Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

MUHAMMAD HUSAIN HAIKAL, MENGINGKARI MUKJIZAT-MUKJIZAT SELAIN AL-QUR`ÂN

0

Paham rasionalisme yang sangat memuja akal dan mendewakan ilmu pengetahuan sudah merasuki sebagian orang dari kalangan umat, termasuk kalangan yang dikenal dengan ‘intelektual Muslim atau pemikir Islam’. Sebuah ideologi yang berasal dari bangsa Barat (orang kafir) yang merangsek masuk ke hati umat Islam pasca kemunduran umat dan silaunya mereka dengan dunia Barat, dan tentunya karena umat jauh dari ajaran Islam yang murni.

Ideologi ini tidak memandang agama sebagai sesuatu yang sakral dan suci yang harus dihormati. Demikian juga, nash-nash syariat -al-Qur`ân dan Hadits-, tidak perlu diindahkan sama sekali bila bertentangan dengan akal. Akallah yang selalu mereka jadikan tumpuan dalam menilai, menghukumi dan menetapkan serta menerima sesuatu.

Di antara hal yang mereka ingkari dengan dalih bertentangan dengan nalar dan akal (mereka), ilmu pengetahuan dan sunnatul kaun (‘hukum alam’) yaitu keberadaan mukjizat para nabi secara umum, dan mukjizat Nabi Muhammad ﷺ secara khusus selain al-Qur`ân. Orang mengenal mereka sebagai pengusung panji madrasah ‘aqliyyah hadîtsah, perguruan rasionalisme kontemporer.

MUHAMMAD HUSAIN HAIKAL DAN KITAB HAYÂTU MUHAMMAD

Menulis buku berjudul Hayâtu Muhammad (kehidupan Muhammad). Sebuah kitab yang berisi tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ atau yang biasa dikenal dengan istilah kitab sirah. Akan tetapi, dalam penulisan kitab sejarah Nabi ini, sang penulis tidak sedikit pun menyertakan penyebutan mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad yang disebutkan para Ulama Hadits dalam kitab-kitab hadits mereka, seperti kehancuran tentara Abrahah, pembedahan dada Nabi, kisah Suraqah yang berniat membunuh Nabi, dan lainnya. Dalam pandangannya, mukjizat Nabi Muhammad hanya satu, yaitu al-Qur`ân. Selain itu, bukan mukjizat.

Ia berargumentasi, riwayat-riwayat yang berbicara tentang mukjizat Nabi – selain al-Qur`ân, merupakan hasil pemalsuan umat Islam dan kedustaan para ahli sejarah Islam (?!). Ia mengingkarinya karena bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan penalaran. Karenanya, menurutnya lagi, seorang Muslim bila hanya mengimani mukjizat al-Qur`ân saja, ini tidak mencederai akidah dan keimanannya. Ia pun melontarkan keragu-keraguan akan kebenaran hadits-hadits Nabi perihal mukjizat-mukjizat beliau, dengan mengungkapkan bahwa Ulama hadits hanya mengkritisi sanad semata, tanpa mengkritisi isi hadits (matan). Dalam menerima hadits, ia pun menggulirkan satu kaedah aneh, bahwa hadits disebut shahih jika sesuai dengan isi nash-nash al-Qur`an dan seiring dengan akal sehat dan ‘hukum alam’. Bila tidak didukung oleh nash al-Qur`an dan bertentangan dengan nalar maka hadits itu batil.(?! ). Demikian kaedah yang tentunya akan menyingkirkan hadits-hadits shahih yang telah dibukukan oleh para Ulama.

Oleh karena itu, ia pun menakwilkan Riwayat-riwayat tentang mukjizat dengan penakwilan yang bukan-bukan. Pernyataan-pernyataan dalam Hayâtu Muhammad diamini oleh Syaikh Musthafa al-Maraghi yang menggoreskan kata pengantar kitab tersebut. Dalam pengantarnya, ia membela penulis Hayâtu Muhammad dan membantah orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Ia pun menegaskan bahwa al-Qur`ân adalah satu-satunya mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang sah.

HANYA MENERUSKAN SYUBHAT ORIENTALIS BARAT

Syubhat yang terlontar dalam Hayâtu Muhammad terkait pengingkaran mukjizat-mukjizat yang telah ditetapkan Ulama dalam kitab-kitab hadits mereka dan juga ditulis secara sendiri dalam kitab-kitab bertajuk Dalâil Nubuwwah (dalil dan bukti kenabian Nabi Muhammad ﷺ ) hanyalah nukilan-nukilan dari Orientalis Barat.

Jadi, kebatilan yang memenuhi kitab Hayâtu Muhammad bukan barang baru lagi. Para Ulama Sunnah telah membantah syubhat-syubhat itu, diantaranya dengan menegaskan keabsahan haditshadits tersebut, mengungkap ketelitian para Ulama Hadits, usaha-usaha mereka dalam menjaga hadits Nabi yang tidak pernah terbetik dalam benak manusia sekarang. Wallâhu a’lam.

Al-Mauqiful al-Mu’âshir minal Manhajis Salafi fi l Bilâdil ‘Arabiyyah, DR. Mufarrij bin Sulaimân al-Qausi, Dâr Fadhîlah Cet. I Th. 2002. hlm. 33-34, 44-46

 

Majalah As-Sunnah EDISI 07/THN XV/DZULHIJJAH 1432H/NOVEMBER 2011M

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More