Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

Hakikat Merdeka

Tajuk Edisi 03/XXV 1442H/2021M

0

Kemerdekaan merupakan hak yang melekat pada setiap insan sejak mereka dilahirkan dalam kehidupan dunia ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang berbicara tentang masalah ini, dan juga menuntutnya ketika merasa kemerdekaan mereka terusik, apalagi terampas. Namun, apa yang dimaksud dengan kemerdekaan? Jika yang dimaksudkan dengan kemerdekaan adalah bebas tanpa batas dan aturan, maka tentu itu suatu hal yang mustahil. Dimanapun kita berada, pasti ada aturan yang mengikat, baik aturan itu tertulis ataupun tidak. Meski dia seorang diri di tengah hutan belantara atau di tengah samudera luas, tetap saja ada norma yang harus diperhatikan jika ingin keselamatannya tidak terusik.

Sejak terlahir ke dunia, Allâh ta’alla memberikan kepada manusia iradah atau masyî’ah, dan pilihan. Ia bebas dan merdeka dengan pilihan yang ia kerjakan. Lalu atas dasar pilihan itu, Allâh ta’alla memperhitungkan apa yang terlahir darinya berupa amal perbuatan. Artinya, jika seorang hamba itu dalam keadaan mukrah (dipaksa, terpaksa) dalam melakukan sesuatu, bukan atas dasar pilihan sama sekali, maka Allâh ta’alla tidak memperhitungkan perbuatan-perbuatannya. Allâh ta’alla tidak menyiksanya dengan sebab itu, karena ia dipaksa dan keterpaksaan itu menjadi udzur baginya. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِيْ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا أسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

Sesungguhnya Allâh memaafkan umatku bagiku ketidaksengajaan, lupa dan ketika mereka dipaksa atas sesuatu. (HR. Ibnu Majah. Shahih)

Namun, ketika kita berbicara tentang kemerdekaan dan kebebasan bagi seorang manusia, maka perlu diingat bahwa kemerdekaan itu bukan dalam urusan keimanan dan keyakinan. Sebab, ia wajib meyakini bahwa Allâh ta’alla adalah Rabb yang berhak diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya ia tidak boleh tunduk kepada selain Allâh atau menaati apa-apa yang bertentangan dengan perintah Allâh. Karena hal tersebut merupakan jaminan akan kebebasan dan kemerdekaan hakiki di muka bumi ini. Inilah potret seorang hamba merdeka yang sebenarnya. Mengapa?

Sebab, umat manusia sejak dahulu hingga hari ini menghadapi penguasa-penguasa tiran dan pemimpin yang mengharuskan rakyat dan bawahan tunduk patuh dan menghinakan diri kepada mereka, sehingga nilai-nilai kemerdekaan dan kebebasan lenyap dari mereka. Begitu pula sisi-sisi kemuliaan dan kehormatan sebagai manusia hilang dari orang-orang yang tunduk patuh dengan penuh hina kepada selain Allâh ta’alla. Mereka telah memperbudak sesama manusia. Maka, hilanglah kemerdekaan dan kebebasan hakiki dari rakyat dan bawahan mereka.

Ketundukan, rasa takut, kepatuhan dan berserah diri tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allâh ta’alla yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan mutlak. Orang yang tunduk kepada selain Allâh ta’alla , sungguh ia telah mengurangi aspek kemerdekaan dan kebebasan dirinya, sesuai kadar ketundukan dan kehinaannya kepada selain Allâh ta’alla .

- Ilustrasi dan tataletak iklan oleh Admin web -

Para thaghut yang telah merampas kebebasan dan kemerdekaan banyak umat manusia, seperti ulama sû’ (ulama yang menyimpang), para pendeta, para rahib, para dukun, para penguasa, bahkan juga dinar dan dirham (materi dunia).

Para thaghut itu terus berlanjut, hingga berani merubah-rubah kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul, agar sejalan dengan hawa nafsu dan kemauan. Selanjutnya, mereka menjadikan diri mereka sebagai pihak yang berhak memberikan ganjaran dan menimpakan hukuman, memberikan kata ampunan untuk menghapus dosa dan memasukkan seseorang ke surga.

Dari sini, seruan dakwah kepada tauhid dan ketundukan kepada Allâh ta’alla semata benar-benar merupakan ajakan untuk menegakkan kemerdekaan seorang manusia dan penolakan terhadap rantai belenggu yang hendak diikatkan oleh orang-orang zhalim pada leher sesama manusia.

Dengan itu, terjagalah kemerdekaan dan kebebasan manusia dari manusia-manusia aniaya yang ingin merampas kemerdekaan dan kebebasannya.

Lebih jauh lagi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengarahkan kepada apa yang beliau sebut dengan hurriyatul qalbi (kemerdekaan hati). Ini sangat penting, sebab hati merupakan pemimpin dalam tubuh manusia.

Kemerdekaan sebenarnya adalah kemerdekaan hati dan penghambaan yang sebenarnya adalah penghambaan hati kepada Allâh ta’alla , Dzat Yang memiliki kesempurnaan mutlak.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan agar terbebas dari semua bentuk perbudakan hawa nafsu, juga perbudakan orang-orang zhalim dalam segala jelmaannya.

 

Pemesanan : 0852 9009 3792
Atau beli di sini:

http://shopee.co.id/product/320633525/10123104174/

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More