Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

KENALI KAUM KERABATMU

Termasuk gejala yang sedikit demi sedikit memudar di tengah kaum Muslimin, semangat untuk menjalin silaturahmi dengan maknanya yang luas. Hanya mau mengunjungi kerabat yang kayakaya saja. Enggan bertegur sapa dengan kerabatnya yang miskin. Sebagian orang bahkan malah sangat bermasalah dan merasa tidak nyaman dengan saudara-saudara dan kaum kerabatnya sendiri. Atau di kasus lain tidak jarang menjadi ‘musuh besarnya’

0

Sebagian orang tidak mengenal (melupakan) kaum kerabatnya, pelit kepada mereka, padahal kerabatnya itu dalam kondisi sangat membutuhkan bantuan.

Sementara itu, orang-orang lain, entah teman sejawat, teman lama, kenalan baru dan tetangga justru merasakan betapa manisnya bersahabat dengan si Fulan atau Fulanah. Padahal, tidak ada hubungan darah ‘setetes’ pun. (!?)

Islam memperhatikan hubungan keluarga

Islam memberi perhatian pada persoalan penguatan hubungan keluarga dan pengokohan bangunannya, serta penghormatan hak-haknya agar tidak terjadi praktek kezhaliman antar sesama kaum kerabat. Untuk menjamin proses berjalannya hal tersebut, ada sekian asas yang telah ditetapkan guna memantapkan eratnya hubungan internal satu keluarga besar dan ketenangan para individu yang tergabung di dalamnya. Di antara asas penegakan bangunan keluarga yang diserukan Islam adalah menjalin hubungan silaturahmi dan memperlakukan siapa saja yang masih terhubung dengan tali keluarga dengan perlakuan yang lebih baik, sesuai dengan ketentuan hukum dan etika syariat. Nabi ﷺ sendiri telah memberikan atensi sejak dini, sejak memulai dakwah Islam. Hal ini sesuai dengan pengakuan Abu Sufyân tatkala ditanya oleh Hiraql (Heraklius) perihal misi dakwah Muhammad ﷺ . Di antara jawaban Abu Sufyân yang waktu itu belum memeluk Islam, “Dia (Muhammad) memerintahkan untuk beribadah kepada Allâh, jangan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, memerintahkan kami untuk meninggalkan ajaran nenek moyang, memerintahkan kami untuk sholat, berkata jujur, menjaga kehormatan dan menjalin tali silaturahmi..”.

Umat terdahulu juga diperintah

Allâh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa perintah menjalin hubungan baik dengan karib kerabat juga menjadi ajaran yang diperintahkan kepada umat sebelumnya. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu beribadah kepada selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anakanak yatim dan orang-orang miskin. (QS. al-Baqarah/2:83)

“Seluruh syariat para nabi memerintahkan untuk menyambung tali silaturahmi dan memperingatkan dari pemutusannya. Ini menunjukkan keutamaan dan besarnya perkara ini”. 1

Wasiat Rasûlullâh

Secara logis, seseorang mestinya lebih memperhatikan kaum kerabat. Bagaimana tidak? Sebab antara dirinya dan mereka terdapat hubungan persaudaraan dan kekerabatan yang khusus. Nabi ﷺ berpesan:

أَرْحَامَكُمْ أَرْحَامَكُمْ

Perhatikanlah kaum kerabatmu, perhatikanlah kaum kerabatmu. (ash-Shahîhah no: 736, 1538)

Mestinya antara kaum kerabat saling akrab

Sebetulnya, di era kemajuan teknologi komunikasi ini, menjalin hubungan dengan keluarga besar sendiri yang lebih dikenal dengan silaturahmi ini kian mudah. Masyarakat sudah sangat akrab dengan bermacam teknologi informasi. Pada sebagian kota, kendaraan transportasi siap 24 jam melayani hilir-mudik penumpang. Bila dikungkung oleh kesibukan yang sangat, hingga tidak bisa menyisihkan waktu banyak untuk menjumpai kerabat yang (cukup) jauh, tinggal angkat telepon. Jaringan telepon sudah ada dimana-mana, telepon seluler (HP) sudah tidak asing lagi di tangan. Atau bisa juga menghubungi keluarga via internet bagi yang sudah terbiasa ngenet. Jadi, Allâh l sudah memudahkan jalan untuk menjalankan perintah-Nya terkait menguatkan tali persaudaraan dengan kaum kerabat hingga hubungan senantiasa mesra, kuat dan akrab. Tidak ada kerabat kecuali telah dikenali dengan baik dan memperoleh apa yang seyogyanya ia terima dari keluarga sendiri.

