Antum Disini
Halaman Utama > Author: Majalah As Sunnah

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI BULAN RAMADHAN

Tamu agung nan penuh barakah akan kembali mendatangi kita. Kedatangannya yang terhitung jarang, hanya sekali dalam setahun menumbuhkan kerinduan mendalam di hati kaum Muslimin. Leher memanjang dan mata nanar memandang sementara hati berdegup kencang menunggu kapan gerangan hilalnya terbit. Itulah Ramadhân, bulan yang sangat dikenal dan benar-benar ditunggu kehadirannya oleh kaum Muslimin. Kemuliaanya diabadikan dalam al-Qur’ân dan melalui untaian-untaian sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh Azza wa Jalla menjadikannya sarat dengan kebaikan, mulai dari awal Ramadhan sampai akhir. Allâh Azza wa Jalla berfirman شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.[al-Baqarah/2:185] Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya. Pada bulan ini Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur’ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur’ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah Azza wa Jalla membebaskan banyak jiwa dari api neraka. Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, “Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !” Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak. Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap. Melalui naskah ringkas ini, marilah kita berusaha untuk mempelajari prilaku Rasûlullâh di bulan Ramadhân agar kita bisa meneladaninya. Karena orang yang tidak berada diatas petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dia tidak akan bisa bersama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat. Kebahagiaan tertinggi akan bisa diraih oleh seseorang ketika ia mengikuti petunjuk Rasûlullâh secara lahir dan batin. Dan seseorang tidak akan bisa mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu tidak akan disebut bermanfaat kecuali bila diiringi dengan amalan yang shalih. Jadi amalan shalih merupakan buah ilmu yang bermanfaat. Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhân: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya’bân menjadi tiga puluh. Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya’bân-red) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama. Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh Azza wa Jalla : وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ “Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”. [al-Baqarah/2:187] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyari’atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ “Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka” Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur’ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali”. Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarga semakin meningkat lagi. Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh Azza wa Jalla. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus). Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh. Diantara bukti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sayang kepada umatnya yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan oranng yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri’tikaf, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu dalam keadaan berpuasa Ramadhân adalah syahrul Qur’ân (bulan al-Qur’ân), sehingga tadarus al-Qur’ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tadarus al-Qur’ân. Malaikat Jibril Alaihissallam senantiasa datang menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tadarus al-Qur’ân dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr [1], penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah Azza wa Jalla mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. _______ Footnote [1]. Masjid yang dibangun oleh [Majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431H/2010M]

AMALAN PUASA RAMADHAN

DEFINISI PUASA Secara bahasa, puasa (ash shiyam) dalam bahasa Arab artinya menahan diri, seperti tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا “Aku telah bernadzar kepada Allah untuk menahan diri (dari berbicara)”.[Maryam : 26]. Adapun secara istilah syar’i ialah, menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan disertai niat. AMALAN-AMALAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PUASA 1. Niat. Jika telah masuk bulan Ramadhan, wajib bagi setiap muslim untuk berniat puasa pada malam harinya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu”. [Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Al Baihaqi, dari Hafshah binti Umar] Niat itu, tempatnya berada di hati. Sedangkan melafalkannya, termasuk amal bid’ah. Berniat puasa pada malam hari, ini khusus untuk puasa wajib saja. Qiyam Ramadhan. a). Qiyam Ramadhan Disyariatkan Dengan Berjamaah. Dalam melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) disyariatkan berjamaah. Bahkan berjamaah itu lebih utama dibandingkan mengerjakannya sendirian, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan hal tersebut dan menjelaskan keutamaannya. Tersebut dalam hadits Abu Dzar: صُمْنَا مَعَ رَسُولِ الهِd صَلَّى الهُa عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ “Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah. Beliau tidak mengimami shalat tarawih kami selama bulan itu, kecuali sampai tinggal tujuh hari. Saat itu, Beliau mengimami kami (shalat tarawih) sampai berlalu sepertiga malam. Pada hari keenam (tinggal 6 hari), Beliau tidak shalat bersama kami. Baru kemudian pada hari kelima (tinggal 5 hari), Beliau mengimami kami (shalat tarawih) sampai berlalu separoh malam. Saat itu kami berkata kepada Beliau: ‘Wahai Rasulullah. Sudikah engkau menambah shalat pada malam ini’. Beliau menjawab,’Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imamnya sampai selesai, niscaya ditulis baginya pahala shalat satu malam’. Lalu pada malam keempat (tinggal 4 hari), kembali Beliau tidak mengimami shalat kami. Dan pada malam ketiga (tinggal 3 hari), Beliau kumpulkan keluarga dan istri-istrinya serta orang-orang, lalu mengimami kami (pada malam tersebut) sampai kami takut kehilangan kemenangan. Aku (perawi dari Abu Dzar) berkata: Aku bertanya, Apa kemenangan itu?. Beliau (Abu Dzar) menjawab, Sahur.” [HR At Tirmidzi]. Demikianlah shalat tarawih atau qiyamu ramadhan tidak dilaksanakan dengan berjamaah pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masa Abu Bakar, sampai pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Rasulullah tidak melakukannya secara berjamaah terus-menerus, sebab Beliau khawatir hal itu akan diwajibkan atas kaum Muslimin, sehingga ummatnya tidak mampu mengerjakannya. Disebutkan dalam hadits Aisyah (dalam Shahihain): “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada suatu malam, lalu shalat di masjid, dan beberapa orang ikut shalat bersamanya. Pagi harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka berkumpullah orang lebih banyak dari mereka, lalu (Rasulullah) shalat dan orang-orang tersebut shalat bersamanya. Pada keesokan harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka pada malam ke tiga, jama’ah semakin banyak, lalu Rasulullah keluar dan shalat bersama mereka. Ketika malam ke empat masjid tidak dapat menampung jama’ah (namun Beliau tidak keluar) sehingga Beliau keluar untuk shalat Subuh; ketika selesai shalat Subuh, Beliau menghadap jama’ah, lalu membaca syahadat dan bersabda: Amma ba’du. Aku sudah mengetahui sikap kalian. Akan tetapi, aku khawatir shalat ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak mampu melaksanakannya. Lalu (setelah beberapa waktu) Rasulullah meninggal, dan perkara tersebut tetap dalam keadaan tidak berjamaah”. [HR Al Bukhari dan Muslim]. Jadi, sebab shalat ini tidak dilaksanakan secara berjama’ah terus-menerus pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekhawatiran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau-kalau shalat ini diwajibkan atas umatnya. Dan sebab ini telah hilang dengan wafatnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena dengan wafatnya beliau berarti agama ini telah disempurnakan oleh Allah Azza wa Jalla, tidak mungkin lagi ada penambahan. Dengan demikian, tinggallah hukum disyariatkannya berjamaah dalam qiyam Ramadhan (baca tarawih) yang hal itu dihidupkan oleh Umar bin al-Khaththab pada kekhalifaannya. b). Jumlah Rakaatnya. Menurut pendapat yang rajih (kuat), qiyam ramadhan dikerjakan 11 rakaat, dan boleh kurang darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan banyaknya maupun panjang bacaannya. c). Waktunya. Waktunya dikerjakan dari setelah shalat Isya` sampai munculnya fajar Subuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِنَّ اللهَ زَادَ كُمْ صَلاَةً ،وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ “Sesungguhnya Allah telah menambah kalian satu shalat, dan dia adalah witir, maka shalatlah kalian antara shalat Isya sampai shalat Fajar”. [HR Ahmad dari Abi Bashrah, dan dishahihkan Al Albani dalam Qiyam Ar Ramadhan, 26]. d). Qunut. Setelah selesai membaca surat dan sebelum ruku, kadang-kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca qunut, dan boleh dilakukan setelah ruku. e). Bacaan Setelah Shalat Witir. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْس Cara membaca doa ini, yaitu dengan memanjangkan suara dan meninggikannya pada yang ketiga. 3). Sahur. Allah mensyariatkan sahur atas kaum Muslimin untuk membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka, sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri : فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُوْرِ رواه مسلم “Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur”. [Riwayat Muslim]. a). Keutamaan Sahur. • Sahur adalah berkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللهُ إِيَّاهَا فَلاَ تَدَعُوْهُ رواه النسائي وأحمد بسند صحيح “Sesungguhnya sahur adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, maka kalian jangan meninggalkannya”. [Riwayat An Nasa-i dan Ahmad, dengan sanad yang shahih]. Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas, karena itu mengikuti Sunnah dan menguatkan orang berpuasa, serta menambah semangat untuk menambah puasa. Juga mengandung maksud untuk membedakan dengan ahli kitab. Shalawat dari Allah dan malaikat ditujukan kepada orang yang bersahur. Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: السَّحُوْرُ أَكْلَةُ الْبَرَكَةِ، فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ رواه ابن أبي شيبة وأحمد “Sahur adalah makanan berkah, maka kalian jangan tinggalkan, walaupun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang bersahur”.[Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad]. b). Mengakhirkan Sahur Adalah Sunnah. Disunnahkan memperlambat sahur sampai mendekati Subuh (Fajar), sebagaimana disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit, ia berkata : تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيْثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ:كَمْ كَانَ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَالسُّحُوْرِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِيْنَ آيـة رواه البخاري ومسلم “Kami sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau pergi untuk shalat. Aku (Ibnu Abbas) bertanya: Berapa lama antara adzan dengan sahur? Dia menjawab, Sekitar 50 ayat.” [Riwayat Al Bukhari dan Muslim] c). Hukum Sahur. Sahur merupakan sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Dalilnya : • Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السُّحُوْرِ بَرَكَةً رواه البخاري ومسلم “Bersahurlah, karena dalam sahur terdapat berkah”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]. Larangan meninggalkan sahur sebagaimana tersebut dalam hadits Abu Sa’id yang terdahulu. Oleh karena itu, Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (3/139) menukilkan ijma tentang sunnahnya sahur. Waktu Puasa. Waktu puasa dimulai dari terbit fajar Subuh sampai terbenam matahari. Dalilnya, yaitu firman Allah, yang artinya : “Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam”. [Al-Baqarah/2:186]. Setelah jelas waktu fajar, maka kita menyempurnakan puasa sampai terbenam matahari, lalu berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَ أَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ رواه البخاري ومسلم “Jika telah datang waktu malam dari arah sini dan pergi waktu siang dari arah sini serta telah terbenam matahari, maka orang yang berpuasa telah berbuka”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim] Waktu berbuka tersebut dapat dilihat dengan datangnya awal kegelapan dari arah timur setelah hilangnya bulatan matahari secara langsung. Semua itu dapat dilihat dengan mata telanjang, tidak memerlukan alat teropong untuk mengetahuinya. Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa. a). Makan dan minum dengan sengaja. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya : “Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” [Al-Baqarah/2:186]. b). Sengaja untuk muntah, atau muntah dengan sengaja. c). Haid dan nifas. d). Injeksi yang berisi makanan (infus). e). Bersetubuh. Perkara-Perkara Lain Yang Harus Ditinggalkan Saat Berpuasa. a). Berkata bohong. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ اْلعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِلهُِ حَاجَةً أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه رواه البخاري “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum”. [Riwayat Al Bukhari]. b). Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan). Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَابِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ رواه ابن خزيمة والحاكم “Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum, (tetapi) puasa itu adalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah : Saya sedang puasa. Saya sedang puasa”. [Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim]. Perkara-Perkara Yang Dibolehkan. a). Orang yang junub sampai datang waktu fajar, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan fajar (Subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya, kemudian mandi dan berpuasa”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]. b). Bersiwak. c). Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika berwudhu`. d). Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang berpuasa, dan dimakruhkan bagi orang-orang yang berusia muda, karena dikhawatirkan hawa nafsunya bangkit. e). Injeksi yang bukan berupa makanan. f). Berbekam. g). Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan. h). Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata. i). Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi. Orang-Orang Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa. a). Musafir (orang yang melakukan perjalanan atau bepergian ke luar kota). Mereka diberi kemudahan oleh Allah untuk berbuka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya : “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain”. [Al-Baqarah/2 :185]. Mereka diperbolehkan berbuka dan mengqadha (mengganti) puasanya pada bulan-bulan yang lainnya. b). Orang yang sakit diperbolehkan berbuka puasa pada bulan Ramadhan sebagai rahmat dan kemudahan yang Allah limpahkan kepadanya. Orang Sakit yang dibolehkan untuk berbuka puasa, jika sakit tersebut dapat membahayakan jiwanya, atau menambah sakitnya yang ditakutkan akan mengakhirkan atau memperlambat kesembuhannya jika si penderita berpuasa. c). Wanita yang sedang haid atau nifas diwajibkan berbuka, maksudnya tidak boleh berpuasa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَ لَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا “Bukankah kalau dia sedang haid tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa? Maka itulah kekurangan agamanya”. [HR Bukhari]. Juga hadits Aisyah ketika beliau ditanya tentang wanita yang mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalatnya: كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ صَوْمِنَا وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ صَلاَتِنَا “Dulu kamipun mendapatkannya, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat”. [HR Bukhari dan Muslim]. Berdasarkan ijma’ para ulama, maka wanita yang sedang haid atau nifas, diwajibkan berbuka dan mengqadha puasanya pada bulan-bulan yang lain. d). Orang yang sudah tua dan lemah, baik laki-laki maupun perempuan dibolehkan untuk berbuka, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas: “Orang laki-laki dan perempuan tua yang sudah tidak mampu berpuasa, maka mereka memberi makan setiap hari seorang miskin”. [Riwayat Al Bukhari, no. 4505]. e). Wanita sedang hamil atau menyusui, yang takut terhadap keselamatan dirinya dan anak yang dikandungnya atau anak yang disusuinya, juga termasuk yang mendapat keringanan untuk berbuka. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali fidyah. Demikian ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ishaq. Dalilnya ialah firman Allah, yang artinya : Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah (jika mereka tidak puasa), (yaitu) memberi makan seorang miskin. [Al-Baqarah/2 : 184]. Ayat ini dikhususkan bagi orang tua yang sudah lemah, orang sakit yang tidak kunjung sembuh, orang hamil dan menyusui jika keduanya takut terhadap keselamatan dirinya atau anaknya. Karena ayat di atas telah dinasakh oleh ayat yang lain, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdulah bin Umar dan Salamah bin Al Akwa’: كُنَّا فِيْ رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِيْنِ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الأَيَةُ : فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْ. “Kami dahulu pada bulan Ramadlan dimasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mau berpuasa, boleh dan yang tidak bepuasa juga boleh, tapi memberikan makan kepada satu orang miskin, sampai turun ayat (yang artinya) “Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu, -al Baqarah ayat 185-. Akan tetapi Ibnu Abbas berpendapat, bahwa ayat tersebut tidak dinasakh (dihapus). Ayat ini khusus bagi orang-orang tua yang tidak mampu berpuasa, dan mereka boleh memberi makan satu orang miskin setiap hari. (Lihat perkataannya yang diriwayatkan Ibnul Jarut, Baihaqi dan Abu Dawud dengan sanad shahih). Pendapat ini dikuatkan juga oleh hadits Mu’adz bin Jabal, ia berkata: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَيَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِلَى قَوْلِهِ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا أَجْزَأَهُ ذَلِكَ وَهَذَا حَوْلٌ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ إِلَى أَيَّامٍ أُخَرَ فَثَبَتَ الصِّيَامُ عَلَى مَنْ شَهِدَ الشَّهْرَ وَعَلَى الْمُسَافِرِ أَنْ يَقْضِيَ وَثَبَتَ الطَّعَامُ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ اللَّذَيْنِ لَا يَسْتَطِيعَانِ الصَّوْمَ “Sesungguhnya Rasulullah setelah datang ke Madinah memulai puasa tiga hari setiap bulan dan puasa hari Asyura, kemudian Allah turunkan firmanNya ” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kelian berpuasa…” sampai pada firmanNya “…memberi makan.”. Ketika itu, siapa yang ingin berpuasa, dia berpuasa. Dan yang ingin berbuka (tidak puasa), bisa menggantinya dengan memberi makan satu orang miskin. Ini selama satu tahun. Kemudian Allah menurunkan lagi ayat yang lain “Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al Qur’an …” sampai pada firmanNya “..di hari yang lain ..”. Maka puasa tetap wajib bagi orang yang mukim (tidak safar) pada bulan tersebut, dan bagi musafir wajib mengqadha puasanya, dan menetapkan pemberian makanan bagi orang-orang tua yang tidak mampu untuk berpuasa … . ” [HR Abu Dawud, Baihaqi dan Ahmad]. Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid dan Salim Al Hilali dalam Shifat Shaum Nabi, lihat halaman 80-84. Berbuka Puasa. a). Mempercepat waktu berbuka puasa. Termasuk sunnah dalam puasa, yaitu mempercepat waktu berbuka. Sebagaimana dikatakan oleh Amr bin Maimun Al Audi, bahwa sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya. [Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, no. 7591 dengan sanad yang dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bary, 4/199]. Manfaat dari mempercepat berbuka ialah : Untuk mendapatkan kebaikan. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ رواه البخاري ومسلم “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya.”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]. Merupakan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. • Untuk membedakan dengan puasa ahli kitab, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لأَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَهُ رواه أبو داود وابن حبان بسند حسن “Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum Muslimin) mempercepat buka puasanya, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya”. [Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan]. Dan berbuka puasa dilakukan sebelum shalat Maghrib, karena merupakan akhlak para nabi. b). Makanan Berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk berbuka dengan kurma, dan kalau tidak ada, maka dengan air sebagaimana dikatakan Anas bin Malik: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan kurma, dan kalau tidak ada kurma, Beliau menghirup (meminum) beberapa teguk air”. [HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih]. Ini merupakan kesempurnaan kasih sayang dan perhatian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya. c). Bacaan Ketika Berbuka. Berdoa ketika berbuka termasuk dari doa-doa yang mustajab, sebagaimana disabdakan Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ “Ada tiga doa yang mustajab, (yaitu): doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terzhalimi dan doanya para musafir”. [HR Al Uqaili]. Sebaiknya berdoa dengan doa: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَ ثَبَتََ الأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ “Mudah-mudahan hilang dahaga, basah otot-otot dan mendapat pahala, insya Allah”. d). Memberi Makan Kepada Orang Yang Berpuasa. Hendaknya orang yang berpuasa menambah pahala puasanya dengan memberi makan orang yang berbuka puasa. Orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرُ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا “Barangsiapa yang memberi buka puasa orang yang berpuasa, maka dia mendapat (pahala) seperti pahalanya (orang yang berbuka itu) tanpa mengurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut”. [HR Ahmad dan At Tirmidzi] Adab Orang Yang Berpuasa. a). Memperlambat sahur. b). Mempercepat berbuka puasa. c). Berdoa ketika berpuasa dan ketika berbuka. d). Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa. e). Bersiwak. f). Memperbanyak berinfak dan tadarus Al Qur`an. g). Bersungguh-sungguh dalam beribadah, khususnya pada sepuluh hari terakhir. Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah puasa yang kamisampaikan secara singkat. Mudah-mudahan bermanfaat. Maraji` : 1. Shifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, oleh Salim Al Hilali dan Ali Hasan. 2. Fatawa Ramadhan. 3. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. 4. Qiyam Ar Ramadhan, Syaikh Muhammad Nashruddin Al Albani. [Majalah As-Sunnah Edisi, 06/Tahun IX/1426/2005M]

