Antum Disini
Halaman Utama > Artikel > Akidah > ORANG BERIMAN AKAN MELIHAT AR-RAHMAN

ORANG BERIMAN AKAN MELIHAT AR-RAHMAN

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini semua berita dari Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Mereka tidak menolaknya dengan akal atau perasaan. Mereka menetapkan apa yang ditentukan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dan mereka menolak apa yang ditolak oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Di antara perkara yang diimani oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berdasarkan berita dari Allâh dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang beriman akan melihat Allâh ar-Rahmân (Yang Maha Penyayang).

Orang-orang yang beriman akan melihat Allâh Azza wa Jalla di akhirat, bukan di dunia. Karena di dunia ini tidak ada seorangpun yang akan bisa melihat Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan mata kanan. Ini juga sebagai petunjuk, membuat orang-orang yang mengaku sebagai Tuhan, membuat mereka membawa banyak keajaiban, tetapi mereka bisa melihat dengan mereka, maka mereka adalah pendusta dan membawa kedustaan.

Ketika memberikan pesan tentang kedatangan Dajjal yang akan mengaku sebagai Tuhan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

Ketahuilah dengan pasti bahwa tidak ada seorangpun di antara kamu yang akan melihat Rabb-nya (Allâh) Azza wa Jalla sampai dia mati [HR. Muslim, tidak. 169]

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam kita, Beliau Shallallahu’ alaihi wa salam tidak pernah melihat Allâh Azza wa Jalla di dunia dengan mata kepala. Dengan rahmat Allâh, Dia menghubungkan diri-Nya dengan hijab (penutup) yang berupa cahaya, seandainya jilbab itu dibuka, niscaya seluruh makhluk akan binasa. Sebagaimana rahasia dalam hadits yang shahih:

عن أبي موسى, قال: قام فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس كلمات , فقال:”إن الله عز وجل لا ينام, ولا ينبغي له أن ينام, يخفض القسط ويرفعه, يرفع إليه عمل الليل قبل عمل النهار, وعمل النهار قبل عمل الليل ، حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

Dari Abu Musa al-Asy’ari z, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah berdiri di hadapan kami dan menyampaikan lima kalimat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,’ Sesungguhnya Allah Maha tidur, dan tidak layak Semua pernah tidur. Dia yang menurunkan dan menaikkan timbangan. Amalan malam hari sebelum-am sebelum siang, dan amalan siang hari sebelum amalan malam. Hijab-Nya adalah cahaya. Seandainya Allah menyingkap cahaya itu, tentu sinar wajah-Nya akan mendatangkan-Nya menjelang pandangan-Nya . [HR. Muslim, tidak. 179; Ahmad, 19587 dan 19632]

Oleh karena itu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam (saat mi’raj-red) adalah cahaya, yang merupakan hijab Allâh Subhanahu wa Ta’ala, yaitu diriwayatkan dalam hadits shahih ini:

عن عبد الله بن شقيق, قال: قلت لأبي ذر, لو رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم لسألته فقال: عن أي شيء كنت تسأله? قَالَ: كُنْتُ أَسْأَلُهُ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ قَالَ أَبُو ذَرٍّ: قَدْ سَأَلْتُ ، فَقَالَ: «رَأَيْتُ نُورًا»

Dari Abdullah bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada Abu Dzar z, seandainya aku melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam, aku pasti bertanya kepada Shallallahu’ alaihi wa salam” Abu Dzar z berkata, “Kamu akan bertanya tentang apa?” Dia menjawab, “Aku akan bertanya kepada Beliau, ‘apakah engkau melihat Rabb-mu?’. Abu Dzar z berkata, “Aku telah bertanya, Shallallahu ‘alaihi wa salamjawab,” Aku melihat cahaya “. [HR. Ahmad, tidak. 21392; Muslim, tidak. 178; at-Tirmidzi 3282]

DALIL-DALIL AL-QUR’AN
Banyak dalil dari al-Qur’an yang menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat Allâh Azza wa Jalla diakhirat, di cermin.

1. Firman Allah Azza wa Jalla:

أحسنوا الحسنى وزيادة للذين ولا يرهق وجوههم قتر ولا ذلة أولئك أصحاب الجنة هم فيها خالدون

Bagi orang-orang yang melakukan kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allâh Azza wa Jalla). Dan muka mereka tidak munculnya debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka Tulis penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya [Yûnus / 10: 26]

Kata “ tambahan ” dalam ayat ini oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam dengan melihat wajah Allâh Azza wa Jalla, termasuk di dalam hadits berikut ini:

عن صهيب, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:”إذا دخل أهل الجنة الجنة, قال: يقول الله تبارك وتعالى: تريدون شيئا أزيدكم? فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ ، وَتُنَاِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قال: فيكشف الحجاب, فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل “, ثم تلا هذه الآية: {للذين أحسنوا الحسنى وزيادة}: يونس: 26

