Website Resmi Majalah As-Sunnah
Upaya Menghidupkan Sunnah

Ulama Produktif Itu Bernama Ibnul Mulaqqin

0

Allah senantiasa merahmati umat Islam dengan kemunculan ulama-ulama yang berani berkurban demi penyebaran ilmu agama. Ilmu hadits juga mendapatkan porsi ulama yang banyak. Mereka telah membukukan dan menjelaskan hadits-hadits Rasulullah. Juga menyingkirkan sekian banyak hadits lemah maupun palsu sehingga umat tidak terpedaya dengannya. Diantara ulama itu adalah seorang alim yang lebih populer dengan panggilan Ibnul Mulaqqin.

Nama lengkapnya adalah Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdillah, Sirajuddin Abu Hafsh Al Anshary Al Wady Asyi Al Andalusi Al Mishri Asy Syafi’i.

Sebelumnya lebih kesohor dengan panggilan Ibnu Nahwi. Pasalnya, sang ayah, Ali adalah seorang yang piawai dalam disiplin ilmu nahwu. Namun beliau lebih familiar dengan sebutan Ibnul Mulaqqin. Alasannya, lantaran sang ibu menikah lagi dengan Isa Al Maghribi yang profesinya mentalqin (mengajarkan) Al Qur`an. Beliau sebenarnya kurang begitu suka dengan panggilan ini. Sebab penisbatannya kepada bapak tirinya. Sebagai buktinya, beliau tidak pernah menuliskan nama ini di dalam karya-karyanya. Wa ‘ala kulli hal, bersamanya, Ibnul Mulaqqin kecil tumbuh dan beranjak dewasa.

Kota Kairo di Mesir menjadi tempat kelahiran ulama ini. Tepatnya pada tanggal 22 Rabi’ul Awwal tahun 723 H.

Ulama hadits ini ditakdirkan Allah berstatus sebagai anak yatim sejak berumur 1 tahun. Tidak berapa lama setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki shaleh yang bernama Isa Al Maghribi yang berprofesi sebagai pengajar Al Qur`an di Masjid Jami’ Ibnu Tholon. Isa Al Maghribi ini dulunya juga merupakan teman akrab ayahnya.

Dalam perkembangannya, Ibnul Mulaqqin tumbuh di bawah pengawasan dan pembinaan ayah tirinya, Isa Al Maghribi.

Dengan kemudahan dari Allah, melalui ayah tirinya, Ibnu An Nahwi yang nantinya disebut juga sebagai Ibnul Mulaqqin, berhasil meraih kedudukan tinggi dalam ilmu agama. Sementara jarang sekali orang lain yang mampu menggapai tingkat ilmiah yang setara dengannya.

Di sinilah terlihat peran ayah tirinya dalam membentuk dan membimbingnya sehingga menjadi orang yang fakih dalam ilmu agama. Ini menjadi contoh yang baik bagi kita, bahwa seorang ayah tiri harus memperhatikan anak-anak dari istrinya, tanpa diskriminasi Keshalihan orang tua, meskipun bukan orang tua kandung sendiri, tetap mempunyai andil yang besar dalam membentuk manusia pilihan yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

 Ibnul Mulaqqin adalah orang yang haus terhadap ilmu agama. Beliau menuntaskan hafalan AlQur`an di tangan ayah tirinya. Kemudian beranjak menghafalkan kitab Umdatul Ahkam. Kitab ini berisi hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, hasil susunan Syaikh Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al Maqdisi, seorang ulama hadits yang wafat tahun 600 H. Pada awalnya, Ibnul Mulaqqin akan diarahkan untuk memperdalam ilmu fikih dari madzhab Maliki. Namun sahabat bapaknya yang lain, Ibnu Jama’ah, menyarankan Isa Al Maghribi agar mengajari Ibnul Mulaqqin fikih Syafi’i saja. Dari situ, kemudian beliau mendalami kitab Al Minhaj karya Imam An Nawawi, bahkan menghafalnya di luar kepala.

 Ibnul Mulaqqin tetap mendalami kitab tersebut di hadapan para ulama hadits pada zamannya. Berikutnya, beliau mengalihkan konsentrasinya pada ilmu hadits. Allah menanamkan kecintaannya kepada disiplin ilmu ini sejak kecil. Saking antusiasnya menggali ilmu hadits, beliau pun berguru kepada sebagian besar ulama yang ada di zamannya. Sampai ia berkomentar tentang dirinya sendiri: “Aku telah mempelajari 1000 lembaran hadits”. Allah memang telah memberikan keistimewaan kepada beliau berupa tekad baja dan kemudahan memahami ilmu, keuletan menggali hadits dari ulama, tidak mengenal kata letih, sehingga mata pun jarang terpejam.

Mengembara ke negeri orang merupakan tradisi para ulama, terutama ulama hadits. Profil kita ini juga tidak melupakan arti pentingnya rihlah (perjalanan) ke berbagai negeri dalam rangka memperdalam penguasaan ilmu syar’inya, terutama ilmu hadits.