MENYAMBUT KEMULIAAN BULAN MULIA 

Ramadhan Bulan Al-Qur’an  Ini adalah bulan (yang di dalamnya diturunkan) Al-Qur’an dan bulan yang penuh keridhoan. Bulan kemurahan dan kebaikan, bulan rahmat dan kasih sayang serta ampunan. Inilah bulan Ramadhan. Sungguh, hari-harinya telah datang menaungi kalian. Berita gembira bulan ini menyeruak dengan membawa kabar berupa kebaikan, digugurkannya dosa-dosa, dan dibebaskan dari neraka, serta mendapatkan kemenangan berupa keridhaan Allâh Azza wa Jalla . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ؛ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ – تَعَالَى -: إِلَّا الصَّوْمَ ؛ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ؛ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ ؛ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، Setiap amal kebaikan (yang dilakukan) anak adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan diganjar 10 kali lipat kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat, Allâh berfirman, ”Kecuali puasa, sesungguhnya (amalan) puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya. Ia meninggalkan syahwat, dan makannya karena Aku. Untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Dan sungguh aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allâh dari wangi minyak kasturi”[2] Sambutlah Bulan Ramadhan! Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin! Sambutlah bulan Ramadhan (tahun ini) dengan senang dan gembira. Niatkan untuk memperbanyak ketaatan serta lebih mendekatkan diri Kepada Nya. Berusahalah melakukan ibadah-ibadah dan bertaubat dari kejelekan dan dosa. Dan hendaklah kita berpuasa pada bulan Ramadhan karena dasar iman dan dengan mengharap pahala. Niscaya Allâh Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dalam hadits yang shahih, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً وَاحْتِسَاباً ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka Allâh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu [3] Sungguh, alangkah agungnya kenikmatan ini! Betapa mulianya berita gembira ini. Di bulan yang berkah ini setan-setan dibelenggu. Pintu-pintu Surga dibuka sedangkan pintu-pintu neraka Jahim ditutup. Para penyeru hidayah pun berseru, wahai kaum Muslimin! Marilah menuju ketaatan kepada Allâh! Marilah kita menggapai keridhaan Allâh! Sambutlah agar dibebaskan dari neraka! Marilah menuju surga! Dalam sebuah hadits, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ غُلِّقَتِ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ فِي كُلُّ لَيْلَةٍ حَتَّى يَنْقَضِيَ رَمَضَانُ. Apabila awal malam dari bulan Ramadhan (telah tiba-red) ditutuplah pintu-pintu neraka dan tidak ada satupun pintu yang dibuka, dan dibuka pintu-pintu surga, tidak ada satupun darinya yang ditutup. Penyeru (dari malaikat) pun berseru, ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan! Sambutlah! Wahai orang-orang yang menginginkan keburukan! Tahanlah! Dan Allâh mempunyai orang-orang yang akan dibebaskan dari neraka, dan hal itu ada pada setiap malam sampai bulan Ramadhan berakhir”[4] Maka penuhilah panggilan para penyeru kebaikan dan ketaatan ini! Jawablah seruan mereka dengan puasa kita. Jawablah seruan mereka dengan jiwa yang bersih yang menginginkan balasan yang ada di sisi Allâh, dan dengan hati yang dipenuhi rasa takut yang tidak menginginkan perkara-perkara yang dimurkai Allâh Azza wa Jalla . Dan berbekallah kalian di bulan kalian ini dengan segala amalan yang dapat menambahkan kedekatan kepada Rabb! Isilah waktu-waktu kalian di bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih, dengan bertasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, membaca Al-Qur’an, juga menjaga shalat wajib lima waktu dengan berjamaah. Jadikanlah malam-malam di bulan Ramadhan ini kalian isi dengan shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir dan berdoa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا واحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Barang siapa shalat (malam) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka Allâh mengampuni dosa- dosanya yang telah lalu[5] Perihal Shalat Tarawih Termasuk qiyam Ramadhan adalah shalat Tarawih. Dahulu, orang-orang pada masa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat berkelompok-kelompok di masjid Beliau. pernah shalat berjamaah bersama mereka selama 3 malam pada bulan Ramadhan, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya dan bersabda : خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ Aku khawatir kalau-kalau shalat malam akan diwajibkan atas kalian.[6] Setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan syariat telah mapan sempurna, Umar Radhiyallahu anhu mengumpulkan orang-orang atau mereka yang mau shalat untuk shalat dipimpin satu imam di Masjid Nabawi. Dan demikianlah keadaan kaum Muslimin, senantiasa seperti itu hingga sekarang ini. Shalat malam adalah perkara yang longgar pelaksanaannya. Dahulu, kebanyakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat 11 rakaat, dengan memanjangkan bacaan, rukuk, dan sujudnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam salam setiap 2 rakaat serta  shalat witir dengan satu rakaat. Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat malam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ، صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى Shalat malam 2 rakaat 2 rakaat. Bila salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu Shubuh, hendaklah dia shalat (witir)1 rakaat untuk menngganjilkan (bilangan) shalat yang telah dia kerjakan[7] Hadits mulia ini menunjukkan adanya kelonggaran dalam pelaksanaan shalat malam pada bulan Ramadhan dan malam lainnya. Dan perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa shalat malam dengan 11 rakaat yang berdiri, rukuk, dan sujudnya panjang, adalah shalat yang lebih baik dibandingkan shalat dengan jumlah rakaatnya yang banyak tapi dilakukan dengan cepat dan tergesa-gesa. Banyak di antara kaum Muslimin yang shalat pada bulan Ramadhan dengan shalat yang tidak khusyu’ dan tidak tenang (karena terlalu cepat) . Ini tidak diperbolehkan, karena thuma’ninah dalam shalat termasuk kewajiban dan rukun shalat yang paling besar. Dan setiap shalat yang tidak ditunaikan dengan dengan khusyu’ dan thuma’ninah, maka shalatnya batal. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang shalatnya tidak benar dan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya: ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ Kembalilah dan shalatlah (lagi) karena sesungguhnya kamu belum shalat Hingga orang itu melakukannya 3 kali, kemudian dia mengatakan, “Ya Rasûlullâh! Demi Allâh yang telah mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini. Maka ajarilah aku!” Nabi pun Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا  Jika kamu (akan melaksanakan) shalat maka (mulailah dengan) bertakbir. kemudian bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian rukuklah sampai tuma’ninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah sampai sempurna berdiri, kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah sampai tuma’ninah dalam duduk, kemudian sujudlah sampai tumakninah dalam sujud, kemudian lakukanlah itu dalam shalatmu seluruhnya” [8]  Perhatikanlah Masalah Shalat! Wahai kaum Muslimin! Bertakwalah kepada Allâh Azza wa Jalla dalam shalat kalian. Thuma’ninahlah dalam shalat, dan hadirkan hati kalian di hadapan Allâh! Sesungguhnya shalat adalah penyejuk pandangan mata dan ketenangan bagi hati, serta kenikmatan bagi jiwa. Sungguh, telah sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ Sungguh, jika salah seorang di antara kalian melaksanakan shalat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat kepada Rabbnya[9] dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ Dijadikan penyejuk pandangan mataku dalam (melaksanakan) shalat[10] Dan engkau wahai Muslim! Sesungguhnya dalam shalatmu (engkau sedang) bermunajat kepada Rabbmu, engkau membaca firman-Nya dan meminta kepada-Nya dengan berbagai macam doa. Maka khusyu’lah dalam shalatmu! Jadikan shalat sebagai penyejuk pandangan matamu, sehingga engkau bisa mendapat ketenangan di dalamnya, khusyu’ untuk Rabbmu, dan menunaikan hak-Nya secara sempurna. Dengan demikian engkau akan mendapatkan kesuksesan berupa diterimanya amal dan ampunan serta kehidupan yang baik. Sungguh telah datang sebuah hadits secara sahih, bahwa beliau bersabda: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ Tidaklah seorang Muslim kala dia berwudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian berdiri melaksanakan shalat 2 rakaat, dia hadapkan hati dan wajahnya di setiap rakaatnya, kecuali wajib baginya surga”[11] Telah sah pula dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟» قَالُوا: لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قَالَ: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا Apa pendapat kalian seandainya ada sungai di depan rumah salah seorang dari kalian kemudian dia mandi di dalamnya setiap hari 5 kali. Apakah ada kotoran yang tersisa walaupun sedikit?” Mereka menjawab: “Tidak akan tertinggal (sisa) kotoran sedikitpun”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Maka seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allâh akan menghapuskan dosa-dosa dengan shalat (tersebut)”[12] Beliau juga bersabda dalam hadits shahih: الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ Shalat yang lima waktu, dan (dari shalat) Jum’at ke Jum’at,  (dari) Ramadhan ke Ramadhan, mengugurkan dosa-dosa di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi”[13] Marilah kita memanfaatkanlah kebaikan agung ini, dan jagalah shalat dengan khusyu’ dan thumakninah, terlebih lagi di bulan yang mulia ini. Janganlah mendahului imam ketika shalat. Dalam sebuah hadits yang telah  sah datang dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّمَا جُعِلَ اَلْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ, فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا, وَلَا تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا, وَلَا تَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ, وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا, وَلَا تَسْجُدُوا حَتَّى يَسْجُدَ Imam itu, tidak lain hanyalah dijadikan untuk diikuti, (karena itu) janganlah menyelisihi imam. Maka apabila dia bertakbir maka bertakbirlah, dan janganlah kalian bertakbir sampai dia bertakbir. Jika dia rukuk maka rukuklah. Janganlah kalian rukuk sampai dia ruku. Dan jika dia sujud, maka sujudlah, dan janganlah kalian sujud sampai dia sujud” [14] Beliau juga bersabda: أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ Hendaklah orang yang mengangkat kepalanya sebelum Imam takut, (sekiranya) Allâh akan mengubah kepalanya (menjadi) kepala himar (keledai), atau Allâh akan menjadikan bentuknya seperti bentuk himar[15] Memperbanyak Amal Shalih Wahai kaum Muslimin! Di bulan yang agung ini, sungguh amal ketaatan kalian akan dilipatgandakan sebagaimana juga amal kejelekan dianggap besar di dalamnya (sehingga sangat penting untuk dihindari