Dari Shuhaib, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, Beliau Shallallahu’ alaihi wa salam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Apakah kamu (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga) ? ‘ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? ‘ Lalu Allâh membuka hijab (penutup yang mendorong diri-Nya), dan penghuni surga tidak pernah memenuhi (kenikmatan) yang lebih mereka sukai dari pada melihat Allâh Azza wa Jalla ”. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat, (yang berarti),’ Bagi orang-orang yang melakukan kebaikan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya ”. (Yûnus / 10: 26) [HR. Muslim, tidak. 297-298 / 181]

2. Firman Allah Azza wa Jalla:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ ﴿٢٠﴾ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ ﴿٢١﴾ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Sekali-kali tidaklah demikian. Memang kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan melepaskan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) waktu itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat . [Al-Qiyâmah / 75: 20-23]

Saat menjelaskan makna ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman ‘ Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) waktu itu berseri-seri ‘, dari kata nadh â rah , yaitu bagus, indah, berseri -seri, bergembira. Firman Allâh ‘ Kepada Rabbnyalah mereka melihat ‘, yaitu mereka melihat langsung diriwayatkan oleh imam al-Bukhâri rahimahullah di dalam kitab Shahihnya, “ Sesungguhnya kamu akan melihat Rabbmu secara langsung ”.

Dan sudah yakin bahwa orang-orang Mukmin akan melihat Allâh Azza wa Jalla di negeri akhirat. Diriwayatkan di dalam banyak hadits shahih dari jalur-garis mutawatir menurut imam-imam hadits, tidak mungkin menolaknya atau dihentikannya ”. [Tafsir Ibnu Katsir, 8/279, tahqiq: Salamah]

3. Firman Allah Azza wa Jalla:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Sekali-kali tidak, mereka (orang-orang kafir) pada hari kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka [al-Muthaffifin / 83: 15]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan Makna ayat Penyanyi, “Yaitu mereka (kafir orang-orang) PADA hari kiamat akan get rumah Dan Tempat Tinggal sijj Aku n (neraka). Kemudian mereka juga dihalang dari melihat Rabb dan Pencipta mereka.

Imam Abu Abdillah asy-Syafi’i t berkata, “Ayat ini merupakan dalil bahwa orang-orang Mukmin pada hari kiamat akan melihat Allâh Azza wa Jalla.”

Apa yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i ini sangat bagus, yaitu berdalil dengan pengertian ayat ini, termasuk hal ini oleh firman Allâh, yang berarti, “ Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) waktu itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat ”. [Al-Qiyamah / 75: 22-23]

Itu juga dibatalkan oleh hadits-hadits shahih yang mutawatir. Perangkat orang-orang Mukmin akan melihat Allâh Azza wa Jalla di negeri akhirat, melihat dengan mata di permukaan kiamat dan di taman-taman surga yang megah ”. [Tafsir Ibnu Katsir, 8/351, tahqiq: Salamah]

DALIL-DALIL AS-SUNNAH
Selain ayat-ayat al-Qur’an, banyak sekali hadits shahih memberitakan bahwa orang-orang Mukmin akan melihat Allâh Subhanahu wa Ta’ala di negeri akhirat. Diampilan sebagai berikut:

1.Hadits Jarir bin Abdullah Radhiyallahu anhu

عن جرير بن عبد الله, قال: كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم, فنظر إلى القمر ليلة – يعني البدر – فقال: «إنكم سترون ربكم, كما ترون هذا القمر, لا تضامون في رؤيته, فإن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا »ثُمَّ قَرَأَ: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الغُرُوبِ}

Dari Jarir bin Abdullah z, dia berkata, “Kami berada di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, kemudian Beliau melihat bulan purnama, lalu Beliau bersabda,’ Sesungguhnya Anda akan melihat Rabb Anda Ambil Anda melihat bulan ini. Kamu tidak mencari kesusahan untuk melihat-Nya. Jika Anda tidak mampu melepaskan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukannlah ”. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat, (yang berarti), “ Dan bertasbihlah sambil Mengumpulkan Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (nya)”. (Thaha / 20: 130; Qof / 50: 39) [HR. Al-Bukhari, no. 554, 573; Muslim, tidak. 633]

2. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

عن عطاء بن يزيد الليثي, أن أبا هريرة, أخبره أن ناسا قالوا لرسول الله صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة? فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «هل تضارون في رؤية القمر ليلة البدر?» قالوا: لا يا رسول الله, قال: «هل تضارون في الشمس ليس دونها سحاب?» قالوا: لا يا رسول الله, قال:”فإنكم ترونه,

