,

Hajrul Qur’an dan Macam-Macamnya

oleh -405 Dilihat
oleh
Hajrul Qur’an dan Macam-Macamnya

Al-Qur’an diturunkan oleh Allâh سبحانه وتعالى kepada Rasûlullâh ﷺ agar menjadi petunjuk bagi manusia, mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju kepada cahaya ilmu dan iman. Ia memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.

Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ … ﴾

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia. (QS. Al-Baqarah/2:185)

﴿ … قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ ١٥ يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ١٦ ﴾

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allâh, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allâh memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allâh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Mâidah/5:15-16)

Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus. (QS. Al-Isrâ’/17:9) Semua itu merupakan bukti rahmat Allâh kepada manusia yang seharusnya mereka syukuri dengan cara memenuhi hak-hak kitab-Nya tersebut, mengikuti petunjuk yang lurus yang ada di dalamnya. Namun, kenyataanya mayoritas manusia justru mengabaikannya dan berpaling darinya. Itulah fenomena “Hajrul Qur’an” yang masih dij umpai hingga saat ini. Dahulu Rasûlullâh ﷺ mengadu kepada Allâh سبحانه وتعالى tentang hal ini yang dilakukan oleh kaum musyrikin sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:

﴿ وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا ٣٠ ﴾

Berkatalah Rasul, “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqân/25:30)

Ketika Rasûlullâh ﷺ mendapati kaum musyrikin Quraisy berpaling dari al-Qur’an dan tak mau mendengarkan ayat-ayat yang Beliau ﷺ bacakan kepada mereka seperti yang Allâh ceritakan dalam firman-Nya:

﴿ وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ ٢٦ ﴾

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan al-Qur’an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fushshilat/41:26)

Akan tetapi saat ini, yang sangat memprihatinkan adalah manakala kita mendapati fenomena hajrul Qur’an ini justeru ada pada orang-orang yang menyatakan diri sebagai kaum Muslimin.

APAKAH HAJRUL QUR’AN ITU?

 Kata hajr ( ُالهجر ( dalam bahasa Arab adalah lawan kata dari washl ( الوصلُ ( yang bermakna menyambung. Dengan demikian kata hajr bermakna memutus. Sedangkan maksud dari hajrul Qur’an adalah meninggalkan al-Qur’an dan berpaling darinya, seperti tidak mengimaninya, tidak membacanya, tidak mau mendengarkannya, tidak mau memahami dan mentadabburinya, serta tidak mengamalkannya.

MACAM-MACAM HAJRUL QUR’AN

Terkait firman Allâh سبحانه وتعالى yang terdapat dalam surat al-Furqan ayat ke-30 di atas, Ibnu Katsir t mengatakan, “Allâh سبحانه وتعالى memberitakan tentang Rasul dan Nabi-Nya Muhammad -semoga shalawat dan salam senantiasa tecurah kepada beliau hingga hari pembalasan- yang berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an sesuatu yang tidak diacuhkan (diabaikan dan ditinggalkan).’ Dan hal itu karena kaum musyrikin tidak mau mendengarkan dan menyimak al-Qur’an sebagaimana yang Allâh سبحانه وتعالى ceritakan dalam firman-Nya:

 وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ ٢٦

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengarkan al-Qur’an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.”

Mereka (yaitu kaum musyrikin) ketika dibacakan al-Qur’an (oleh Rasûlullâh ﷺ ) banyak yang membuat kegaduhan dan berbicara yang lain sehingga tidak mendengarkannya. Ini merupakan bentuk hajr terhadap al-Qur’an. Tidak mau mempelajari dan menghafalkan al-Qur’an juga termasuk bentuk hajr terhadap al-Qur’an. Tidak mau mengimani dan tidak membenarkannya juga termasuk bentuk hajr terhadapnya. Tidak mau mentadabburi dan memahami maknanya termasuk pula bentuk hajr terhadapnya. Tidak mau mengamalkannya, tidak melaksanakan perintah-perintahnya, dan tidak menjauhi larangan-larangannya pun termasuk bagian dari hajr terhadapnya. Berpaling darinya dan lebih memilih selain al-Qur’an, seperti syair, pendapat (manusia), nyanyian, perbuatan sia-sia, perkataan (manusia), maupun mengambil jalan lain selain al-Qur’an, termasuk dari hajr terhadapnya.”1

Ibnul Qayyim t berkata, “Hajrul Qur’an itu ada beberapa macam.