serta ditinggalkan). Akan diangkat derajat orang-orang yang berbuat baik. Maka perbanyaklah amal-amal shalih dan perbanyaklah memberikan makan dan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Karena sesungguhnya Nabi kita adalah (sangat) dermawan dan pemurah. Dan lebih sangat dermawan lagi ketika di bulan Ramadhan. Jadikanlah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan. Berbuat baiklah kepada para hamba Allâh dengan berbagai macam kebaikan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya semisal pahala orang yang puasa dengan tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun[16] Dan setiap Muslim bisa bersedekah dengan (rezeki) apa  saja  yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuknya, sebagaimana di dalam hadits: اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ Takutlah kalian akan neraka, walau (hanya dengan menyedekahkan) separuh kurma! Barang siapa yang tidak memiliki (apa-apa) maka (hendaklah bersedekah) dengan perkataan  yang baik”[17] Sedangkan yang tidak mempunyai sesuatu yang bisa ia sedekahkan, maka Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan baginya (pahala-red) sedekah pada setiap tasbîh (yang diucapkannya), pada setiap tahlîl adalah sedekah, setiap takbîr adalah sedekah, memerintahkan yang baik merupakan sedekah, dan mencegah dari  yang mungkar adalah sedekah. Sampaipun dalam hal menyalurkan naluri biologis kepada yang halal dan bersenang-senang dengannya adalah sedekah. Dalam sebuah hadits yang telah sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa ada sekelompok Sahabat Rasûlullâh g yang mengatakan: يَا رَسُولَ الله ، ذَهَبَ أهلُ الدُّثُور بالأُجُورِ ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي ، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أمْوَالِهِمْ Wahai Rasûlullâh! Orang-orang kaya telah membawa  banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: أَوَلَيسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ بِهِ : إنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقةً ، وَكُلِّ تَكبيرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَحمِيدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً ، وَأمْرٌ بالمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهيٌ عَنِ المُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وفي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ Bukankah Allâh telah jadikan bagi kalian apa-apa yang kalian bisa bersedekah dengannya; sesungguhnya di setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbîr adalah sedekah, setiap tahmîd sedekah, setiap tahlîl sedekah, perintah kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan pada syahwat kalian ada sedekah. Lalu mereka bertanya: “Ya Rasûlullâh! Apakah apabila salah satu dari kami menyalurkan syahwatnya lalu ada pahala yang bisa ia dapatkan? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Bagaimana menurut kalian seandainya dia menyalurkan syahwatnya kepada yang haram, bukankah dia mendapatkan dosa? Maka seperti itu juga apabila dia menyalurkannya kepada yang halal, maka dia akan mendapatkan pahala”[18] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda: أَحَبُّ اَلْكَلَامِ إِلَى اَللَّهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اَللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ Kalimat yang paling dicintai Allâh ada empat: Subhanallâh, Alhamdulillâh, Lâ Ilâha illallâh dan Allâhu Akbar. [19] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: اَلْبَاقِيَاتُ اَلصَّالِحَاتُ: سُبْحَانَ اَللَّهِ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ, وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ, وَاَللَّهُ أَكْبَرُ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ Al-Bâqiyâtush Shâlihât (amal shalih yang pahalanya abadi): Subhânallâh, wal-hamdulilâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar wa lâ haula walâ quwwata illâ billâh”[20] Perhatikanlah wahai kaum Muslimin! Alangkah besarnya karunia Allâh Azza wa Jalla yang telah Dia berikan kepada kita. Allâh Azza wa Jalla telah memudahkan bagi kita jalan-jalan pahala dan jalan-jalan ketaatan. Dia telah menjadikan lafadz (atau kalimat) yang sedikit (serta mudah diucapkan, tetapi  Dia sediakan pahala yang besar. Maka bersyukurlah kepada Allâh atas fadhilah dan rahmat-Nya terhadap kalian, serta keringanan yang telah Allâh berikan kepada kalian. Berbekallah dengan ketaatan kepada-Nya dengan melakukan apa-apa yang Dia ridhai. Perbanyaklah dzikir- dzikir yang telah dianjurkan oleh Nabi kalian. Jauhi Perusak Puasa! Wahai kaum Muslimin! Jauhilah perkara-perkara yang akan merusak puasa kalian atau mengurangi pahala puasa kalian, yaitu segala perkataan buruk dan perbuatan yang mungkar, misalnyanya ghîbah (menggunjing keburukan orang lain-red), namîmah (mengadu domba), dusta, mencela, melaknat, menuduh orang berbuat keji, bersaksi dusta, pengakuan palsu, dan sumpah yang fajir (dusta dan keji), durhaka kepada orang tua dan memutus silaturrahim, memakan riba, memakan harta anak yatim, minum minuman yang memabukkan, menipu ketika bermuamalah dan khianat terhadap amanah dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya yang Allâh larang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا قِيلَ: بِمَ يَخْرِقُهَا؟ قَالَ بِكَذِبٍ أَوْ غِيْبَةٍ Puasa adalah perisai selama perisai itu belum terkoyak.” Beliau ditanya: “Dengan apa yang bisa membuatnya terkoyak?” Beliau bersabda, ”Dengan berkata dusta dan ghibah”[21] Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya, maka Allâh tidak butuh dari (apa yang dia lakukan berupa) meninggalkan makan dan minumnya.”[22] Dan bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإذَا كَانَ يَومُ صَوْمِ أحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَفْسُقْ. فَإنِ امْرُؤٌ سَابَّهُ أحَدٌ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ ”Puasa adalah perisai. Maka pada hari puasa salah seorang dari kalian, janganlah ia berbuat rafats (kata keji atau tidak senonoh) dan fusuk (berbuat hal fasik).  Dan jika ada salah seorang yang mencelanya, maka hendaklah dia mengatakan: saya sedang berpuasa.”[23] Wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin! Hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh! Hati-hatilah! Jangan sampai bagian kita dari puasa hanya mendapatkan lapar dan haus saja, dan dari shalat (tarawih) hanya dapat begadang dan lelah saja. Beberapa Hikmah Puasa Puasa telah Allâh Azza wa Jalla syariatkan untuk manusia, karena di dalamnya terdapat banyak hikmah dan rahasia yang agung. Di antaranya: puasa adalah pembersih bagi hamba, mensucikan jiwa, melatih jiwa untuk bersabar dan melawan hawa nafsu. Puasa akan mengingatkan seorang hamba akan keutamaan yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan serta kenikmatan yang begitu banyak yang telah Dia anugerahkan kepadanya. Puasa juga bentuk peringatan untuk orang-orang kaya atas besarnya kenikmatan Allâh atas mereka, dan bahwasanya saudara-saudara mereka yang miskin mempunyai hak atas harta-harta mereka. Karena itu tidak sepantasnya menelantarkan mereka. Maka jadikanlah puasa kita untuk membersihkan badan kita, memsucikan jiwa kita, sebagai penjernih hati kita, perisai kita dari adzab Allâh, sebagai pendorong agar kita tetap di atas ketaatan kepada Allâh, dan penyeru bagi kita agar (semakin) berlemah lembut terhadap orang-orang yang miskin dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Juga sebagai pemutus  syahwat yang diharamkan dari nafsu kita, dan untuk mengekang liarnya nafsu kita dari perkara yang haram. Maka jika kita berpuasa dari hal yang baik yang Allâh halalkan, maka hendaklah anggota badan kita berpuasa dari maksiat dan apa-apa yang Allâh haramkan pada bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan. Janganlah pandangan kita terlepas memandang apa yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla . Kita tidak mengambil dengan tangan kita apa-apa yang tidak halal bagi kita. Kita tidak melangkahkan kaki kita kepada maksiat. Lisan kita tidak mengucapkan apa yang tidak layak dilontarkan. Tidak menggunakan telinga kita untuk mendengarkan perkara yang diharamkan, berupa lagu-lagu yang mungkar dan suara-suara yang keji. Jangan sampai terbersit dalam diri kita, atau jangan sampai anggota badan kita mendekat pada hal yang mengundang murka Allâh. Yang wajib bagi kita adalah memanfaatkan badan kita dalam ketaatan kepada Allâh; di mana Dia telah mewajibkannya atas kita, dan menyibukkan pikiran dan waktu kita dengan perkara yang diridhoi-Nya. Akhirnya, semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk memanfaatkan momen yang sangat berharga ini dan semoga semua amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan tahun ini dan di bulan-bulan lainnya diterima oleh Allâh Azza wa Jalla ______ Footnote [1] Diangkat dengan sedikit penyesuaian dari Maqâlât Kibâril Ulamâ’ fî Ash-Shuhuf As-Su’ûdiyyah Al-Qadîmah majmu’ah kedua, juz 6/280-286, dari makalah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah. Sub judul penambahan dari redaksi. [2] HR. Al-Bukhâri no:1904, 5927; Muslim no: 1151, dari hadits Abu Hurairah. [3] HR. Al-Bukhâri no: 38, 1901; Muslim no: 760, dari hadits Abu Hurairah. [4] HR. At-Tirmidzi no:682; Ibnu Majah no:1642; Ibnu Khuzaimah no:1883; Ibnu Hibban no:3435 dari hadits Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Al-Albani. [5] HR. Al-Bukhari no:37, 2009 dan Muslim no:759 dari hadits Abu Hurairah. [6] HR. Al-Bukhari no:924, 1129 dan Muslim no:761 dari hadits Aisyah. [7] HR. Al-Bukhâri  no. 990 dan Muslim no. 749 dari hadits Ibnu Umar. [8] HR.Al-Bukhâri  no: 757, 793 dan muslim no: 397 dari hadits Abu Hurairah. [9] HR.Al-Bukhâri  no:405, 413,531 dan Muslim no:551 dari hadits Anas [10] HR. Ahmad 3/285 dan an Nasa’I no:3940 dari hadits Anas dan dishahihkan al Albani [11] HR. Muslim no:234 dari hadits Uqbah bin ‘amir [12] HR. Al-Bukhâri  no:528 dan Muslim no:667 dari hadits Abi Hurairah [13] HR. Muslim no:223 dari hadits Abu Hurairah [14] HR.Al-Bukhâri  no:722 dan Muslim no:414 dari hadits Abu Hurairah [15] HR.Al-Bukhâri  no:691 dan Muslim no:427 dari hadits Abu Hurairah [16] HR. Ahmad 4/116 dan at Tirmidzi no:807 dan Ibnu Majah no:1746 dari hadits Zaid bin Khalid Al Juhaniy dan dishahihkan al Albani [17] HR. Al-Bukhâri  no:1413, 6023 dan Muslim no: 28, 1016 dari hadits ‘adi bin Hatim [18] HR. Al-Bukhâri  no. 843, 6329; dan Muslim no. 595 dari hadits Abu Hurairah dan HR.Muslim no. 1006 dari hadits Abu Dzarr. [19] HR. Muslim no. 2137 dari hadits Samurah Bin Jundab. [20] HR. Ahmad 4/267 dari hadits Nu’man bin Basyir dan HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubrâ no. 10684. [21] HR. Ahmad 1/195 dan An-Nasa’i no. 2233 dari hadits Abu Ubaidah bin Jarrah; dan dikeluarkan oleh Ath- Thabrani dalam Al-Aushath no. 4536 dari hadits Abu Hurairah dan Al-Albani mengatakan di dalam adh- Dhoifah no. 1440: Dhoif Jiddan (lemah sekali).  [22] HR.Al-Bukhâri  no. 1903, 6057 dari hadits Abu Hurairah. [23] HR. Al-Bukhâri  no. 1894, 1904 dan Muslim no. 1151 dari hadits Abu Hurairah. [ Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M ]

