Antum Disini
Halaman Utama > Artikel > Mabhats > Rasûlullâh Wajib Diagungkan

Rasûlullâh Wajib Diagungkan

rasulullah

Sebagai seorang Muslim, kita sudah bersyahadat, memberi persaksian, bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh dan Muhammad itu adalah hamba dan Rasul Allâh. Diantara konsekuensinya adalah kewajiban mengagungkan dan mencintai Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah manusia paling mulia, semenjak manusia pertama sampai yang terakhir nanti. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam makhluk pilihan Allâh Azza wa Jalla. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan menjadi syâhid, saksi bagi umat ini pada hari Kiamat nanti. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang basyîr dan nadzîr. Basyîr, pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang bertakwa. Nadzîr, pembawa peringatan bagi mereka yang tetap dalam kekufuran dan melakukan perbuatan maksiat. Allâh berfirman:

إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًۭا وَمُبَشِّرًۭا وَنَذِيرًۭا. لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًا

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Fath/48:8-9)

Ibnu Abbas dan yang lainnya mengatakan bahwa وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ  maksudnya adalah menghormati dan mengagungkan. (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, Ibnu Katsir tentang ayat ini)

Beliau n adalah hamba Allâh, tapi tidak sama dengan hamba-hamba Allâh yang lain. Berbagai keistimewaan Allâh anugerahkan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada dalam kandungan ibunda, keistimewaannya sudah Allâh k perlihatkan lewat mimpi ibunda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya saja orang-orang sekitar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyadarinya. Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan, terjadi peristiwa besar yang karenanya tahun itu disebut dengan tahun gajah. Abrahah dengan mengendarai gajah hendak menghancurkan Ka’bah, namun sebelum niatnya terlampiaskan, Allâh menghancurkan mereka. Peristiwa ini diabadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam Surat al-Fîl. Diantara peristiwa besar yang dialami Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga diketahui oleh orang lain adalah peristiwa pembelahan dada. Saat itu, Allâh bersihkan diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sifat-sifat keburukan dan Allâh hiasi dengan sifat-sifat kebaikan.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh malaikat Jibril, ketika sedang bermain-main dengan anak-anak kecil. Malaikat Jibril memeganginya, lalu merebahkannya, lalu membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya. Lalu mengeluarkan segumpal daging darinya, dan (membuangnya) dia berkata, “Ini bagian setan darimu”. Kemudian Jibril mencucinya dengan air zamzam pada wadah emas. Lalu dia memperbaikinya dan mengembalikan ke tempatnya. Anak-anak berlarian menuju ibu susunya, mereka berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh”. Mereka lalu menjemputnya, sedangkan Beliau dalam keadaan pucat”. Anas berkata: “Aku telah melihat bekas jahitan pada dada Beliau”. (HR. Muslim, no. 162; Ahmad, no. 12221; 12506; 14069, Ibnu Hibban, no. 6334; Dishahihkan Syaikh Al-Albani di dalam Takhrij Fiqih Sirah)

Dan masih banyak peristiwa lain yang menunjukkan keistimewaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat masa kecilnya, remajanya dan akhirnya diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Dengan berbagai peristiwa itu, masihkah ada yang lancang untuk menghubungkan hal-hal yang buruk dengan diri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam?! Atau mengandai-andai keburukan yang dilakukan oleh Baginda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam?! Na’udzu billâh. Terlebih dalam status Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul Allâh. Hanya kepada Allâh kita memohon perlindugan dari semua kebathilan dan syubhat yang dihembuskan syaitan beserta bala tentaranya. [ ]

 

Intisari Mabhats  Majalah As-Sunnah edisi terbaru (no. 10 / Thn. XXIII), edar JUmadil AKhir 1441 H / Februari 2019.

Raih ilmu dan faedah dari berbagai materi menarik lainnya:

  • Hukum Melecehkan Agama
  • Membatasi Kelahiran Tanpa Udzur
  • Shalat Berjamaah di Bangunan Terpisah dari Imam
  • Dari Mana Shaf dimulai?
  • Kafir Menyentuh Terjemah al-Quran
  • Bagaimana Cara Menuju Kebangkitan Kaum Muslimin
  • Karakteristik Da’i yang Sukses
  • Jangan Samakan Panggilan Rasûlullâh dengan yang Lain!
  • Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Pemimpin Semua Anak Manusia
  • Hadits Lemah: Kafârat Orang yang meninggalkan shalat Jumat
  • Hukuman Tegas bagi Pencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Makna dan Cakupan Ibadah
  • Makna Wasathiyyah yang Dikehendaki Agama
  • Wudhu Tidak Sempurna Dosa Besar
  • Kesalahan dalam Ruku’ dan Bangkit dari Ruku’
  • SIRAH: Kedatangan Utusan Tsaqif
  • KHUTBAH JUM’AT : Wajibnya Saling Tolong Sesama Muslim
  • Dua Keadaan Manusia Terhadap Nikmat Allah
  • Segeralah Pulang, Usai Selesaikan Urusan dalam Safar
  • Barakahnya Waktu Pagi
  • Membekali Anak dengan Ilmu Syar’i
  • Tidak Menikahkan Anak Perempuan dengan Pria Fasik
  • Imam Abu Dawud bin Hind dan Cara Memanfaatkan Waktu

 

 

Leave a Reply

Top

Bagian Pemasaran Majalah As Sunnah

Hubungi Kami