  • Pertama, tidak mendengarkan, tidak mengimani, dan tidak memperhatikannya.
  • Kedua, tidak mengamalkannya dan tidak menegakkan apa yang dihalalkan dan diharamkannya walaupun seseorang itu membacanya dan mengimaninya.
  • Ketiga, tidak menjadikannya sebagai hukum dan tidak berhukum dengannya, baik menyangkut prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya, serta meyakini bahwa al[1]Qur’an tidak memberi faidah keyakinan dan bahwa petunjuk-petunjuknya bersifat tekstual semata yang tidak mengandung ilmu.
  • Keempat, tidak mentadabburinya, tidak memahami maknanya, dan tidak mengetahui apa yang diinginkan darinya oleh yang mengatakannya (yaitu Allâh).
  • Kelima, tidak menjadikannya sebagai obat untuk segala macam penyakit hati dan mencari obat penyakit hati tersebut dengan selainnya, serta tidak mengambilnya sebagai obat (bagipenyakit-penyakit badan, pen.). Walaupun sebagian bentuk ‘hajr’ tersebut lebih ringan dari sebagian yang lain.”2

Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir t dan Ibnul Qayyim t di atas mengenai macam-macam ‘hajrul Qur’an’, berikut kami akan paparkan beberapa di antaranya:

Pertama: Enggan Mendengar dan Menyimak Al-Qur’an

Mendengar dan menyimak bacaan al-Qur’an dengan seksama dapat mendatangkan rahmat dari Allâh سبحانه وتعالى sebagaimana dalam firman-Nya:

﴿ وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٢٠٤ ﴾

Dan apabila dibacakan al-Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’râf/7:204)

Bagi orang-orang yang beriman, mendengarkan ayat-ayat Allâh dengan seksama dapat menambah iman serta menjadikan hati mereka semakin khusyu’ dan takut kepada Allâh سبحانه وتعالى . Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢ ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfâl/8:2)

Allâh سبحانه وتعالى juga berfirman:

﴿ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۖ وَّمِنْ ذُرِّيَّةِ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْرَاۤءِيْلَ ۖوَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَاۗ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُ الرَّحْمٰنِ خَرُّوْا سُجَّدًا وَّبُكِيًّا ۩ ٥٨ ﴾

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allâh, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allâh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam/19:58)

Sebaliknya, enggan mendengar dan menyimak al-Qur’an akan menjadikan seseorang jauh dari rahmat Allâh dan dapat mengakibatkan imannya terkikis. Disamping juga, perbuatan ini menyerupai perbuatan yang dilakukan oleh kaum musyrikin dahulu yang diadukan oleh Rasûlullâh ﷺ kepada Allâh l seperti yang telah dij elaskan di atas.

Berpaling dari mendengarkan al-Qur’an karena keangkuhan akan menyeret seseorang kepada adzab yang pedih –kita berlindung kepada Allâh darinya- seperti yang telah Allâh firmankan:

﴿ وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا وَلّٰى مُسْتَكْبِرًا كَاَنْ لَّمْ يَسْمَعْهَا كَاَنَّ فِيْٓ اُذُنَيْهِ وَقْرًاۚ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ ٧ ﴾

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih. (QS. Luqmân/31:7)

Jika seseorang enggan mendengar dan menyimak al-Qur’an, tentu dia tidak akan melakukan hal-hal lain seperti membacanya, memahami maknanya, mentadabburinya, mengimaninya, dan mengamalkannya?

