Istri-Istri Rasulullah sebagai Ummahatul Mukminin

oleh -466 Dilihat
oleh

Dalam al-Qur’ân Allâh عزوجل telah mensifati istri-istri Nabi ﷺ sebagai ibunda kaum Mukminin, sedangkan dalam ayat yang lain Allâh سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa penamaan ibu itu untuk wanita yang melahirkan, yaitu dalam firman-Nya:

 اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٰۤـِٔيْ وَلَدْنَهُمْۗ

Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang telah melahirkan mereka (QS. Al-Mujâdilah/58:2 )

Padahal dalam al-Qur’an tidak akan didapati perbedaan dan pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Oleh karena itu perlu dijelaskan maksud dari gelar Ummahât yang Allâh عزوجل berikan kepada para istri Rasûlullâh ﷺ .

Berikut penulis akan menjelaskan beberapa perkataan Ulama ketika menjelaskan maksud ayat di atas, kemudian penulis akan menyebutkan ringkasan (intisari) perkataan-perkataan mereka.

Ibnu Jarîr رحمه الله menyebutkan dari Qâtadah رحمه الله tentang tafsir firman Allâh سبحانه وتعالى :

وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ

Istri-istri nabi adalah ibu-ibu mereka (QS. Al-Ahzâb/33:6)

Beliau رحمه الله berkata, “Dengan (kedudukan) tersebut Allâh عزوجل mengagungkan hak-hak mereka.”1

Ibnu Abi Hâtim meriwayatkan dari Qatâdah رحمه الله , beliau mengatakan, “Maksudnya ibu-ibu mereka dari sisi haramnya seorang Mukmin menikahi salah seorang istri Nabi ﷺ baik tatkala Beliau ﷺ masih hidup bila Beliau ﷺ telah mentalaknya, atau setelah Beliau ﷺ wafat. Mereka haram untuk dinikahi seperti haramnyamenikahi ibu kandung sendiri.”2

Ibnu Jarîr juga meriwayatkan dari Ibnu Zaid mengenai makna ayat diatas, bahwa maksudnya adalah mereka haram dinikahi oleh orang-orang Mukmin.3 ) sama seperti yang telah saya jelaskan bahwa itu

Imam Syâfi ’i رحمه الله , “Firman Allâh (°وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ  ¯ termasuk bahasa Arab yang meluas, satu kalimat bisa mengandung beberapa makna yang berbeda, maka firman-Nya ( أمهاتهم ) dimaksudkan untuk sebagian makna bukan semua makna. Yaitu kaum Mukminin diharamkan menikahi para istri Nabi tersebut dalam keadaan apapun, namun tidak diharamkan menikahi anak-anak perempuan para istri Nabi tersebut, sebagaimana diharamkan menikahi anak perempuan dari ibu kandung mereka (saudarinya sendiri)), atau saudari sepersusuan.

Imam Syâfi ’i رحمه الله juga berkata, “jika ada yang bertanya, “Mana dalilnya?” Dalilnya adalah Nabi ﷺ selaku bapaknya kaum Mukminin menikahkan anaknya ﷺ Fathimah رضي الله عنها  yang merupakan anak dari Ummul Mukminin Khadîjah رضي الله عنها  dengan Ali رضي الله عنه . Beliau ﷺ juga menikahkan Ruqayyah رضي الله عنها  dan Ummu Kultsûm رضي الله عنها  dangan Utsmân Bin Affân رضي الله عنه di Madinah, begitu juga Zainab bintu Ummu Salamah (salah seorang Ummul Mukminin) juga menikah, Zubair Bin Awwam رضي الله عنه menikahi salah satu Anak Abu Bakr رضي الله عنه dan yang lainnya dinikahi oleh Thalhah bin Ubaidillah رضي الله عنه sedangkan mereka berdua merupakan saudari dari Ummul Mukminin (Aisyah). Kemudian juga Abdurrahmân Bin Auf رضي الله عنه menikahi saudari Ummul Mukminin Zainab bintu Jahsyi رضي الله عنها  . Dalil yang lain yaitu kaum Mukminin tidak bisa mewarisi harta mereka, begitupun sebaliknya Ummahâtul Mukminin tidak mewarisi harta kaum Mukminin, sebagaimanakaum Mukminin mewarisi ibu kandung mereka dan mereka juga mewarisi kaum Mukminin. Para istri Nabi ﷺ itu diserupakan dengan para ibu karena besarnya hak mereka atas kaum Mukminin, dan juga karena diharamkan menikahi mereka.”4

