Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

Hadits Palsu Tentang Cara Menghadapi Penguasa Zhalim

Oleh : Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni,MA

0

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ : (( سَيَكُوْنُ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ جَوَرَةٌ، فَمَنْ خَافَ سِجْنَهُمْ وَسَيْفَهُمْ وَسَوْطَهُمْ فَلَا يَأْمُرُهُمْ وَلَا يَنْهَهُمْ ))

Dari Zaid bin Tsâbit رضي الله عنه , beliau berkata: Aku mendengar Rasûlullâh ﷺ bersabda: “Akan ada di akhir zaman nanti para penguasa yang zhalim (suka menganiaya), barangsiapa yang takut terhadap penjara, pedang dan cambuk para penguasa tersebut, maka janganlah dia memerintahkan (kebaikan) kepada mereka dan melarang mereka (dari keburukan)”.

Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Nu’aim al-Ashbahâni رحمه الله dalam Târîkh Ashbahân (2/108) dan Imam ad-Dailami رحمه الله dalam Musnadul Firdaus1 dengan sanad mereka berdua melalui jalur Ismâ’îl bin Yahya bin ‘Ubaidillâh bin Thalhah at-Taimi al-Madani, dari Mis’ar bin Qidâm, dari al-Qâsim bin ‘Abdir Rahmân, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Zaid bin Tsâbit رضي الله عنه , dari Rasûlullâh ﷺ .

Hadits ini palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ismâ’îl bin Yahya bin ‘Ubaidillâh bin Thalhah at-Taimi al-Madani. Imam Ibnu ‘Adi رحمه الله berkata tentangnya, “Dia meriwayatkan hadits-hadits yang batil (palsu) dari perawi-perawi yang terpercaya”2 . Imam Ibnu Hibbân رحمه الله berkata, “Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari perawi-perawi yang terpercaya, juga hadits-hadits yang tidak ada asalnya dari perawi-perawi yang kuat. Tidak dihalalkan sama sekali meriwayatkan hadits dan berhujjah dengannya”3 . Imam adz-Dzahabi رحمه الله berkata dalam Mîzânul I’tidâl (1/415), “(Dia meriwayatkan) hadits-hadits batil (palsu) dari Abu Sinân asy-Syaibâni, Ibnu Juraij dan Mis’ar (bin Qidâm)”.

Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam asy-Syaukâni رحمه الله dengan mencantumkannya dalam kitabnya yang menghimpun hadits-hadits palsu, Al-Fawâ-idul Majmû’ati fil Ahâdîtsil Maudhû’ah (hlm. 210, no. 13), dan beliau berkata: “Dalam sanad hadits ini ada seorang (perawi) pendusta”. Demikian pula al-Fatani رحمه الله mencantumkannya dalam kitabnya yang menghimpun hadits-hadits palsu, Tadzkiratul Maudhû’ât (hlm. 183), dan beliau berkata: “Dalam sanad hadits ini ada (seorang perawi yang bernama) Ismâ’îl (bin Yahya bin ‘Ubaidillâh bin Thalhah at-Taimi al-Madani), (dia adalah) seorang pendusta”.

Kepalsuan hadits ini menyebabkan hadits tersebut sama sekali tidak bisa dij adikan sebagai dalil (argumentasi) untuk mendiamkan dan tidak menasehati penguasa yang berbuat zhalim dan sewenang-wenang. Bahkan tindakan menasehati penguasa yang zhalim dengan cara yang benar adalah termasuk jihad yang paling utama. Rasûlullâh ﷺ bersabda : “Jihad yang paling utama adalah kalimat yang benar di hadapan penguasa/pemimpin yang zhalim”4 .

Perlu diingat, bahwa cara yang benar untuk menasehati penguasa (pemerintah) adalah dengan menyampaikan nasehat tersebut secara personal dan langsung kepada penguasa yang bersangkutan, berdasarkan zhahir hadits ini: “…kalimat yang benar di hadapan penguasa (pemimpin) yang zhalim”. Jadi, bukan disampaikan di depan umum yang sama sekali tidak berkepentingan dengan nasehat tersebut, karena ini termasuk perbuatan ghibah (menggunjing) yang tercela dalam Islam, yaitu menyebutkan keburukan saudara sesama Muslim di belakangnya 5 .

Dalam hadits shahîh lainnya, Rasûlullâh ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang ingin menasehati seorang penguasa, maka janganlah dia menyampaikan (nasehat tersebut) secara terang-terangan (di depan orang umum), akan tetapi hendaknya dia mengambil tangannya dan menyampaikannya secara tersembunyi, kalau diterima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan), kalau tidak (diterima) maka dia telah menunaikan kewajibannya”. (Hadits shahîh riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, dan imam lainnya. Lihat no. 1096 – Zhilâlul Jannah).

Footnote:

1 Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam al-Gharâibul Multaqathah min Musnadil Firdaus (no.419 – Disertasi S2).

2 Al-Kâmil fi Dhu’afâ`i ar-Rij âl 1/302.

3 Al-Majrûhîn minal Muhadditsîn 1/126.

4 HR. Ahmad (3/19, 3/61 dan 4/315) dan lainnya. Lihat ash-Shahîhah no. 491.

5 Lihat hadits riwayat Muslim no. 2589.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More