Kedua: Tidak Membaca Al-Qur’an

Membaca al-Qur’an merupakan bentukdzikir kepada Allâh سبحانه وتعالى yang paling agung. Membacanya saja dinilai sebagai ibadah, setiap hurufnya bernilai kebaikan yang akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Sebagaimana diterangkan oleh Rasûlullâh ﷺ dalam sabdanya:

(( مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَ الحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُوْلُ: ( الم) حَرْفٌ، وَلِكْن: أَلفٌ حَرفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ))

Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya memperoleh kebaikan, dan kebaikan tersebut dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan “alif lam mim” itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf, dan mim juga satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim. Hadits ini dinilai hadits shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîhul Jâmi’ no. 6469)

Subhanallah! Coba kita berpikir secara matematis, jika membaca satu huruf dari al[1]Qur’an akan memperoleh 10 kali lipat kebaikan, maka seandainya kita membaca satu halaman dari mushaf al-Qur’an yang di dalamnya terdapat sekitar 550 huruf misalnya, lalu kita kalikan dengan 10 kebaikan maka hasilnya adalah: 550X10 = 5,550 kebaikan. Jika setiap hari kita bisa membaca satu juz yang terdiri dari sekitar 20 halaman, maka hasilnya adalah: 20x550x10 kebaikan = 110,000 kebaikan. Dengan demikian, dalam satu bulan jika kita membaca seluruh mushaf al-Qur’an yaitu 30 juz yang berarti sama dengan sekitar 600 halaman, jadi hasilnya adalah: 600X550X10 kebaikan = 3,300,000 kebaikan dalam satu bulan. Jumlah yang sangat fantastis bukan?!

Karena itu, membaca al-Qur’an merupakan suatu perniagaan yang menguntungkan lagi mendatangkan banyak pahala dan keutamaan lain yang besar. Apalagi ketika diiringi oleh amal ibadah yang lain seperti shalat dan berinfak sebagaimana ditegaskan oleh Allâh dalam firman-Nya:

﴿ اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ ٢٩ لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ ٣٠ ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allâh dan mendirikan shalat dan menafk ahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allâh menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fâthir/35:29-30)

Di antara keutamaan membaca al-Qur’an adalah bahwa al-Qur’an akan memberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya. Nabi ﷺ bersabda:

اقْرَءُوا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يِأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim no. 804)

Sebaliknya, orang yang tidak mau membaca al-Qur’an maka dia akan merugi karena dia akan kehilangan banyak kebaikan, pahala, dan keutamaan.

Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa ketika kita membaca al-Qur’an maka hendaklah membacanya dengan tartil, baik di shalat maupun di luar shalat. Karena Allâh سبحانه وتعالى telah memerintahkannya dalam firman-Nya:

﴿ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ٤ ﴾

Dan bacalah al-Quran itu dengan tartil. (QS. Al-Muzzammil/73:4)

Yakni dengan perlahan-lahan dan memenuhi kaidah-kaidah bacaan al-Qur’an, yaitu tajwid, yang telah dij elaskan oleh para ulama.

Ketiga: Tidak Mau Memahami & Mentadabburi Makna Ayat-Ayat Al-Qur’an

Memahami dan mentadabburi (memperhatikan dan menghayati) makna ayat-ayat al-Qur’an merupakan suatu tuntutan yang wajib diperhatikan dan dij alankan oleh setiap hamba. Karena dengan cara itulah dia dapat mengingat keagungan Allâh سبحانه وتعالى , mengambil pelajaran, dan mengetahui petunjuk-petunjuk Allâh سبحانه وتعالى yang jelas yang akan mengantarkannya kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ٢٩ ﴾

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fi kiran.” (QS. Shad/38:29)

Mengabaikan hal ini, tidak peduli sama sekali dengannya, walaupun seseorang membaca al[1]Qur’an untuk berta’abbud (mencari pahala ibadah membaca), maka itu merupakan bentuk hajr terhadap al-Qur’an yang dapat mengakibatkan hati tertutup dan apa yang dibacanya dari ayat[1]ayat al-Qur’an tidak memberi bekas ke dalam jiwa dan kepribadiannya. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤ ﴾

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al[1]Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad/47:24)

Ini sebagai bentuk celaan dari Allâh سبحانه وتعالى terhadap orang-orang yang enggan mentadabburi ayat-ayat-Nya.

