Antum Disini
Halaman Utama > Artikel > Manhaj > NASEHAT SYAIKH AL-ALBANI KEPADA PEMUDA MUSLIM DAN PARA PENUNTUT ILMU

NASEHAT SYAIKH AL-ALBANI KEPADA PEMUDA MUSLIM DAN PARA PENUNTUT ILMU

[Diterjemahkan dari kitab Hayatu Al-Albani, hal:452-455,  karya Muhammad bin Ibrahim Asy-Syaibani]

Pertama-tama aku nasehatkan kepada kalian dan diriku untuk bertaqwa kepada Allah dan sebagian perkara yang menjadi cabang dari taqwa. Sebagian perkara yang menjadi cabang dari taqwa itu:

Yang pertama:

Hendaklah kalian thalabul ilmi (menuntut ilmu) dengan ikhlash hanya mengharap wajah Allah, dengan tidak mengharapkan balasan ataupun pujian (makhluk) dan tidak mengharapkan diutamakan di majelis-majelis. Tetapi menuntut ilmu hanyalah untuk meraih derajat yang khusus Allah berikan kepada ulama’ seperti dalam firmanNya l:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”  (Al-Mujadilah: 11)

Yang kedua:

Hendaklah kalian menjauhkan diri dari ketergelinciran yang menimpa sebagian penuntut ilmu. Salah satu ketergelinciran yang sering menimpa adalah tergesa-gesa untuk bangga kepada diri sendiri dan terpedaya dengan ilmu yang ia miliki. Sehingga dengan congkaknya ia mendongakkan kepalanya, tidak segan lagi berfatwa kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain dengan pendapat yang nampak baginya tanpa bertanya atau meminta bantuan kepada ahlul ilmi dari Salaf Shaleh. Generasi yang telah memberikan kepada kita warisan agung yang menerangi, yang berupa ilmu-ilmu keislaman. Padahal dengan warisan yang sangat berharga itu kita dapat mempergunakannya untuk memecahkan banyak bencana yang terus bertumpuk sepanjang  berlalunya masa demi masa. Sedang kita sempat hidup pada sebagian bencana itu. Masa-masa yang diliputi kegelapan yang pekat. Dengan merujuk perkataan dan pendapat Salaf Shaleh akan membantu kita melenyapkan kegelapan ini dan mengembalikan kita kepada sumber Al-Kitab dan Sunnah yang shahih. Dan tidak dapat dipungkiri akupun hidup pada masa yang di dalamnya terdapat dua perkara yang kontroversial.

Perkara yang pertama adalah bahwa kondisi kaum muslimin semuanya, baik syaikh (guru) ataupun para penuntut ilmu (murid), orang awam maupun orang khusus hidup dalam kubangan taklid. Tidak hanya taklid kepada madzhab tertentu saja, bahkan kepada nenek moyang mereka. Dan kita yang berada di tengah-tengah mereka menyerukan dakwah menuju Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Di sana sini dan di beberapa belahan bumi Islam ada individu-individu yang berjuang seperti kita. Kita semua bagaikan al-Ghuraba’  (orang-orang yang asing) yang diterangkan oleh Rasulullah n dalam beberapa hadits yang masyhur. Salah satunya adalah:

إِنَّ الإِسْلاَمَ بَدَأَ  غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ  فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam kedaan asing pula sebagaimana ia pertama kali muncul. Maka berbahagialah bagi al-Ghuraba’ (orang-orang yang asing).

Dalam sebagian riwayat yang lain beliau bersabda:

هُمْ نَاسٌ قَلِيْلٌ صَالِحُونَ بَيْنَ كَثِيرٍ ,مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

Mereka adalah orang-orang yang shalih yang jumlahnya sedikit, di tengah-tengah manusia. Orang yang mendurhakai mereka lebih banyak dari pada yang mentaati mereka.

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:

هُمُ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي مِنْ بَعْدِي

Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang dirusak oleh orang-orang sesudahku

