Hibbân (no. 2821 at-Ta’lîqâtul Hisân) dari Ibnu ‘Abbâs رضي الله عنه .

10 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/51) dan Qawâ’id wa Fawâ-id (hlm. 219).

11 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/52).

12 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/52).

13 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/14 Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/53-55) dengan diringkas.

 

EDISI 05/THN. XIII/SYA’BAN 1430H/AGUSTUS 2009M

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More