Dari ‘Atha bin Yazid al-Laitsi, bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu anhu memberitakan sebaliknya, bahwa orang-orang (para Sahabat) bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu’ alaihi wa salam, “Wahai Rasûlullâh! Apakah kita akan melihat melihat Rabb kita di hari kiamat? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salamjawab ,’ Apakah Anda menemukan kesusahan melihat bulan saat malam purnama? ” Mereka Jawab,“ Tidak ”.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bertanya lagi , “ Apakah kamu menemukan kesusahan melihat matahari saat tidak ada mendung ?” Mereka Jawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Sesungguhnya kamu akan melihat Rabb kamu .” [HR. Al-Bukhari, no. 7473; Muslim, tidak. 182]

3. Hadits Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه: أن أناسا في زمن النبي صلى الله عليه وسلم قالوا: يا رسول الله هل نرى ربنا يوم القيامة? قال النبي صلى الله عليه وسلم «نعم, هل تضارون في رؤية الشمس بالظهيرة ضوء ليس فيها سحاب», قالوا: لا, قال «وهل تضارون في رؤية القمر ليلة البدر ضوء ليس فيها سحاب?»: قالوا: لا, قال النبي صلى الله عليه وَسَلَّمَ: ”مَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ القِيَامَةِ ، إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا

Dari Abu Said al-Khudri, bahwa orang-orang di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Apakah kita akan melihat melihat Rabb kita di hari kiamat? ”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salamjawab,’ Ya. Apakah Anda menemukan kesusahan melihat matahari di siang hari, apakah sinarnya tidak ada mendung ? ” Mereka Jawab,“ Tidak ”. Beliau bertanya Lagi , “ Apakah kamu get kesusahan Melihat hal bulan Saat Malam purnama, ketika cahayanya TIDAK ADA mendung ?” Mereka Menjawab, “TIDAK”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Kamu tidak akan menemukan kesusahan melihat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , selimut seperti kamu mencari kesusahan melihat matahari dan bulan ”. [HR. Al-Bukhari, no. 4581; Muslim, tidak. 183]

AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Apa yang telah kami sampaikan di atas adalah salah satu dari prinsip dasar Ahlus sunnah wal jamâ’ah, yang Diperlukan dalam kitab-kitab akidah para Ulama salaf. Yaitu mengimani bahwa kaum Mukminin akan melihat Allâh Subhanahu wa Ta’ala di akhirat nanti. Di antara Ulama yang menerangkan hal ini adalah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, beliau menyatakan, “(dasar dari prinsip Ahlus sunnah adalah kewajiban) mengimani (bahwa kaum Mukminin) akan melihat (Allâh Azza wa Jalla) pada hari kiamat, mereka yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam di dalam hadits-hadits yang shahih ”. [Kitab Ushûlus Sunnah , hlm. 23, cet. Dârul Manâr, Arab Saudi]

Oleh karena itu di antara doa yang diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam di dalam shalat adalah memohon kenikmatan lihat wajah Allah Azza wa Jalla:

اللهم بعلمك الغيب, وقدرتك على الخلق, أحيني ما علمت الحياة خيرا لي, وتوفني إذا علمت الوفاة خيرا لي, اللهم وأسألك خشيتك في الغيب والشهادة, وأسألك كلمة الحق في الرضا والغضب, وأسألك القصد في الفقر والغنى, وأسألك نعيما لا ينفد, وأسألك قرة عين لَا تَنْقَطِعُ ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ ال ظر إلى وجهك, والشوق إلى لقائك في غير ضراء مضرة, ولا فتنة مضلة, اللهم زينا بزينة الإيمان, واجعلنا هداة مهتدين »

Ya Allah! Dengan pengetahuan-Mu terhadap yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau tahu kehidupan itu lebih baik bagi-ku, dan matikanlah aku jika Engkau tahu kematian itu lebih baik bagiku.

Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon rasa takut kepada-Mu di saat itu sendiri maupun dalam keadaan terang-terangan, aku memohon perkataan yang benar-benar di saat senang atau marah, aku memohon kesederhanaan, baik dalam keadaan fakir maupun kaya, aku memohon kenikmatan yang tak akan habis, dan aku memohon perhotelan yang tak pernah putus. Aku memohon keridhoan atas ketetapan-Mu, aku memohon ketentraman setelah kematian, dan aku memohon kenikmatan tentang wajah-Mu, dan kerinduan bertemu dengan-Mu, tidak dalam kesusahan yang membinasakan dan cobaan yang menyesatkan.

Ya Allah! Hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memberi petunjuk dan memberi petunjuk. ”[HR. An-Nasai, 1305; Ahmad, tidak. 18325; Al-Hakim, tidak. 1923. Dishahihkan oleh Al-Albani dan Syu’ab al-Arnauth, dan lainnya]

Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi kita, keluarga, para sahabatnya, dan para pengikut setianya sampai hari pembalasan. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamiin .

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06 / Tahun XXI / 1438H / 2017M]

Leave a Reply

Top

Bagian Pemasaran Majalah As Sunnah

Hubungi Kami