Perwujudan silaturahmi

Ketentuan sejauh mana perwujudan silaturahmi, tidak secara spesifik disebutkan dalam al-Qur`an maupun Hadits. Kaedah menyatakan, segala sesuatu yang belum ditentukan oleh syariat, maka dikembalikan kepada al- ’urf (kebiasaan yang berlaku).

Atas dasar pedoman di atas, tindak-tanduk yang akrab menjadi kebiasaan masyarakat dalam mewujudkan tali silaturahmi maka itulah yang menjadi acuan (selama tidak melanggar syariat). Artinya akan mengalami perubahan dan perbedaan tergantung dengan kondisi, waktu, tempat dan masyarakat.

Orang kaya mewujudkan silaturahmi dengan kaum kerabatnya yang miskin dengan berbagi dan memberi sesuai dengan keadaan si kaya. Apabila seluruh kaum kerabat tergolong kaum berada, maka mengunjungi mereka termasuk mewujudkan silaturahmi. 2

Imam Ibnul Atsir رحمه الله mengartikan silaturahmi dengan pernyataannya, “Silaturahmi merupakan satu ungkapan tentang berbuat baik kepada orang-orang dekat (keluarga dan kaum kerabat) yang memiliki hubungan nasab dan pernikahan (dengan kita), curahan kasih-sayang kepada mereka, berlemah-lembut kepada mereka serta memperhatikan kondisi-kondisi mereka. Kendatipun mereka itu berada dalam jarak yang jauh dan berlaku buruk. Sementara memutuskan hubungan lawan dari sikap-sikap di atas”.

Contoh-contoh praktis dalam menjalin silaturahmi dapat terwujud dengan berbagai cara dan bentuk seperti: bermuka manis saat berjumpa, berlemah-lembut dalam bermuamalah, bertutur kata lembut, berkunjung ke rumah kaum kerabat, mencari tahu keadaan mereka, kondisi anak-anak mereka dan masalah-masalah yang mendera mereka untuk selanjutnya berempati dan berusaha membantu meringankan atau menyelesaikannya, berkirim surat, komunikasi via telpon, ikut merasakan kegembiraan mereka, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan lemah, bersolidaritas dengan kesulitan mereka, membantu pihak yang membutuhkan uluran tangan, menjenguk yang sakit, menyodorkan hadiah, mendatangi undangan mereka, menempuh berbagai upaya untuk menguatkan hubungan, menjauhi segala faktor yang dapat memicu retaknya hubungan.

Bentuk silaturahmi yang terpenting dari semua itu, adalah bersemangat untuk mendakwahi mereka menuju petunjuk, meluruskan yang menyimpang, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan.

Atau dapat disimpulkan dalam ungkapan ‘menyuguhkan kebaikan dan menghindarkan mereka dari keburukan sebisa mungkin.’.

Dengan demikian, dapat dilihat betapa besar manfaat silaturahmi dengan maknanya yang luas ini bagi suatu masyarakat. Masalah-masalah sosial yang berpotensi meruntuhkan bangunan masyarakat seperti pengangguran, kemiskinan, saling curiga, akan bisa terentaskan.

Syaikh al-‘Utsaimîn رحمه الله menyayangkan lunturnya semangat untuk bersilaturahmi. Beliau menyatakan, “Pada zaman kita sekarang ini semangat menjalin silaturahmi kian menipis. Penyebabnya, kesibukan orang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan kelalaian mereka terhadap sesama..”3

Tidak berbeda, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-Qâsim hafizhahullâh, imam dan khatib Masjid Nabawi mengatakan, “Meskipun banyak ayat dan hadits (yang menyebutkan keutamaan menjalin tali silaturahmi dan bahaya memutuskannya), engkau masih menyaksikan sebagian orang telah kehilangan perasaannya, hatinya telah berpaling dari kebenaran, sehingga tidak pernah perhatian dengan kerabat, dan tidak pernah menanyakan perihal mereka”.

Ancaman bagi pemutus silaturahmi

Memutuskan tali silaturahmi hukumnya haram4 . Perbuatan tidak etis ini juga termasuk dosa besar. Rasûlullâh ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحْمٍ

Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahmi (HR. Muslim no. 2556)

Kenalilah garis pernasabanmu!

Di antara kelebihan bangsa Arab, mereka sangat memperhatikan garis keturunan keluarga. Garis keturunan ini dimaklumi bahkan sampai sepuluh generasi sebelumnya. Ambil contoh, pada nasab Rasûlullâh n, garis keturunan beliau sampai Nabi Ibrahim عليه السلام termaktub rapi di kitab-kitab sirah. Sehingga dapat diketahui sekian banyak Sahabat yang menyatu dengan Rasûlullâh pada kakek urutan tertentu.