Aku katakan bahwa kitapun turut hidup pada zaman itu. Kemudian kita mulai merasakan pengaruh yang baik terhadap dakwah al-Ghuraba’ al-Mushlihin  (orang-orang asing; yang melakukan perbaikan) di tengah barisan pemuda muslim. Dan kita perhatikan di banyak negeri Islam, para pemuda muslim konsisten dalam meniti jalan kebenaran dan sangat berambisi untuk tetap berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah yang shahih menurut mereka. Tetapi sayang, kegembiraan dengan kebangkitan yang sempat kita rasakan belakangan ini tidak lama, sampai saatnya kita dikejutkan dengan revolusi/pergolakan yang terjadi di tengah-tengah pemuda muslim di beberapa negara. Revolusi/Pergolakan yang hampir-hampir mematikan kebangkitan yang mulia ini. Apa penyebab semua ini ??? Disinilah ada ibrah (pelajaran), ternyata mereka diserang penyakit ‘ujub (rasa bangga pada diri sendiri) dan ghurur  (terpedaya) karena merasa telah memiliki ilmu yang benar. Penyakit ini tidak hanya menyerang generasi muda muslim, bahkan menimpa di tengah-tengah para syaikh, yaitu ketika mereka merasa lebih -karena kebangkitan ini- dari pada Ahlul Ilmi yang tersebar di negeri-negeri Islam. Demikian juga mereka tidak bersyukur kepada Allah k yang telah memberikan ilmu yang shahih beserta adab-adabnya kepada mereka. Bahkan mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mereka menganggap mereka telah memiliki sesuatu yang berarti, sehingga mulai mengeluarkan fatwa-fatwa mentah yang tidak dilandasi pada pemahaman Al-Kitab dan Sunnah. Muncullah fatwa-fatwa dari pemikiran-pemikiran yang tidak matang, mereka menganggap bahwa fatwa-fatwa tersebut merupakan ilmu yang diambil dari Al-Kitab dan Sunnah. Mereka telah sesat dengan pemikiran mereka sendiri dan mereka juga telah menyesatkan banyak orang lewat fatwa-fatwa tersebut. Tidak tersembunyi lagi buat kalian, bahwa di antara dampak hal itu, adalah munculnya suatu kelompok pada sebagian negara-negara Islam yang mengkafirkan seluruh kelompok-kelompok Islam lainnya dengan berbagai filsafat yang tidak pada tempatnya untuk membahasnya pada saat yang sempit ini.  Apalagi saya sedang menasehati dan mengingatkan saudara-saudara penuntut ilmu dan segenap da’i. Oleh karena itu aku nasehatkan kepada saudara-saudara kami, Ahlu Sunnah dan Jama’ah supaya tetap bersabar dalam menuntut ilmu dan supaya mereka tidak terpedaya dengan ilmu yang telah mereka petik. Hendaklah mereka hanya menelusuri jalan (Salaf Shalih) saja, dan janganlah semata-mata berpegang kepada pemahaman mereka atau yang biasa mereka sebut dengan ijtihad. Aku telah banyak mendengar dari saudara-saudara kita yang mengatakan dengan sangat mudah dan enteng tanpa memperdulikan akibat-akibatnya: “Aku berijtihad demikian, Aku berpendapat demikian, Aku tidak berpendapat demikian” dan ketika anda tanya kepada mereka: “Dengan dasar apa anda berijtihad sehingga anda berpendapat demikian? Apakah anda menyandarkan pada pemahaman Al-Kitab dan Sunnah serta ijma’ (kesepakatan) ulama’ dari kalangan shahabat dan selain mereka? Dan dengan apa anda meminta bantuan, apakah dengan kitab fiqih, hadits dan pemahaman para ulama’? ataukah hanya hawa nafsu beserta pemahaman, penelitian, atau pengambilan dalil yang tidak matang?” Inilah penyebabnya. Aku yakin ini merupakan manifestasi ‘ujub dan ghurur yang menimpa mereka. Akhir-akhir ini aku juga telah mendapati di negeri-negeri Islam fenomena yang sangat aneh pada sebagian karya-karya. Yaitu bahwa seorang yang memusuhi hadits berbalik menjadi penyusun (kitab) dalam ilmu hadits, . hanya untuk dikatakan bahwa ia telah menyusun (kitab) dalam ilmu hadits. Jika engkau meneliti karyanya dalam ilmu hadits yang mulia tadi, niscaya engkau mendapatinya semata-mata nukilan-nukilan yang dia kumpulkan dari sana dan sini, lalu dia menyusunnya menjadi kitabnya itu. Coba anda pikirkan, apa pemicu dari semua ini? Tiada lain pemicunya adalah cinta terhadap popularitas. Dan benarlah perkataan orang yang mengatakan:

حُبُّ الظُّهُوْرِ يَقْطَعُ الظُّهُوْرَ

Cinta popularitas akan mematahkan punggung.

Oleh karena itu aku mengulangi kembali perkataanku kepada saudara-saudaraku para penuntut ilmu agar menjauhi setiap akhlaq non Islam, dengan demikian agar supaya tidak terpedaya dengan ilmu yang telah diraihnya dan terhindar dari sifat ‘ujub. Dan hendaklah memberikan nasehat kepada manusia dengan yang lebih baik dan menjauhi metode atau gaya bahasa yang keras dan kasar dalam berdakwah, karena kita sama-sama meyakini firman Allah k:

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

Berdakwahlah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik (An-Nahl:125)

Allah berfirman demikian disebabkan oleh karena al-Haq itu sendiri adalah perkara yang berat untuk manusia, berat untuk jiwa-jiwanya. Oleh karena itu jiwa-jiwa manusia enggan (sombong) untuk menerimanya kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Maka jika beratnya al-haq pada jiwa manusia telah menyatu dengan perkara lain yaitu keberatan yang lain berupa kekerasan dalam berdakwah, maka sungguh ini merupakan tanfir (membuat orang lari) menjauhi dari dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Rasul n:

إِنَّ مِنْكُمْ لَمُنَفِّرِينَ

Sungguh diantara kalian ada orang-orang yang melarikan manusia (dari dakwah). Rasulullah n mengucapkannya tiga kali.

Demikian akhirnya aku memohon kepada Allah k agar tidak menjadikan termasuk orang-orang yang membuat manusia lari dari dakwah ini, melainkan menjadikan kita sebagai orang-orang yang bijak dan beramal dengan Al-Kitab dan as-Sunnah. Aku titipkan kamu sekalian kepada Allah, Wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuhu.

 

[ Majalah As-Sunnah Edisi 04 Tahun V / 1421H-2001M]

Leave a Reply

Top

Bagian Pemasaran Majalah As Sunnah

Hubungi Kami