Seharusnya, ayat di atas mendorong kita untuk mempelajari bahasa al-Qur’an, yaitu bahasa Arab. Karena memahami bahasa Arab pasti akan sangat membantu kita dalam usaha mentadabburi (merenungi) ayat-ayat yang sedang kita sedang baca. Walau kita tidak menepis manfaat keberadaan terjemah-terjemah al-Qur’an yangada dan kita yakin bahwa itu sangat membantu juga untuk memahami makna-makna al-Qur’an, namun dengan mengerti bahasa al-Qur’an akan lebih menambah penghayatan kita terhadapnya membantu untuk lebih khusyu’ pada saat kita membacanya terutama ketika dalam shalat.

Keempat: Tidak Mengimani Al-Qur’an

Wajib atas semua manusia untuk mengimani al-Qur’an, karena ia adalah kitab Allâh yang terakhir yang Allâh سبحانه وتعالى turunkan kepada nabi dan rasul terakhir, yaitu Muhammad ﷺ , yang diutus kepada semua manusia. Allâh سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ :

﴿ وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ٢٨ ﴾

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’/34:28)

Juga firman-Nya:

﴿ قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا … ﴾

Katakanlah, “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allâh kepadamu semua …” (QS. Al-A’raf/7:158)

Oleh karena itu, Allâh سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk beriman kepada Rasûlullâh ﷺ dan kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya.

 ﴿ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ٨ ﴾

Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allâh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. At-Taghâbun/64:8)

Jika seseorang mau beriman kepada al-Qur’an, maka dia akan memperoleh petunjuk dan rahmat. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ وَلَقَدْ جِئْنٰهُمْ بِكِتٰبٍ فَصَّلْنٰهُ عَلٰى عِلْمٍ هُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ٥٢ ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf/7:52)

Petunjuk yang dimaksud dalam ayat di atas adalah petunjuk ilmu dan amal shalih, sedangkan kata rahmat maksudnya rahmat terbesar yang akan diraih dari mengimani al-Qur’an yaitu berupa surga yang penuh dengan kenikmatan.

Itulah diantara kebaikan yang akan diraih oleh orang-orang yang beriman, adapun orang[1]orang yang tidak beriman kepada al-Qur’an dan kufur terhadapnya, maka sejatinya dia telah kufur dan mendustakan Allâh سبحانه وتعالى serta Rasul-Nya. Prilaku kufur ini akan menyeretnya kepada kerugian yang nyata, kesesatan, kehinaan dan adzab yang pedih dalam api neraka –wal ‘iyadzu billah-. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

 ﴿ اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ ١٢١ ﴾

Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa kufur (ingkar) kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Baqarah/2:121)

Allâh سبحانه وتعالى juga berfirman:

 ﴿ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ ٤ ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allâh akan memperoleh siksa yang berat; dan Allâh Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (QS. Ali Imrân/3:4)

Nabi ﷺ bersabda:

والَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَايَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak ada seorangpun dari umat ini yang mendengar tentangku, baik seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah (al-Qur’an) yang aku bawa, melainkan dia pasti termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim, no. 153)

Kelima: Tidak Mengamalkan Petunjuk Al-Qur’an

Di antara konsekuensi iman terhadap al-Qur’an adalah mengamalkan petunjuk yang terkandung dalam al-Qur’an, melaksanakan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-Larangannya, membenarkan berita-beritanya, menghalalkan apa yang dihalalkannya, dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ اِتَّبِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ ….﴾

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. (QS. Al-A’râf/7:3)

Allâh سبحانه وتعالى juga berfirman:

﴿ اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ ١٥٧ ﴾

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’râf/7:157)

Dan Rasûlullâh ﷺ adalah orang pertama yang mengamalkan petunjuk al-Qur’an dan berakhlaq dengan akhlaqnya. Aisyah x ketika ditanya tentang akhlaq Rasûlullâh ﷺ , ia menjawab:

 كَانَ خُلُقُهُ القُرْآنَ

Akhlaqnya adalah al-Qur’an. (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud)

Barangsiapa mengamalkan petunjuk al-Qur’an maka dia akan menjadi orang yang beruntung sebagaimana dij elaskan di surat al-A’raf ayat ke-157 di atas. Dia akan memperoleh rahmat dari Allâh سبحانه وتعالى sebagaimana dalam firman-Nya:

﴿ وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ ١٥٥ ﴾

Dan al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (QS. Al-An’âm/6:155)

Dia tidak akan tersesat dan tidak pula akan sengsara, baik di dunia maupun di akhirat.