Beliau telah mengunjungi Damaskus pada tahun 770 ditemani oleh putranya, Ali dan muridnya, Ibnu Burhan Al Halaby. Haramain juga pernah beliau kunjungi. Demikian juga wilayah Baitul Maqdis, beliau datangi untuk menemui Al Hafizh Al ‘Alai, penulis kitab Jami’u At Tahshil Fi Ahkami Al Marasil

Ibnul Mulaqqin merengkuh kebahagiaan besar lantaran dapat mereguk ilmu dari ulama-ulama besar di zamannya. Di antara ulama yang sempat memoles Ibnul Mulaqqin adalah Khalil bin Kaikaldi Al ‘Alai, Abdurrahman bin Ahmad Ash Shalihi, Abdurrahim bin Al Hasan Al Isnawi, tokoh terdepan dalam madzhab Syafi’i di masanya, Abdullah bin Yusuf yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Hisyam, beliau adalah pakar nahwu, Jamaluddin Yusuf bin Az Zaky Abu Al Hajjaj Al Mizzy, Abdul Aziz bin Muhammad yang lebih masyhur dengan nama Ibnu Jama’ah, pakar fiqh madzhab Syafi’iy, Ibrahim bin Ishaq Syarafuddin Al Munawi dan lain-lainnya.

Kitab merupakan bekal utama seseorang yang berniat mencari ilmu. Ulama yang sedang kita pelajari biografinya ini juga dikenal sangat banyak kitab koleksinya. Dengan kemudahan rejeki dari Allah dan sedikitnya tanggungan keluarga, beliau membangun sebuah maktabah pribadi (perpustakaan) dengan koleksi terlengkap.

- Ilustrasi dan tataletak iklan oleh Admin web -

Ibnu Hajar berkomentar tentang perpustakaan milik gurunya : “Di Kairo, aku belum pernah melihat seseorang yang kitabnya lebih banyak daripada Ibnu Mulaqqin”.

Maktabah ini menjadi sumber kebaikan bagi pemiliknya ataupun masyarakat. Namun Allah menakdirkan lain. Maktabah yang begitu besar ini luluh lantak termakan kobaran api besar yang menghabiskan seluruh isinya. Maka lenyaplah sumber-sumber rujukan, tulisan-tulisan dan kitab-kitab yang ada di dalamnya, termasuk karya beliau yang fenomenal yaitu kitab Jam’ul Jawami. Kesedihan mendera Ibnul Mulaqqin. Peristiwa ini sangat mempengaruhi kondisi beliau danmenyebabkannya mengurangi waktu mengajarnya. Sang anak menghibur ayahnya dengan sebuah bait syair yang berbunyi:

Wahai Sirajuddin, janganlah menyedihkanmu

Amukan api yang mempermainkan kitab-kitabmu

Kitab-kitab itu engkau persembahkan buat (di jalan) Allah dan telah diterima

Dan si jago merah mempercepat diterima persembahan kitabmu

Ibnul Mulaqqin telah mampu menulis kitab sejak remaja. Karena itu, beliau terkenal dengan berbagai karya tulisnya yang sangat banyak dan telah menyebar. As Subki dan Ibnu Katsir bahkan merekomendasikannya. Di antara kitab karya beliau adalah: Irsyadun Niyyah IlaTashihit Tanbih, Al I’lam Bi Fawaidi Umdatil Ahkam, ThabaqatulQura’, Thabaqatul Muhadditsin, Thabaqatul Auliya`, Syarah Al Muntaqa Fil Ahkam, Syarh Alfiyyah, At Tadzkirah Fi Ulumil Hadits, At Tadzkirah Fil Fiqhi Asy Syafi’i, Ikmal Tahdzibul Kamal, Al Isyraf Ala Athraf, dan lain-lainnya.

Popularitas dan produktifitasnya dalam menulis, serta tingginya frekuensi perjalanan ilmiahnya ke berbagai daerah menjadi magnet kuat yang menarik para pencari ilmu untuk menyesaki majlis ilmu Ibnul Mulaqqin.

Di antara murid beliau yang kemudian menjadi ulama besar ialah,Ibrahim bin Muhammad Ath Thrabulusi yang dikenal dengan Sibth Ibnu Al ‘Ajami pakar hadits di negeri Syam, Abu Zur’ah, putra Al Hafidz Al ‘Iraqi, Ahmad bin Ali Al Miqrizy, pakar sejarah, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, penulis Fathul Bari. Dan putra semata wayangnya yang bernama Ali, juga merupakan orang yang menekuni ilmu agama kepada ayahnya.

Kedalaman ilmunya diakui tidak hanya oleh murid-muridnya saja, tetapi juga ulama yang pernah mengajarinya. Di antara mereka yang memuji Ibnul Mulaqqin, yaitu gurunya sendiri yang bernama Al Hafidz Al ‘Alai, ia berkomentar : “Dia adalah seorang Asy Syaikh, Al Imam, Al ‘Alim, Al Muhadits, Al Hafizh, Al Mutqin, Sirajjudin, Syaraful Fuqaha’ wal Muhadditsin, Fakhrul Fudhala'”

Ibnu Hajar, sang murid memuji gurunya dengan: “Sesungguhnya Al Iraqi, Al Bulqini dan Ibnul Mulaqqin adalah keajaiban zaman dalam bidang hadits, penguasaan seluk-beluk madzhab Syafi’i dan banyaknya karya tulisnya”.

Sementara Sibth Ibnul Ajami, murid beliau yang lain mengatakan: “Beliau adalah satu-satunya orang yang banyak tulisannya. Ulasan beliau jelas”.

Beliau telah menghabiskan waktunya untuk berkhidmat kepada Islam, baik dengan pena ataupun dengan lisannya. Beliau meninggal pada usia 81 tahun. Tepatnya, pada malam Jumat, tanggal 16 Rabi’ul Awwal 804 H. Mudah-mudahan Allah senantiasa merahmati beliau dengan limpahan yang banyak.

Baituna Edisi 01/Tahun IX/1426H/2005M

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More