MENYAMBUT RAMADHAN DENGAN PUASA SUNNAH

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةِ رضي الله عنه قاَلَ : قَالَ رَسُوْلُ الله  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ , أَوْ يَوْمَيْنِ إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian dahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka (tidak mengapa) ia berpuasa. HADITS INI DIRIWAYATKAN: Imam al-Bukhâri, no. 1914; Muslim, no. 1082; Abu Daud, no. 2335; At-Tirmidzi, no. 685; An-Nasa’i 4/149, 154; Ibnu Majah, no. 1650; Al-Baghawi, no. 1718; Ibnul Jârûd 378; Al-Baihaqi, 4/207; Ahmad 2/234, 237, 408, 438; Ibnu Hibbân, no. 3586, 3592; Abdur Razzâq, no. 7315; Ibnu Abi Syaibah, 3/23; Ad-Dârimi 2/4. PENJELASAN HADITS: * Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mengatakan: Ramadhan tanpa menyebut kata (bulan diawalnya), tanpa ada kemakruhan. Dan inilah yang shahih, baik ketika ada qarînah (indikator) yang menunjukkannya ataupun tidak ada. Ada pendapat yang mengatakan bahwa itu dimakruhkan, kecuali bila diucapkan bergandengan dengan kata bulan. Ada hadits yang menunjukkan hal itu, akan tetapi hadits tersebut dha’if. Ada lagi pendapat lain yang mengatakan, bila ada qarinah yang menunjukkan bulan, maka itu tidak dimakruhkan. Kalau tidak ada qarînah, maka dimakruhkan. * Dalam hadits ini terdapat penegasan larangan untuk memulai satu atau dua hari sebelum Ramadhan dengan berpuasa sunnah yang bukan menjadi kebiasaannya. Yaitu ketika itu dilakukan dalam rangka kehati-hatian terhadap masuknya bulan Ramadhan. Konsekuensi dari hal ini adalah boleh berpuasa 3 atau 4 atau 5 hari sebelum masuk Ramadhan. Ini adalah yang menjadi konsekuensi ucapan al-Bandaniji dan Ibnu ash-Shabbagh dari kalangan Ulama Syâfi’iyyah. Mengenai puasa sunnah menjelang Ramadhan, para Ulama syafi’iyah terbagi dalam empat  pendapat: Pendapat yang disebut di atas. Bila telah menginjak pertengahan bulan Sya’ban , diharamkan berpuasa. Pendapat inilah yang diputuskan oleh para ahli tahqiq dari kalangan Ulama syafi’iyah. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانَ فَلَا تَصُومُوا Bila Sya’ban telah berada di pertengahan, maka janganlah kalian berpuasa!.”[2] Hadits ini diriwayatkan para penyusun Kitab Sunan yang empat dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . Hadits ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân. Ulama yang berpendapat seperti ini memberikan jawaban terhadap hadits Abu Hurairah yang disebutkan di awal. Yaitu bahwa ucapan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “(jangan kalian dahului) dengan satu hari atau dua hari” itu tidak menunjukkan makna pilihan (yaitu memilih dengan tidak mendahului satu hari atau dua hari). Akan tetapi itu hanyalah untuk menjelaskan adanya larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa sebelumnya. Karena biasanya itulah yang  dilakukan dan yang terjadi pada orang yang bermaksud menyambut bulan Ramadhan. Rentang waktu larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah sejak pertengahan Sya’ban, seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang terakhir tadi. Hal itu boleh, tidak dimakruhkan. Ini yang diputuskan oleh al-Mutawalli. Ia berkata mengenai hadits yang dibawakan di atas (yaitu mengenai hadits pertengahan Sya’ban), bahwa hadits tersebut tidaklah valid menurut pandangan para ahli.[3] Dimakruhkan karâhah tanzîh(dilarang syara’, namun bukan keharusan. Yang melakukannya tidak disiksa karenanya). Ini dipilih ar-Rauyâni. * Sebagian Ulama menyebutkan bahwa hikmah larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa adalah untuk menjaga stamina dan kekuatan dalam berpuasa Ramadhan. Namun ini tidak tepat. Karena bila hal itu menyebabkan lemah dalam berpuasa dalam Ramadhan, maka berpuasa selama bulan Sya’ban lebih-lebih membuat lemah (untuk puasa Ramadhan). Padahal telah terjadi ijma’ dibolehkannya berpuasa pada bulan Sya’ban keseluruhannya, bahkan hal tersebut sunnah. Para penyusun Kitab Sunan yang empat telah meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa, “Tidak pernah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh dari suatu tahun kecuali Sya’ban, di mana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambungnya dengan Ramadhan.”[4] At-Tirmidzi berkata, “(Hadits ini) hasan.” Al-Mâziri membawa pengertian larangan tersebut pada orang yang berpuasa dalam rangka pengagungan dan sambutan terhadap bulan Ramadhan. Artinya itu dilarang, agar suatu ibadah tidak ditambahi sesuatu yang bukan bagian dari ibadah tersebut. Adapun bila berpuasa pada hari syakk (hari yang diragukan antara Sya’ban dan Ramadhan) sebagai puasa sunnah belaka, maka ada perselisihan di dalamnya. Seperti yang akan disebutkan nanti. * Sebagian Ulama menyebutkan: bahwa zahir hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di awal pembahasan ini bertentangan dengan ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertanya kepada seseorang: هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ شَيْئًا Apakah engkau ada berpuasa sesuatupun pada akhir Sya’ban? Ia menjawab, “Tidak.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila engkau telah berbuka (yakni usai melaksanakan puasa Ramadhan), maka berpuasalah satu hari.”[5] Dalam riwayat lain: “dua hari.” Ini diriwayatkan Al-Bukhâri dan Muslim dari hadits Imran bin al-Hushain Radhiyallahu anhu . Yang dimaksud dengan surar Sya’ban adalah akhirnya. Karena hilal (bulan sabit) akan menyembunyikan diri pada satu atau dua malam terakhir. Namun dua hadits ini bisa dikompromikan, bahwa orang tersebut telah mewajibkan dirinya untuk berpuasa akhir bulan karena ia telah bernadzar. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk memenuhinya. Atau bisa juga karena berpuasa akhir bulan sudah menjadi kebiasaannya, lalu ia tinggalkan dalam rangka menyambut Ramadhan, karena ada larangan mendahuluinya (dengan puasa); dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin orang tersebut mengqadha’ nya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Sebagian Ulama lain berkata: Bahkan ucapan Nabi, “Apakah engkau berpuasa pada akhir Sya’ban?” adalah pertanyaan dalam rangka mengingkari dan melarang. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya. Sehingga tidak ada kontradiksi antara keduanya. Kalau yang dimaksudkan dengan surar Sya’ban adalah awal bulan, seperti yang disebutkan sebagian Ulama, bahwa surar asy-syahr adalah awalnya, maka tidak ada kontradiksi diantara dua hadits tersebut. *  Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kaum rafidhah, yang memandang perlunya mendahulukan puasa daripada melihat hilal Ramadhan. Karena Ramadhan adalah nama untuk sebutan untuk (rentang waktu) yang berada di antara dua hilal. Maka bila seseorang berpuasa satu hari sebelumnya, berarti ia telah mendahului Ramadhan (dengan berpuasa). *  Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan makna hadits: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ Berpuasalah saat kalian melihatnya (hilal) dan berbukalah saat kalian melihatnya! * Di dalam hadits ini tidak terdapat larangan mendahulukan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, bagi orang yang punya kebiasaan berpuasa di akhir-akhir bulan di luar Sya’ban. Sama saja, apakah kebiasaannya itu karena nadzar atau murni sebagai puasa sunnah. Hal itu masuk dalam  cakupan kemutlakan hadits tersebut. Dan di antara bentuk nadzar adalah kala seseorang berkata, “Aku bernadzar kepada Allâh untuk berpuasa pada hari datangnya si fulan.” Lalu kebetulan si fulan datang bertepatan dengan akhir Sya’ban sebelum Ramadhan. * Termasuk dari yang dilarang adalah berpuasa pada hari syakk (hari yang meragukan), yaitu hari yang mana orang-orang masih memperbincangkan tentang apakah hilal benar-benar sudah terlihat atau belum?  Atau telah ada orang yang bersaksi bahwa dia telah melihat hilal, namun dia masih anak-anak atau budak atau orang yang fasik. Para Ulama salaf telah berselisih pendpat tentang orang yang berpuasa sunnah (pada hari itu) dengan tanpa sebab. Dan yang paling sah menurut Ulama kalangan Syafi’iyah adalah puasa sunnah tersebut terlarang. Dan dalam madzhab Malikiyah terdapat tiga pendapat: (Pendapat) yang ketiga dari pendapat-pendapat Malikiyyah adalah bagi orang yang punya kebiasaan menyambung puasa, ia boleh berpuasa pada saat itu, tapi tidak bagi yang lainnya. Dan menurut mereka, boleh berpuasa pada saat itu bagi orang yang telah bernadzar. Sedangkan Ahmad dan sekelompok Ulama, mereka mewajibkan untuk berpuasa pada saat itu sebagai puasa Ramadhan, dengan syarat saat itu ada mendung (yang menghalangi terlihatnya hilal). Footnote [1] Pembahasan ini diringkas oleh redaksi dari kitab al-I’lam bi Fawa’id Umdatil Ahkâm, 5/158-170 [2] At-Tirmidzi, no. 738; Abu Daud, no. 2337 dalam kitab Shaum Bab Dimakruhkannya Hal Tersebut; Ibnu Mâjah, no. 1651; Ad-Darimi, 2/17; Ahmad, 2/442; Ibnu Hibbân, 3589; Al-Baihaqi, 4/209, Abdur Razzâq 7325 [3] Sebagian ulama ada yang melemahkan hadits ini, karena ‘Ala menyendiri dalam meriwayatkannya. Namun sebagian ulama lain, menilainya Shahih, tidak ada yang menodai keshahihannya. Imam Muslim juga mengeluarkan beberapa riwayat hadits dalam Shahihnya dari ‘Ala, dari ayahnya Abu Hurairah. Syaikh Al-Bani menilainya Shahih dalam Shahih al-Jami’ash-Shaghir wa Ziyadatuh no. 397 (red) [4] HR. An-Nasa’i 4/150, At-Turmudzi 736 dalam Ash-shiyâm bab mengenai orang yang menyambung Sya’ban dengan Ramadhan, juga Ad-Darimi 2/17. [5] Teks hadits yang dibawakan di atas, sesuai dengan salah satu riwayat Abu Daud. Dan sebagian riwayat ada tambahan: atau dua hari. Ini diriwayatkan al-Bukhâri, no.1983; Muslim, no. 1161; Abu Daud, no. 2231; Al-Baihaqi 4/210; Ad-Darimi 2/18; Ibnu Hibbân, no. 3587; Ahmad 4/428, 432, 439 [ Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M ].  