Allâh سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasul-Nya:

﴿ مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ ٢ اِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۙ ٣ ﴾

Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allâh). (QS. Thaha/20:2-3)

Allâh سبحانه وتعالى juga berfirman:

 ﴿ قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيْعًاۢ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚفَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى ١٢٣ ﴾

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha/20:123).

Adapun orang yang berpaling dari peringatan Allâh yang terdapat dalam al-Qur’an niscaya dia akan memperoleh kehidupan yang sempit di dunia dan akhirat, bahkan akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.

Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤ ﴾

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha/20: 124)

Keenam: Tidak Berpegang Dengan Hukum Al-Qur’an

Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

 ﴿ وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ ﴾

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurutapa yang Allâh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (QS. Al-Mâidah/5:48)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan akan kewajiban berhukum dan memutuskan segala perkara di antara manusia dengan al-Qur’an. Sementara dalam ayat-ayat sebelumnya (ayat ke-44, 45, dan 47) Allâh mencela mereka yang tidak mau berhukum dengan apa yang telah Allâh سبحانه وتعالى turunkan dan menyebut mereka sebagai orang-orang kafir, zhalim , fasik. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

﴿ ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ ٤٤ ﴾

Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang | diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Mâidah/5:44)

﴿ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ٤٥ ﴾

Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Mâidah/5:45)

﴿ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٤٧ ﴾

Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang M diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Mâidah/5:47)

Ketujuh: Tidak Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Obat Bagi Berbagai Penyakit.

Allâh سبحانه وتعالى telah menerangkan bahwa di antara kegunaan al-Qur’an, di samping sebagai petunjuk dan rahmat bagi para hamba-Nya, adalah bahwa ia bisa menjadi obat bagi beragam penyakit, baik itu penyakit hati dan jiwa dan ini yang paling utama, maupun berbagai badan.

Banyak manusia tidak yakin dengan hal ini, padahal Allâh سبحانه وتعالى telah jelas mengatakan:

﴿ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ٥٧ ﴾

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit[1]penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yûnus/10:57)

Allâh سبحانه وتعالى juga berfirman :

﴿ وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ٨٢ ﴾

Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian. (QS. Al-Isrâ/17:82)

Juga firman-Nya yang artinya: Katakanlah, “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang Mukmin.” (QS. Fushshilat/41:44)

Dan perkataan Allâh سبحانه وتعالى sudah pasti kebenarannya. Setelah itu, apakah pantas kita masih ragu tentang manfaat al-Qur’an sebagai obat penawar, baik bagi penyakit hati maupun badan? Sementara Rasûlullâh ﷺ sendiri, sebagai panutan kita, dan para Sahabatnya g telah menpraktekkan dan memberi contoh kepada kita, manakala mereka membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada orang-orang yang sakit atau untuk mengobati diri mereka sendiri dengan al-Al-Qur’an. Wallâhu a’lam.

Demikian yang bisa kami paparkan terkait beberapa macam bentuk hajrul Qur’an. Semoga Allâh memberi hidayah dan taufik-Nya kepada kita dan seluruh kaum Muslimin agar lebih memperhatikan hak-hak al-Qur’an.

Footnote:

  1. Tafsir Ibnu Katsir (6/108), cet. ke-2, thn. 1420 H/1999 M, Dar Thaibah, tahqiq Sami bin Muhammad Salamah.
  2. Al-Fawaid, karya Ibnul Qayyim (1/82), cet. ke-2 thn, thn. 1393 H/1973 M, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut.

Majalah As-Sunnah Edisi 05/ Tahun XIX/ Dzulqo’dah 1436H/September 2015M

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.