Demikian halnya, kitab-kitab at-tarâjim (biografibiografi) baik yang memaparkan sejarah para Sahabat Nabi, Tabi’in atau ulama-ulama yang telah terbukukan dalam kitab-kitab. Ini tentu sebuah realita yang bagus untuk dilestarikan oleh kaum Muslimin dari ras-ras lain. Hingga di antara mereka ada yang dikenal sebagai nassâb (ahli nasab).

Secara khusus, Rasûlullâh ﷺ mengajak kita sekalian untuk mendeteksi dan mengenali orang-orang yang masih bagian dari keluarga besar kita. Beliau ﷺ bersabda:

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحْمِ مَحَبَّةٌ فِيْ الأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِيْ المالِ مَنْسَاةٌ فِيْ الاَثَرِ

Pelajarilah garis keturunan kalian yang dapat membantu kalian untuk bersilaturahmi. Sesungguhnya silaturahmi merupakan bentuk cinta kepada keluarga dan memperbanyak kekayaan dan menambah usia. (Shahîh Sunan at-Tirmidzi 1612)

Sahabat Ibnu Abbâs z mengatakan:

Ingat-ingatlah nasab kalian. Dengan mengetahui garis pernasaban, akan menjadi jelas orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dan kekerabatan dengan kita untuk kemudian kita perlakukan mereka dengan semestinya.

Arti penting sebuah kunjungan

Arti sebuah kunjungan sangat penting dalam masalah ini, sangat berpotensi mengeratkan kerukunan antarkeluarga, mendinginkan suasana yang agak tegang yang dipicu oleh isu dan syak-prasangka misalnya.

Dalam konteks ini, ‘Umar bin al-Khaththâb z berpesan:

مُرُو ذَوِيْ القُرُبَاتِ أَنْ يَتَزَاوَرُوْا

Perintahkan orang-orang yang masih sekeluarga agar mereka saling mengunjungi.

Berkunjung sebenarnya bukan persoalan yang berat jika kebanyakan keluarga berada di dalam kota atau di daerah yang masih dalam jangkauan. Rahasianya, sisihkan waktu dan sempatkan untuk bepergian ke tempat kaum kerabat. Inilah faktor yang tampaknya menjadi biang keladi yaitu tidak pernah terlintas di benak untuk sesekali mendatangi keluarga besarnya, karenanya alokasi waktu untuk urusan ini pun tak pernah mengisi agenda.

Selain itu juga, sebagian orang enggan mengunjungi kerabat lantaran khawatir dicurigai (dituduh) ingin meminta sedekah dari kerabat yang dikunjungi yang memang berstatus orang kaya. Sebagian orang agak berat mengunjungi kerabatnya dengan alasan tidak bisa membawakan oleh-oleh, atau kebingungan bahan materi pembicaraan yang akan disampaikan kalau berkunjung tanpa ada hajat jelas. Ini semua tidak benar.

Dekati, meskipun menjauh

Bagaimanapun, orang-orang yang masih terhubung oleh tali kekerabatan dengan kita, mereka bukanlah malaikat, juga bukan para nabi. Artinya, terkadang mereka berbuat kesalahan kepada kita, berbicara yang tidak mengenakkan tentang kita, tergelincir dalam kekeliruan saat bermuamalah dengan kita, dan bahkan sebagian telah berbuat dosa.

Jika muncul tindakan negatif dari mereka, memaafkan mereka atas kekeliruan yang diperbuat adalah sikap pilihan orang-orang muhsinin (yang berbuat baik). Pemberian maaf akan menaikkan derajat kehormatan orang-orang yang telah rela berlapang dada terhadap pelaku kesalahan. Sikapilah kesalahan dengan kebaikan. Terima penyesalan mereka jika berbuat salah. Allâh سبحانه وتعالى telah memberitahukan satu kisah pemberian maaf yang hebat dari Nabi Yûsuf عليه السلام terhadap saudara-saudaranya yang telah merencanakan dan melancarkan perbuatan aniaya kepada dirinya dalam bentuk yang sangat buruk. Ketika mereka meminta maaf, beliau menerimanya, tanpa menjelek-jelekkan mereka, apalagi sampai ingin membalas dendam. Bahkan mendoakan ampunan dan kebaikan bagi para saudaranya itu. Allâh سبحانه وتعالى berfirman:

Dia (Yûsuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahkan Allâh mengampuni kamu..” (QS. Yûsuf/12: 92)

Yang dikatakan al-wâshil (orang yang benar-benar menjalin hubungan silaturahmi), bukan orang yang mencari pamrih, terdesak kebutuhan untuk berhutang atau sedang membalas budi (membayar hutang misalnya). Bukan karena kepentingan-kepentingan di atas dan kepentingan duniawi serupa lainnya. Akan tetapi, seorang Muslim yang melakukannya karena Allâh سبحانه وتعالى , mendatangi dan mengunjungi rumah kaum kerabatnya karena Allâh سبحانه وتعالى , baik ia diterima ataupun ditolak, diperlakukan dengan baik atau tidak simpatik.