DZULQARNAIN PENGUASA YANG ADIL

Bila kita perhatikan ayat-ayat dalam al-Quran niscaya, kita dapati saat membahas masalah hak untuk memberikan kepemimpinan, kekuasaan dan kerajaan, Allâh Azza wa Jalla menyandarkan hal itu hanya kepada-Nya. Karena memang hanya dengan kehendak-Nya, seorang hamba diangkat menjadi pemimpin. Dia Azza wa Jalla  menetapkan dan mencabut kekuasaan dari seseorang. Dan sesungguhnya para penguasa, ada waktu dan masanya. Seandainya seluruh manusia di muka bumi sepakat untuk mengkudeta pemimpinnya, mereka tidak akan bisa melakukan itu hingga Allâh Azza wa Jalla sendiri yang menghendaki masa jabatannya habis, karena Allâh Azza wa Jalla menetapkan dan mencabut kekuasaan seseorang berdasarkan sifat hikmah-Nya yang agung.[1] Dzulqarnain, diantara orang yang telah Allâh Azza wa Jalla beri kekuasaan. Allâh Azza wa Jalla  berfirman: وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا ۞ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا  Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Ahlul kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah Dzulqarnain. Lalu Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan, ‘Aku akan bacakan kepada kalian cerita tentangnya sebagai pelajaran.’ Artinya, di dalamnya terdapat berita yang bermanfaat dan pembicaraan yang menakjubkan yaitu saya akan bacakan untuk kalian tentang keadaannya yang bisa mengingatkan kalian serta sebagai pelajaran. Adapun yang tidak ada pelajaran darinya maka tidak dikabarkan kepada kalian.[2] Al-Qur’an dalam memaparkan kisah yaitu tidak menjelaskan secara rinci semua  perkara yang tidak mengandung pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik dan cukup dengan isyarat atas kandungan pelajaran dan nasehat di dalamnya.[3] Dalam kisah Dzulqarnain ini terdapat ‘ibrah yang bisa kita ambil, terutama untuk para pemimpin. Ibrah dalam masalah keimanan, keadilan, kebijaksanaan dan perhatian terhadap rakyatnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman. لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman[Yusuf/12:111] DZULQARNAIN RAJA SHALIH YANG BERIMAN Dia adalah  seorang hamba yang shalih yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala anugerahi kekuasaan di bumi dan Allâh juga memberikannya ilmu dan hikmah serta Allâh Azza wa Jalla pakaikan kewibawaan padanya, walaupun kita tidak tahu siapakah dia. Ibnu Katsir rahimahulah  mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar dan segala sesuatu yang ada untuk seorang raja, berupa kekuasaan, tentara, peralatan perang dan sarana prasarana yang memadai. Dengannya, dia bisa mengusai dunia, bagian timur maupun baratnya, dan dia menaklukkan berbagai negeri serta menundukkan para penguasa lainnya. Sehingga semua orang berkhidmat untuk kerajaannya. Oleh karena itu, sebagian Ulama berpendapat mengapa dia digelari Dzulqarnain karena kekuasaannya meliputi tempat terbit dan tempat terbenam yaitu timur dan barat bumi.” [4] Dalam al-Qur’an, dikisahkan tentang tiga perjalanan yang dilakukan Dzulqarnain. Pada setiap perjalanannya ada ibrah atau pelajaran. Berikut kisah perjalanan Dzulqarnain. PERJALANAN PERTAMA : DZULQARNAIN TIBA DI ARAH TERBENAMNYA MATAHARI YAITU ARAH BARA 1. Dzulqarnain mempunyai kemampuan dan kemauan Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi. فَأَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٨٥﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا Maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat.[Al-Kahfi/18:85-86] Allâh Azza wa Jalla memudahkan jalan baginya untuk menaklukkan banyak daerah dan kampung serta menaklukkan negeri-negeri dan tempat-tempat yang lainnya, serta mampu mengalahkan para musuh dan menaklukkan para raja penguasa, serta merendahkan ahlu syirik. Sungguh dia telah diberi segala sesuatu sebagai jalan yang memudahkannya untuk melakukan semua itu.Wallahu a’lam.[5] Dzulqarnain menggunakan sebab-sebab yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan itu, sesuai dengan fungsinya dan dia mempunyai kemampuan dan kemauan. Karena tidak setiap orang yang mempunyai suatu sebab (jalan kemudahan), lalu punya kemauan untuk menjalaninya, serta tidak setiap orang mampu untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan kemauan untuk menjalaninya berpadu, maka tujuan akan tercapai. Apabila keduanya tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai. Sebab-sebab atau faktor-faktor yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada Dzulqarnain tidak diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla maupun Rasul-Nya kepada kita, juga tidak ada nukilan para ahli sejarah tentang itu. Maka, seyogyanya kita juga diam, tidak membicarakannya. Namun secara umum kita tahu bahwa faktor-faktor tersebut kuat dan banyak, baik faktor dari dalam maupun dari luar. Dia punya pasukan yang besar dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan pasukannya, dia mampu mengalahkan para musuh, hingga sampai ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi. [6] Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allâh yang adil lagi berilmu. Dia mendapatkan ridha Allâh Azza wa Jalla dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا ﴿٨٦﴾ قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا ﴿٨٧﴾ وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا Kami berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Dzulqarnain mengatakan, ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” [Al-Kahfi/18:86-88] Allâh Azza wa Jalla telah memberi kekuasaan kepadanya dan menyerahkan keputusan hukuman terhadap mereka. Dia bisa menahan, membunuh atau berbuat baik dan melepaskan mereka. Karena Allâh Azza wa Jalla mengetahui keadilannya dan keimanannya. Ini tampak dari keputusan yang diambilnya yaitu orang yang zhalim dan terus berada dalam kezhaliman, kekufuran dan kesyirikan akan disiksa, kemudian jika dia kembali kepada Rabbnya maka akan diadzab dengan adzab yang pedih. Adapun orang yang beriman, dia akan mendapatkan surga serta kedudukan yang baik di sisi Allâh  pada hari kiamat.[7] Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya,“Kami berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’.” yakni, engkau bisa menghukum mereka dengan membunuh, memukul, atau menawan mereka dan semacamnya, atau engkau bisa berbuat baik kepada mereka. Dzulqarnain diberi dua pilihan, karena –yang nampak– kaum itu adalah orang kafir atau fasik, atau memiliki sebagian sifat-sifat tersebut, karena bila mereka kaum yang beriman, tentu Allâh Azza wa Jalla  tidak mengizinkan Dzulqarnain menyiksa mereka. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki as-siyâsah asy-syar’iyyah yang menjadikannya berhak mendapatkan pujian dan sanjungan, karena taufiq yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. lalu dia menjadikan mereka dua bagian: adapun orang yang aniaya.”yakni kafir.  “maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yaitu; orang yang aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat. adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala terbaik sebagai balasan.”yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan surga serta kedudukan yang baik di sisi Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat. “dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” yaitu, kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata, dan kami permudah muamalah baginya. Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allâh yang adil lagi berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allâh Azza wa Jalla dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya. [8] PERJALANAN KEDUA : SAMPAINYA DIA KE BUMI BAGIAN TIMUR 3. Dzulqarnain Pemimpin yang menyeru kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala Kemudian dia menempuh kembali perjalanannya dari arah terbenamnya matahari ke arah terbitnya matahari, dan setiap dia melewati suatu kaum maka dia akan menaklukkan dan mengalahkan mereka serta menyeru mereka kepada Allâh Azza wa Jalla. Apabila mereka menerima ajakannya, mereka akan dimuliakan dan jika tidak diterima seruannya, mereka akan dihinakan.[9] Dia mengatakan, “Terimalah seruan kami! Hendaklah kalian beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, maka kalian akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat di sisi Allâh Azza wa Jalla “[10] ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٨٩﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا ﴿٩٠﴾ كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.[Al-Kahfi/18:89-91] Dia mendapati matahari menyinari segolongan umat yang Allâh Azza wa Jalla tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang mereka diami dan tidak ada pepohonan untuk berteduh. Said bin Zubair mengatakan, “(Kehidupan) mereka sangat terbelakang (liar) , terpencil dan tempat tinggal mereka berpindah-pindah,  kebanyakan penghidupan mereka dari mencari ikan.”[11] Disana tidak ada pepohonan atau gunung atau bangunan yang bisa melindungi mereka dari sinar terik matahari, dan dikatakan mereka tidak memakai pakaian(telanjang).[12] Dia melaksanakan perkara yang mendatangkan maslahat bagi rakyatnya, dan berusaha untuk menebarkan kebaikan di penjuru bumi. Sesungguhnya dia seorang raja yang menguasai  timur dan barat. Dia membantu orang yang beriman dan menyiksa para penyembah berhala, dan dia melaksanakan perkara yang mendatangkan maslahat bagi rakyatnya, dan berusaha untuk menebarkan kebaikan di penjuru bumi. Ini diisyaratkan dalam ayat secara umum sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’” dan dijelaskan secara langsung diakhir kisah, tentang Dzulqarnain yang membuat benteng pembatas. Juga sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya, “Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” maka seakan ada isyarat bahwa dia Dzulqarnain membantu orang-orang itu dengan mendirikan bangunan yang dapat melindungi badan mereka dari sinar terik matahari, atau memberikan pakaian dan penutup kepada mereka. Ini terpahami dari konteks ayat.[13] Penafsiran yang lain, orang-orang ini diperlakukan sama seperti orang-orang yang ada di bagian barat yaitu yang kafir (tidak mau beriman) diantara mereka akan mendapatkan siksa sedangkan yang mau beriman akan diperlakukan baik.[14] Pujian Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada Dzulqarnain, karena kebaikan dan sebab- sebab agung yang ada padanya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Demikianlah. Sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” (Al-Kahfi/18:91). Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya, dan ilmu Kami selalu bersamanya, kemanapun ia berjalan. Allâh Azza wa Jalla maha mengetahui semua keadaannya dan keadaan bala tentaranya, tidak ada yang tersembunyi sedikitpun bagi Allâh Azza wa Jalla walaupun berbeda-beda umat, terpencar dan terpisah-pisah di seantero bumi. Allâh Azza wa Jalla berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ Sesungguhnya bagi Allâh tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.[Ali Imran/3:5] PERJALANAN KETIGA : DZULQARNAIN KE DAERAH YA’JUJ DAN MA’JUJ DAB PEMBUATAN DINDING PEMBATAS Allâh Azza wa Jalla berfirman: ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٩٢﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا ﴿٩٣﴾ قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain! Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” [Al-Kahfi/18:92-94] Allâh memberikan Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah sehingga dia bisa faham bahasa asing kaumnya Para ahli tafsir mengatakan bahwa Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke arah utara, hingga akhirnya beliau sampai di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena bahasa mereka sangat asing serta akal dan hati mereka tidak bagus. Namun, Allâh Azza wa Jalla memberikan Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah sehingga dia bisa memaahami bahasa kaum itu dan dia bisa memahamkan mereka. Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain dan meminta agar Dzulqarnain membuatkan mereka dinding penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj agar mereka terhindar dari kerusakan yang dibuat Ya’juj dan Ma’juj. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. [15] Dzulqarnain bukan orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia.Namun dia juga tidak meninggalkan usaha perbaikan keadaan rakyat. Saat meminta tolong kepada Dzulqarnain, mereka berjanji akan memberinya upah. Dzulqarnain bukan orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan usaha perbaikan keadaan rakyat, hahkan tujuannya adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka.[16] Ibnu Jarir dari Atha dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, “(Mereka berjanji akan memberikan) upah yang besar (ajran azhiman) yaitu dengan cara (masing-masing) mereka mengumpulkan  harta benda yang mereka miliki untuk kemudian (mereka satukan) lalu diberikan kepada Dzulqarnain sebagai upah, sehingga dia bisa membuatkan benteng penghalang. [17] Dzulqarnain mengajak partisipasi rakyatnya dalam membangun dinding pemisah, untuk kemaslahatan mereka. قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا  Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,[Al-Kahfi/18:95] Kemudian Dzulqarnain dalam rangka menjaga diri dan agamanya serta mewujudkan kebaikan, ia mengatakan, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepadaku kekuasaan dan kedudukan yang itu lebih baik untukku daripada harta yang kalian kumpulkan untuk kalian berikan kepadaku. Namun, bantulah aku dengan kekuatan tenaga dan perbuatan kalian dan penyediaan alat-alat untuk membangunnya. [18] “Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian. آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ﴿٩٦﴾ فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا Berilah aku potongan-potongan besi”. hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, “Tiuplah (api itu)”. hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, “Berilah Aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. [Al Kahfi/18:96-97] Mereka memberikan potongan-potongan besi kepada Dzulqarnain. Hingga ketika besi itu telah rata dengan dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang. “Dzulqarnain berkata, “Nyalakanlah api yang besar. Gunakanlah alat tiup agar nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi itu telah meleleh, , dia berkata berilah aku tembaga yang telah mendidih lalu tuang tembaga yang meleleh ke atas besi panas itu. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Umat manusia yang berada di belakang menjadi aman dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj. Sehingga Ya`juj dan Ma`juj tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena kekokohan dan kekuatannya. Dzulqarnain menyandarkan hasil kerjanya sebagai rahmat dari rabbnya, dan bersyukur kepada Rabbnya atas kekokohan dan kemampuannya. قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا Dzulqarnain berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar”.[Al Kahfi/18 :98] Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi/18: 98) Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para pemimpin yang shalih. Bila Allâh Azza wa Jalla memberikan kenikmatan yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan mereka akan nikmat Allâh Azza wa Jalla . Dzulqarnain berkata,  “Maka apabila sudah datang janji Rabbku akan keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, Dia menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah. “Dan janji Rabbku itu adalah benar.” [Al-Kahfi/18:98] Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala : حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ “Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” [Al-Anbiya/21: 96][19] FAEDAH DARI KISAH[20] Allâh mengangkat derajat sebagian manusia atas sebagian yang lain dan memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki berupa kekuasaan dan harta, karena Dia yang maha kuasa dan yang mengetahui semua hikmah yang tersembunyi. Isyarat untuk melakukan sebab, sebagaimana sunatullahdalam kauniyah-Nya dengan bersungguh-sungguh berusaha dan bekerja maka akan tercapai tujuan. Kadar keberhasilan seseorang berbanding lurus dengan kadar kesungguh-sungguhannya. Semangat dalam melakukan perkara yang penting serta berusaha menghilangkan rintangan , tetap semangat dan tidak putus asa dalam mencapai tujuan. Siapa yang berkuasa maka tidak seharusnya dia mabuk kepayang dengan kekuasaannya, serta tidak semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk menyiksa dan menghukum orang yang dia mau. Dia harus memperlakukan orang yang baik dengan cara baik dan bersikap tegas terhadap orang yang jahat. Dengannya, dia bisa memberikan rasa keadilan kepada rakyatnya. Seorang penguasa hendaknya menjaga diri dari harta rakyatnya dan tidak menerima imbalan dari pekerjaan yang dia lakukan selama dia telah dicukupkan oleh Allâh Azza wa Jalla , karena dengan sikap itu dia menjaga kehormatannya dan akan menambah kecintaan rakyat kepadanya. Mengungkapkan kenikmatan yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Dan menunjukkan kelemahan seorang hamba karena dia tidak akan mampu kecuali atas pertolongan-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).”[An-Naml/27:40] Terbukanya atau hancurnya dinding pembatas yang dibuat oleh Dzulqarnain serta keluarnya Ya’juj dan Ma’juj salah satu diantara tanda kiamat besar. Mengingat negeri akhirat dan fananya dunia akan menjadikan seseorang bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk alam yang kekal abadi dan kenikmatan yang langgeng selamanya. Pelajaran akan abadinya amalan yang baik dan atsar perbuatan yang mulia. Sebagaimana yang  dikisahkan dalam ayat yang mulia ini, maka kebaikan Dzulqarnain berupa kebaikan akhlaknya, keberanian, keluhuran cita-citanya, menjaga kehormatan diri, keadilan dan usahanya mengokohkan keamanan dan memberi kebaikan kepada orang baik serta memberi hukuman orang zhalim, perbuatannya itu tetap dipuji dan diabadikan walaupun orangnya telah tiada. Hendaknya seorang pemimpin mengupayakan keamanan bagi rakyatnya, menjaga mereka,  mencegah dari kejelekan, menutup kekurangan dan memperbaiki mereka, menjaga harta mereka, mengarahkan kepada  yang bermanfaat untuk mereka, dan menjaga hak-hak rakyatnya yang berada di bawah kekuasaan dan pengawasannya. Untuk mencapai kemaslahatan, kebaikan dan keamanan bersama maka seorang pemimpin membutuhkan partisipasi dari rakyatnya Hendaklah nikmat-nikmat yang besar tidak menjadikan seseorang congkak dan sombong. Sebagaimana kesombongan Qarun ketika dia berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” [Al-Qashash/28:78] _______ Footnote [1] Lihat pembahasannya dalam Kamâ Takûnû Yuwallâ ‘alaikum, hlm. 106-113, Syaikh Abdulmalik Ramadhani hafizhahullah. [2]Taisîr Karîmir Rahman, Tafsir surat al-Kahfi, ayat ke-83, hlm. 653, Syaikh as-sa’di, Jum’iyah Ihyâ at Turâts al-Islâmî. [3] Taisîrul Manân Fî Qishashil Qur’an, hlm. 416, Ahmad Farîd, Dâr Ibnil Jauzi. [4] Lihat Taisîrul Manân Fî Qishashil Qur’an, hlm. 418-419 [5] Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 103, Darul Kutub al-Ilmiyah [6] Lihat Taisîr Karîmir Rahman, Surat al-Kahfi ayat ke-84 s/d 85, hlm. 654, Syaikh as-sa’di, Jumiyah Ihya at-Turats al-Islami. [7] Lihat Tafsîr Ibnu katsir, hlm. 105, Darul Kutub al-Ilmiyah. [8] Lihat Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 654 [9] Tafsir Ibnu katsir, hlm. 105 [10] Lihat Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an, hlm. 419 [11] Lihat Tafsîr Ibnu Katsir, hlm. 105, Surat al-Kahfi ayat ke-90 [12] lihat Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an,  hlm. 421 [13] Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an,  hlm. 418 [14] Lihat Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an, hlm. 421 [15]Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 655 [16]Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 655 [17] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hlm :106; Darul Kutub al-Ilmiyah [18] Tafsir Ibnu Katsir; hal 106; Darul Kutub al-Ilmiyah [19] diringkas dari Taisir al-Karimirrahman; Tafsir Surat al-Kahfi:96-98; Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di. [20] Diringkas dengan perubahan dari Taisirul Manân Fii Qishashil Qur’an; hlm;427-429; Ahmad Farîd; Dâr Ibnil Jauzi. Majalah As-Sunnah Edisi 11-12/Tahun XXI/1439H/2018M.    