Ibnu Jarîr at-Thabari رحمه الله mengatakan, “Keharaman istri-istri Nabi sama seperti keharaman ibu kandung mereka, yang mana istri-istri Nabi diharamkan untuk dinikahi setelah Beliau ﷺ wafat, sebagaimana diharamkan menikahi ibu-ibu kandung.”5

Imam al-Qurtubi رحمه الله berkata, “Maksud ayat tersebut adalah wajibnya memuliakan, mengagungkan, serta haramnya kaum lelaki Mukminin menikahi mereka (Ummahâtul Mukminin), namun (tetap) wajib menutup hijab mereka, berbeda dengan ibu kandung (tidak perlu ada hijab ketika bertemu dengan anak kandungnya). Ada juga yang mengatakan, ‘Karena kasih sayang Ummahâtul Mukminin kepada kaum Mukminin itu sama seperti kasih sayang ibu kandung kepada anak-anaknya, maka mereka diposisikan sebagai ibu bagi kaum Mukminin. Namun kedudukan mereka sebagai ibu ini tidak berkonsekuensi saling mewarisi sebagaimana ibu kandung, kemudian boleh juga menikahi anak-anak perempuan Ummahâtul Mukminin. Kedudukan para istri Nabi ﷺ sebagai Ummahâtul Mukminin tidak lantas menjadikan anak-anak perempuan mereka menjadi saudari-saudari bagi kaum Mukminin.”6

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata, “Ummat Islam telah sepakat atas haramnya menikahi Ummahâtul Mukminin setelah Nabi ﷺ wafat, juga sepakat atas wajibnya memuliakan mereka. Mereka adalah ibunda kaum Mukminin dalam hal kehormatan dan haramnya dinikahi. Namun mereka bukan ibunda kaum Mukminin dalam masalah kemahraman. Oleh karena itu tidak boleh bagi seseorang yang bukan kerabat mereka untuk berkhalwat (berduaan) dengan mereka, sebagaimana bolehnya seorang laki-laki berkhalwat dan safar bersama mahramnya. Olehkarena itulah Allâh عزوجل memerintahkan mereka untuk memakai hijab, Allâh عزوجل berfi rman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak[1]anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzâb/33:59)

Allah juga berfirman:

 وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّۗ وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًاۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasûlullâh dan tidak (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allâh. (QS. Al-Ahzâb/33:53)7

Ibnu Katsîr رحمه الله berkata, “Maksudnya (mereka adalah ibunda kaum Mukminin-red) dalam hal kehormatan, haramnya dinikahi, berhak mendapatkan pemulian, penghormatan, pengagungan, akan tetapi tidak diperbolehkan berkhalwat dengan mereka. Haramnya menikahi mereka ini tidak menyebar kepada anak-anak perempuan mereka dan saudari-saudari mereka berdasarkan kesepakatan para Ulama.”

Setelah menukil perkataan Ibnu Katsir di atas syaikh Muhammad al-Amîn as-Syingqhiti رحمه الله mengatakan, “Apa yang beliau رحمه الله sebutkan tentang maksud Ummahâtul Mukminin yaitu haramnya menikahi mereka seperti haramnya menikahi ibu kandung, dan wajibnya memuliakan mereka seperti memulyakan ibu kandung ….., ini sangat jelas tidak ada masalah. Ini dikuatkan juga oleh firman Allâh سبحانه وتعالى :

 وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (QS. Al-Ahzâb/33:53)

Karena manusia tidak akan bertanya atau meminta sesuatu kepada ibu kandungnya dari belakang hijab (tabir). Juga dikuatkan oleh firman Allâh سبحانه وتعالى :

 اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٰۤـِٔيْ وَلَدْنَهُمْۗ

Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. (QS. Al-Mujâdilah/58:2)

Sudah jelas dan maklum bahwa istri-istri Nabi tidak pernah melahirkan semua kaum Mukmin padahal mereka adalah ibu-ibu orang-orang Mukmin.”8

Dengan uraian di atas maka menjadi jelas bagi kita bagaimana menggabungkan antara firman Allâh (° وَأَزْواجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ) dan firman-Nya: ( إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا الَّئِيْ وَلَدْنَهُمْ ) dan jelas juga bagi kita makna ibu yang Allâh عزوجل sematkan kepada istri-istri Rasûlullâh.

Jadi bisa kita katakan, ibu itu ada dua jenis:

Pertama: ibu secara agama, yaitu ibu yang disebabkan oleh agama. Dalam hal ini, istri-istri Nabi ﷺ adalah ibu bagi kaum Mukminin. Karena mereka semua adalah istri-istri Nabi yang berkedudukan seperti bapak bagi kaum Mukminin. Juga karena jasa mereka yang sangat besar dalam meriwayatkan hadits-hadits Rasûlullâh, berupa perkataan, perbuatan, akhlak, dan ibadah Beliau ﷺ , sehingga dengan sebab mereka ummat mendapatkan manfaat yang sangat besar.

Kedudukan mereka sebagai ibu ini menyebabkan mereka wajib dimuliakan, diagungkan, ditunaikan hak-hak mereka karena sesugguhnya kedudukan mereka sama seperti kedudukan ibu kandung. Kedudukan ini juga menyebabkan mereka haram dinikahi oleh kaum Mukminin, sebagaimana firman Allâh عزوجل :

وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًاۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasûlullâh dan tidak (pula) menikahi isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allâh. (QS. Al-Ahzâb/33:53).

(Namun) kedudukan ini tidak menyebabkan saling waris mewarisi sebagaimana dengan ibu kandung. Juga keharaman menikahi mereka tidak menyebar kepada anak perempuan atau saudari[1]saudari mereka. Oleh karena itu halal menikahi anak atau saudari-saudari mereka, sebagaimana dalil-dalil di atas.

Kedua: Ibu karena nasab. Ibu inilah yang dimaksud dengan firman Allâh :

اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٰۤـِٔيْ وَلَدْنَهُمْۗ

Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka (QS. Al-Mujâdilah/58:2)

Jadi seorang perempuan merupakan ibu dari anak yang dilahirkannya. Ibu jenis kedua ini memiliki hak-hak dan hukum-hukum yang khusus dalam syari’at sebagaimana yang telah diketahui kaum Muslimin.

Ringkasan dari pemaparan di atas, karena Nabi ﷺ berkedudukan seperti bapak bagi kaum Mukminin, maka istri-istri Beliau ﷺ berkedudukan sebagai ibunda kaum Muslimin, maksudnya ibu dalam hal keharaman untuk dinikahi, wajib dihormati serta dimuliakan, bukan ibu dalam hal kemahraman dan kebolehan untuk berkhalwat dengannya.


Footnote:

1 Kitab Jâmi’ul Bayân ( 11/122)

2 Disebutkan oleh Imam Suyuthi dalam ad-Durrul Mantsûr (12/566)

3 Kitab Jâmi’ul Bayân ( 11/122)

4 Kitab Al-Umm (5/151)

5 Kitab Jâmi’ul Bayân (14/112 )

6 Kitab al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân ( 13/82)

7 Minhâjussunnah, 4/369

8 Kitab Adhwâul Bayân (6/470)

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Majalah As-Sunnah adalah majalah dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terbit setiap awal bulan, insyaallah. Menyajikan materi – materi ilmiah berdasarkan pemahaman para salafush sholih, dari narasumber dan referensi yang terpercaya. Majalah As-Sunnah, pas dan pantas menjadi media kajian ilmiah keislaman Anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.