Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

TIDAK SEMANGAT BELAJAR AGAMA?

0

Pertanyaan: Sudah tiga bulan ini, saya kurang semangat dalam mempelajari Islam. Baca buku-buku Islami pun tidak bernafsu. Mohon nasihat dan masukannya. Jazakumullah khairan.

08170xxxxxx

Jawab :

Kami prihatin dengan apa yang melanda Anda, sebuah “penyakit” yang tidak bisa dipandang ringan. Selama itu berarti Anda telah kehilangan begitu banyak kebaikan. Karena, Islam adalah sumber kebaikan yang hakiki.

Kurang semangat dalam mempelajari Islam, sangat berkait dengan tingkat keimanan seorang hamba. Apabila keimanannya sedang berada di level atas, maka kebaikankebaikan dengan berbagai ragamnya akan mudah dikerjakan dengan idzin Allah. Sebaliknya, tatkala iman sedang mengalami kelemahan, maka kaki pun berat untuk mengantarkan menuju pintu-pintu kebaikan.

Perlu Anda ketahui, ada beberapa hal yang dapat menurunkan keimanan seseorang, di antaranya:

  1. Al Jahalah (kebodohan)

Orang yang tidak berilmu atau dangkal ilmunya, sangat mungkin terjerambab ke dalam perkara-perkara yang berdampak fatal, daripada amalan yang akan membawanya menuju keselamatan. Efek berikutnya, ia akan menyukai perbuatan zhalim, maksiat dan pelanggaran terhadap syariat.

Al Qur`an menyimpulkan, bahwa kebodohan terhadap agama menjadi sebab utama terjerumusnya seseorang ke dalam jurang maksiat dan dosa. Allah l berfirman, yang artinya: Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat(nya)?” Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidakmengetahui (akibat perbuatanmu) (QS an Naml : 54-55).

Ini berbeda dengan seorang muslim yang berilmu, ia akan selalu mengontrol diri, sehingga ia akan selalu menjaga dengan perbuatan-perbuatan yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

  1. Ghaflah (kelalaian) dan i’radh (berpaling dari kebenaran).

Dua hal ini sangat berperan dalam mengikis keimanan seseorang. Penderitaan hati atau kematiaannya bisa terjadi karenanya.

Allah mencela sifat lalai dalam beberapa ayat, di antaranya: Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lalai dari ayat-ayat kami. (QS Yunus : 92).

- Ilustrasi dan tataletak iklan oleh Admin web -

Tatkala dicengkeram sifat lalai, maka ia akan hanyut pada perkara-perkara yang menjauhkan dirinya dari mengingat Allah. Kalaupun ia mengerjakan amalan shalih, maka mengamalkannya dengan ala kadarnya.

Sementara berkaitan dengan al i’radh (berpaling dari kebenaran), pengaruhnya juga sangat buruk. Allah menyebut orang yang berpaling sebagai orang yang paling zhalim, tidak ada orang yang melebihi kezhalimannya. Allah l berfirman, yang artinya: Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (QS as Sajdah : 22).

  1. Perbuatan maksiat dan dosa

Hal ini sangat jelas dampak buruknya terhadap keimanan seseorang. Sebagain ulama Salafmengatakan : “Iman meningkat dengan perbuatan ketaatan, dan berkurang dengan perbuatan maksiat”.

Allah l berfirman yang artinya: Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS at Taubah : 124-125)

Coba Anda renungkan hal-hal di atas. Lakukan muhasabah atau introspeksi diri. Barangkali saja ada di antaranya yang sempat melanda Anda, sehingga berpengaruh sangat buruk pada diri Anda. Yang akhirnya Anda tertimpa “penyakit” malas ini. akibat hati yang mengeras.

Selain itu, pergaulan juga memiliki pengaruh dalam mewarnai tindak-tanduk harian. Maka pilihlah teman dan komunitas yang kondusif. Agar iman selalu terjaga dalam pergaulan, Nabi ﷺ mengatakan:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu berada di atas kebiasaan kawan dekatnya, maka lihatlah salah seorang dari kalian, siapa yang dipergauli dengan akrab. (Hadits hasan. Diriwayatkan Abu Dawud, 13/179 dalam ‘Aunul Ma’bud; at Tirmidzi, 4/589; Ahmad, 2/303. Dikutip dari kitab Asbabu Ziyadati al Iman).

Al Khoththobi menjelaskan : “Maksudnya, janganlah engkau mengakrabi (orang), kecuali (teman) yang engkau ridhai agama dan amanahnya”. Larangan menggauli teman-teman yang buruk lantaran manusia memiliki sifat meniru orang yang menjadi kawan karibnya.

Semoga Allah menjadikan kita cinta kepada keimanan dan benci kepada kekufuran dan maksiat. Amin. Wallahu a’lam.

Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More