PENGARUH KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN PRIBADI DAN BERMASYARAKAT

(Diangkat dari as-Shidqu al-Fadhilatul Jami’ah, karya  DR. Sulaiman bin Muhammad bin Falih as-Shugaiyir) Setiap perbuatan ataupun sikap yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalladan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan mendatangkan akan mendatangkan manfaat bagi orang yang melakukannya dan juga akan dirasakan pengaruh positifnya oleh orang lain. Diantara sikap yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalladan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap atau prilaku jujur. Berikut ini, penulis mencoba menjelaskan sebagian manfaat dari prilaku jujur, baik manfaat bagi pribadi orang yang berprilaku jujur ataupun bagi masyarakat.-red PENGARUH KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN PRIBADI Kejujuran Itu Melahirkan Ketakwaan Di Dalam Hati, Mendatangkan Maghfirah (Ampunan) Juga Membuahkan Pahala Yang Besar. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kaum Muslimin untuk senantiasa berprilaku jujur dan Allâh juga memuji kaum Muslimin yang konsisten dengan kejujuran. Allâh Azza wa Jalla berfriman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur [At-Taubah/9:119] Allâh Azza wa Jalla juga berfirman: إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allâh, Allâh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al-Ahzâb/33:35] Allâh Azza wa Jallajuga berfirman: فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ Tetapi jikalau mereka benar atau jujur  (imannya) terhadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka [Muhammad/47:21] Dalam ayat pertama di atas, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman  agar selalu berteman dengan orang-orang yang jujur. Sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan perintah agar mereka senantiasa bertakwa. Dari sini bisa difahami bahwa kejujuran  itu bisa melahirkan ketakwaan dalam diri seseorang. Ini juga dikuatkan dengan firman Allah Azza wa Jalla: وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.  [Az-Zumar/39:33] Pada ayat yang kedua di atas, Allâh Azza wa Jalla menjanjikan maghfirah (ampunan) dan pahala besar bagi orang-orang yang jujur. Jika ini janji dari Allâh Azza wa Jalla , lalu apa lagi yang diharapkan oleh seorang Mu’min selain ini? Sebenarnya, pengampunan dosa saja bagi seorang Mukmin itu sudah cukup, akan tetapi karunia Allâh Azza wa Jalla tidak cukup sampai disitu, Allâh Azza wa Jalla telah menyiapkan bagi kaum Mukminin yang jujur suatu kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dibenak seorang hamba. Terlebih jika pembicaraan ini kita sandingkan dengan pembicaraan tentang hadits yang menjelaskan bahwa kejujuran itu mendatangkan keselamatkan, sebaliknya kedustaan itu menyebabkan kebinasaan, maka akan tampak jelas bagi kita bahwa dusta merupakan perbuatan yang bisa membinasakan manusia di dunia dan di akhirat. Indikasi Kejujuran Akan Tampak Jelas Di Wajah Orang-Orang Yang Jujur. Orang yang senantiasa jujur akan tampak pada wajah dan suaranya kejujurannya. Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan orang yang belum Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenal dan orang itu belum mengenal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Orang itu mengatakan, “Demi Allâh! Wajah orang ini bukan wajah pendusta dan suaranya bukan suara pendusta.” Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya kejujuran itu, sebagaimana ia bisa memberikan dampak positif kepada orang yang melakukannya (orang yang berbicara jujur-red), dia bisa memberikan kesan positif kepada orang yang menjadi lawan berbicara. Kesan inilah yang menuntunnya untuk menerima dan menghormati perkataan orang yang berbicata jujur. Kejujuran Mendatangkan Keselamatan. Kisah tiga orang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut perang Tabûk adalah diantara kisah masyhur yang memberikan inspirasi tentang kejujuran. Kisah itu merupakan perumpamaan yang sangat menggugah dan menyentuh perasaan orang yang membacanya. Sebuah kisah yang menggambarkan kejujuran para Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Para pelaku dalam kisah nyata itu adalah Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Murârah bin Rabî’ Radhiyallahu anhu , dan yang ketiga Hilâl bin Umayyah Radhiyallahu anhu . Berikut ini adalah kisah nyata tersebut secara ringkas. Ada tiga orang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak ikut serta dalam perang Tabûk. Penyebabnya, bukan karena ada keraguan dalam hati mereka, bukan pula karena kemunafikan. Mereka adalah tiga Shahabat yang telah disebutkan di atas. Setelah pertempuran usai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke kota Madinah. Setibanya di Madinah, semua orang yang tidak ikut berperang mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskan alasan ketidak ikut sertaan mereka. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima semua alasan mereka dan menyerahkan urusan apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka kepada Allâh Azza wa Jalla . Tatkala Ka’ab Radhiyallahu anhu datang dan mengucapkan salam kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan senyuman orang marah. Ka’ab Radhiyallahu anhu menceritakan, ‘Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kemarilah!’  Lalu saya mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan duduk tepat dihadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tidak ikut serta? Bukankah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu untuk Islam?’ Saya menjawab, ‘Wahai Rasûlullâh! Demi Allâh! Seandainya aku duduk didekat orang selain engkau, niscaya saya yakin akan bisa bebas dari murkanya dengan alasan dan argumentasi yang saya kemukakan. Karena saya diberi kemampuan untuk berdebat. Namun, demi Allâh! Saya tahu, jika sekarang saya bisa menyampaikan kepada engkau alasan yang penuh dusta sehingga membuatmu tidak marah, tentu Allâh Azza wa Jalla akan membuatmu marah kepada saya. Namun jika saya mengemukakan kepada engkau alasan saya yang benar dan jujur, engkau pasti marah kepada saya. Dan sungguh saya berharap Allâh yang memberikan hukuman kepada saya. Demi Allâh! Tidak ada satu udzur pun yang menghalangiku untuk ikut serta dalam berperang. Demi Allâh! Kondisi saya saat tidak ikut berperang itu sangat kuat dan longgar.’ Mendengar pengakuan yang tulus itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang ini telah berkata jujur dan benar, oleh karena itu berdirilah (dan pulanglah) sampai Allâh Azza wa Jalla memberikan keputusan.’ Kemudian Murârah bin Rabî’ Radhiyallahu anhu  dan Hilâl bin Umayyah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu . Sebagai sanksi, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memboikot mereka dan melarang para Shahabat yang lain untuk berbicara dengan tiga orang Shahabat tersebut. Kejadian ini berlangsung selama lima puluh malam, tidak ada seorang Shahabat pun yang mau berbicara dengan mereka, hingga dunia ini terasa menjadi sempit bagi mereka. Namun di akhirnya kisah ini, apakah balasan bagi kejujuran mereka? Allâh Azza wa Jalla menurunkan wahyu-Nya yang menjelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla  menerima taubat mereka. Kisah mereka pun diabadikan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam al-Qur’ân. Para Shahabat yang mendengar taubat saudara mereka diterima oleh Allâh Azza wa Jalla sangat bergembira lalu mereka berlomba-lomba mencari ketiga Shahabat tersebut untuk memberikan kabar gembira ini.  Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu yang menerima kabar gembira ini langsung menghadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Ka’ab Radhiyallahu anhu mengatakan, “Ketika saya mengucapkan salam kepada Beliau dan wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memancarkan cahaya kebahagian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ Bergembiralah dengan sebaik-baik hari dalam hidupmu semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu Saya bertanya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasûlullâh! Apakah ini datang darimu ataukah datang dari Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bukan (dariku), akan tetapi Allâh Azza wa Jalla ‘ Lalu saya mengatakan, ‘Waha Rasûlullâh! Allâh Azza wa Jalla telah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran, maka sungguh diantara bentuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur selama aku masih hidup. Demi Allâh! Aku tidak mengetahui seorang pun dari kaum Muslimin  yang diuji dengan sebab kejujurannya dalam berbicara semenjak kejadian tersebut, dengan ujian yang lebih baik daripada ujian yang saya alami dengan sebab kejujuran. Demi Allâh! Semaenjak saat itu, aku tidak pernah mengatakan kedustaan kepada seorang pun, dan aku berharap Allâh menjagaku disisa umurku.” Saat itu, Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya: لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴿١١٦﴾ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿١١٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ Sesungguhnya Allâh telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allâh menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allâh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allâh, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allâh menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allâh-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar atau jujur. [At-Taubah/9:117-119].[1] Diantara kisah menakjubkan lainnya tentang kejujuran, bisa didapatkan dalam kisah para tabi’in. Diantara tentang seorang tabi’in yang bernama Rib’i bin Harrâsy al-Kûfi: Dikisahkan, Rib’i bin Harrâsy al-Absyi al-Kûfi rahimahullah adalah orang yang sangat jujur dan terpercaya. Sebagian ahli sejarah menyebut beliau rahimahullah termasuk diantara sebaik-baiknya manusia. Beliau tidak pernah berdusta. Beliau rahimahullah termasuk para perawi hadits. Beliau rahimahullah memiliki sikap yang menakjubkan dengan al-Hajjâj yang selalu berhukum dengan prasangka. Kejujuran beliau rahimahullah telah menyelamatkan beliau dan dua anak beliau dari perbutan kasar dan bengis al-Hajjâj. Abu Nu’aim rahimahullah berkata dalam al-Hilyah, ‘Kami dikabari oleh Sufyân. Dia mengatakan, ‘Aku mengingat seorang yang bernama  Rib’i. Tahukah kalian siapa Rib’i itu? Beliau adalah Rib’i dari kabilah Asyja’. Kaumnya berkeyakinan beliau rahimahullah tidak pernah berdusta. Kemudian ada seseorang datang kepada al-Hajjâj bin Yûsuf, dan berkata, “Ada seseseorang dari kabilah Asyja’ yang diyakini kaumnya sebagai pribadi yang tidak pernah berbohong, dan dia akan berdusta padamu hari ini. Sesungguhnya anda telah mengutus pasukan untuk menangkap kedua anaknya. Dan kedua anaknya itu sekarang berada di rumah. Mendengar ini, al-Hajjâj murka. Lantas ia mengutus seseorang untuk memanggil Rib’i al-Asja’i rahimahullah, dan ternyata beliau rahimahullah seorang lelaki tua yang sudah bungkuk. Al-Hajjâj berkata padanya, ‘Apa yang dilakukan oleh kedua anakmu? ‘ Beliau menjawab,  ‘Mereka ada di rumah.’ Mendengar jawabannya yang jujur, al-Hajjâj memberikannya hadiah pakaian dan berwasiat kepadanya agar melakukan kebaikan. Lebih jelasnya tentang kisah di atas, Ibnu Khalikan berkata, “Dikisahkan bahwa Rib’i bin Kharrâs al-Absy al-Kûfi tidak pernah berdusta. Beliau memiliki dua anak yang melakukan pembangkaan pada masa al-Hajjâj. Lalu disampaikan kepada al-Hajjâj bahwa bapak mereka adalah orang yang belum pernah berdusta. Anda bisa mengirim utusan untuk memanggilnya dan bertanya kepadanya tentang kedua anaknya. Mendengar ini, al-Hajjâj memanggilnya dan bertanya kepadanya, ‘Dimana kedua anakmu?’ Beliau rahimahullah menjawab, ‘Mereka ada di rumah.’ Melihat kejujuran orang tua ini, al-Hajjâj luluh hatinya dan berkata, ‘Kami memaafkan kedua anakmu dengan sebab kejujuranmu.’ Kejujuran Menghantarkan Pelakunya Kepada Kebaikan. Allâh Azza wa Jalla berfriman: فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar atau jujur  (imannya) terhadap Allâh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka [Muhammad/47: 21] Kejujuran Bisa Menyelamatkan Pelakunya Dari Pedihnya Siksa Hari Kiamat. Allâh Azza wa Jalla berfirman: قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ Ini adalah suatu hari dimana kejujuran itu bermanfaat bagi orang-orang yang jujur [Al-Mâidah/5:119] Dengan Kejujuran, Seseorang Bisa Meraih Kedudukan Para Syuhada’ (Orang Yang Mati Syahid). Diriwayatkan dari Sahl bin Hanîf Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ barangsiapa memmohon kepada Allâh syahâdah (mati syahid) dengan tulus (jujur), niscaya Allâh akan memberikannya kedudukan para syuhâda’ walaupun dia mati di atas tempat tidurnya.[2] Kejujuran Membuahkan Ketenangan Jiwa. Dari Hasan bin Ali Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata, ‘Saya menghafal dari Rasûlullâh perkataan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu! Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan itu keraguan.[3] PENGARUH POSITIF KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT Dalam Kejujuran Terkandung Keberkahan. Sesungguhnya kejujuran memiliki pengaruh yang baik dalam berbagai aktifitas ataupun transaksi yang dilakukan oleh masyarakat, baik dalam jual beli, sewa menyewa dan lain sebagainya. Pengaruh yang baik ini memberikan hasilnya di dunia dalam bentuk perkembangan dan keberkahan, dan juga manfaat lainnya bisa dinikmati di akhirat dalam bentuk pahala dan ganjaran. Sebaliknya, kedustaan akan menghapus keberkahan dan mendatangkan adzab. Diriwayatkan dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذِبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا Penjual dan pembeli diberikan hak khiyâr (hak boleh membatalkan atau melanjutkan akad jual beli) selama mereka belum berpisah (belum bubar dari tempat transaksi). Apabila mereka berlaku jujur, jual beli mereka akan diberkahi, namun apabila mereka menyembunyikan (sesuatu) dan berdusta maka keberkahan transaksi jual beli mereka akan dihapuskan.[4] Dalam Prilaku Jujur Tersimpan Kebahagian Masyarakat Dan Akan Menimbulkan Rasa Saling Cinta-Mencintai Dan Rasa Saling Percaya. Kejujuran bukan hanya sebagai bagian dari mental berani, akan tetapi lebih dari itu, kejujuran termasuk sesuatu yang sangat urgen dan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan bermasyarakat tidak akan benar dan tidak akan tertata dengan baik kecuali dengan prilaku kejujuran. Diantara hal positif yang merupakan buah dari kejujuran dalam masyarakat adalah kejujuran bisa menumbuhkan rasa saling mencintai diantara manusia dan rasa saling mempercayai diantara individu masyarakat. Kejujuran juga menghidupkan sikap saling tolong-menolong serta membantu penyebaran akhlak-akhlak mulia serta pemuliaan terhadap orang-orang yang berakhlak mulia. Kejujuran Juga Akan Menyebabkan Al-Haq (Kebenaran) Memiliki Wibawa Di Tengah Masyarakat, Terhindar Dari Sikap Pura-Pura Orang-Orang Yang Menyimpang Dan Kaum Munafik. Kehidupan bermasyarakat akan tertata dengan baik dan mereka akan merasakan kebahagiaan dan ketenteraman, selama masing-masing individu menghiasi diri-siri mereka dengan sifat jujur. Semua transaksi seperti jual beli, sewa-menyewa, utang-piutang dan perusahaan tidak akan bisa berjalan dengan baik kecuali jika dikendalikan dengan prilaku jujur. Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam bertutur, maka pasti perekonimian mereka akan mengalami kemajuan. Selama mereka terus berpegang dengan kejujuran tersebut, maka para musuh Islam tidak akan menemukan cara dan peluang untuk menghentikan laju pertumbuhan perekonomian tersebut. Kejujuran Memperkokoh Tali Persaudaraan. Islam telah mengikat semua pemeluknya yang sangat banyak dalam sebuah ikatan persaudaraan. Persaudaraan Islam ini telah menjadi mereka seperti satu raga, sebagaimana tergambar dalam sebuah hadits: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى Permisalan kaum Mukminin dalam rasa cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan diantara mereka seperti satu jasad. Jika salah satu dari anggota badan itu merasa sakit, maka semua anggota badan akan ikut merasakan panas dan tidak bisa tidur [HR. Muslim] Itulah persaudaraan Islam, namun kekokohan dan kekuatan persaudaraan ini sangat tergantung pada kemampuan masing-masing individu kaum Muslimin dalam menjaga sikap jujur dalam bertutur dan bergaul. Terkadang seorang pendusta bisa memiliki teman akan tetapi teman yang materialistis, dan dia tidak akan bisa menjadikan orang baik sebagai teman setia. Itulah arti dan makna kejujuran serta manfaat yang dirasakan oleh orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Adapun orang yang menganggap remeh sebuah kedustaan dan membiarkan lisannya terus berkata dusta, itu artinya dia telah menyakiti diri sendiri dan menyebabkan ketimpangan serta kerusakan dalam kehidupan masyarakat. Seorang pendusta tidak hanya pantas dianggap sebagai anggota masyarakat yang menyimpang, akan tetapi dia merupakan anggota yang membawa virus berbahaya yang akan segera menular dan menjangkiti semua orang yang menjalin hubungan dengannya. _______ Footnote [1] Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab hadits, sejarah. Lihat Sirah Ibni Hisyam dan Shahîh al-Bukhâri dalam kitab al-Maghâzi [2]  Diriwayatkan oleh Imam Muslim [3]  Diriwayatkan oleh at-Tirmizi. Beliau rahimahullah berkata, “Hadits ini hadits hasan shahîh.” [4]  Riwayat Imam al-Bukhâri dan yang lainnya Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2015M.