Rasûlullâh ﷺ bersabda:

Bukanlah penjalin silaturahmi orang yang membalas budi. Tetapi, penjalin silaturahmi (sebenarnya) adalah orang yang diputus hubungannya (oleh saudaranya), (akan tetapi) ia tetap menjalinnya. (HR. al-Bukhâri)

Memaafkan kesalahan dari saudara dan kerabat dan melupakannya, meski belum meminta maaf merupakan pertanda kemuliaan jiwa, tingginya tekad dan termasuk sifat orang-orang besar.

Perkara-perkara yang mendukung hubungan silaturahmi

  • Merenungkan dampak positif silaturahmi
  • Memahami akibat buruk putusnya tali silaturahmi
  • Membalas keburukan dengan kebaikan
  • Memberi maaf bila berbuat salah
  • Melupakan kekurangan dan kekeliruan mereka meski belum meminta maaf
  • Rendah hati dan berlemah-lembut dengan mereka
  • Menahan diri dan bersabar
  • Memberi bantuan sebisa mungkin
  • Tidak mengungkit-ungkit kebaikan di hadapan mereka
  • Melatih diri untuk tidak meminta dipenuhi haknya oleh kerabat
  • Memperhatikan kondisi dan memahami kejiwaan mereka
  • Tidak memberatkan kaum kerabat
  • Menghindari teguran yang kasar
  • Menyikapi omongan kasar mereka dengan lapang dada
  • Tidak berlebihan dalam bergurau dengan mereka
  • Menjauhi percekcokan dan jidal (debat)
  • Memberikan hadiah bila terjadi perselisihan.
  • Menyadari bahwa kaum kerabat bagian dari dirinya
  • Menyadari bahwa permusuhan dengan kaum kerabat adalah perbuatan buruk dan merugikan, baik bagi pihak yang menang maupun pihak yang kalah
  • Berusaha mendamaikan pertikaian yang terjadi
  • Bersegera membagikan warisan
  • Mengadakan pertemuan rutin
  • Membuat buku panduan berisi nomor-nomor telpon dan alamat kaum kerabat
  • Membentuk semacam majlis syura yang beranggotakan para sesepuh dari keluarga untuk merumuskan solusi bila terjadi masalah
  • Menjalin silaturahmi dengan ikhlas kepada Allâh سبحانه وتعالى .
Penutup

Silaturahmi salah satu perintah agama yang harus dipedulikan oleh umat. Manfaatnya sangat besar. Karenanya, seorang Muslim berkewajiban berusaha untuk benar-benar mematuhinya dengan menempuh hal-hal yang dapat mendukung perwujudan silaturahmi yang baik dan kuat.

Semoga Allâh سبحانه وتعالى memberikan taufik kepada kita sekalian untuk rajin menyambung tali silaturahmi sehingga bisa masuk dalam hadits seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi ﷺ perihal perkara yang dapat memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka, dan kemudian Nabi ﷺ menjawab dengan berkata:

Engkau beribadah kepada Allâh tanpa menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat dan menyambung silaturahmi. (HR. al-Bukhâri dan Muslim).

Wallâhu a’lam.

Sumber pustaka:

  • Qathî’atur Rahmi al-Mazhâhir, al-Asbâb, Subûlul ‘Ilâj, Syaikh Muhammad bin Ibrâhîm al-Hamd
  • Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholeh al- ‘Utsaimîn
  • Silatur rahmi, khutbah Jum’at Syaikh Abdul Muhsin al-Qaasim

Footnote:

1 Qathî’atur Rahmi al-Mazhâhir, al-Asbâb, Subûlul ‘Ilâj hlm. 29

2 Lihat Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah hlm. 677

3 Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah hlm. 677

4 Ikmâlul Mu’lim Syarh Shahîh Muslim (8/19)

Majalah As-Sunnah Baituna edisi 07 Thn. XV Dzulhijjah 1432 – Novembver 2011

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More