PENTINGNYA KEJUJURAN DEMI TEGAKNYA DUNIA DAN AGAMA

Oleh Syaikh Rabi Bin Hadi Al Madkhali (Diterjemahkan dari Majalah Al Ashalah dengan sedikit perubahan, Edisi 28/Tahun ke 5, 15 Jumadil Akhirah 1420 H, Halaman 51-62) Sifat jujur merupakan faktor terbesar tegaknya agama dan dunia. Kehidupan dunia tidak akan baik, dan agama juga tidak bisa tegak di atas kebohongan, khianat serta perbuatan curang. Jujur dan mempercayai kejujuran, merupakan ikatan yang kuat antara para rasul dan orang-orang yang beriman dengan mereka. Allah berfirman. وَالَّذِي جَآءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ لَهُم مَّايَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَآءُ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik”. [Az zumar:33-34]. 404

NIYÂHAH, DOSA BESAR WARISAN JAHILIYAH

Disusun Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari Allâh wa Ta’ala telah memberikan kepada seluruh makhluk, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Hanya Allâh Yang Maha Hidup, tidak akan mati. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. [Ali Imrân/3:185] Kekuasaan Allâh meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan adanya kematian pada manusia, maka bagaimanapun manusia menghindar dari kematian, kematian itu tetap akan menyusulnya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An-Nisa’/4:78]. Oleh karena itu setiap kita pasti pernah ditinggal mati oleh orang yang kita kenal atau kita cintai, baik itu kakek, nenek, ayah, ibu, saudara, tetangga, kawan, atau lainnya. Dan kewajiban orang yang mendapatkan musibah adalah sabar dan tabah, tidak berkeluh kesah, bahkan pasrah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha memiliki hikmah. LARANGAN NIYÂHAH Termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyah ketika mengalami musibah ditinggal mati oleh orang yang dicintai adalah niyâhah. Dan niyahah ini adalah dosa besar. Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu anhu. berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ “Ada empat perkara jahiliyah pada umatku, mereka tidak akan meninggalkannya: Membanggakan kemuliaan orang tua, mencela nasab (garis keturunan), menganggap turunnya hujan dengan munculnya bintang tertentu, dan niyâhah (meratap).” [HR.Muslim, no. 934] Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Umat (Islam) sepakat keharaman niyâhah terhadap mayit, berteriak dengan teriakan jahiliyah, dan berteriak dengan kecelakaan di saat musibah”. [Al-Adzkar, hlm. 146, karya An-Nawawi, tahqiq: Al-Arnauth] MAKNA NIYÂHAH Niyâhah saat musibah kematian merupakan dosa besar, kemudian apa arti niyâhah? Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit. Ada juga yang mengatakan, niyâhah adalah menangis dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit. Para sahabat kami (yaitu para ulama Syafi’iyyah-pen) mengatakan, haram hukumnya mengeraskan suara dengan menangis secara berlebihan, adapun menangisi mayit dengan tanpa menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit, dan tanpa mengeraskan suara maka tidak haram”. [Al-Adzkar, hlm. 147, karya An-Nawawi, tahqiq: al-Arnauth] Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/49, disebutkan. “Niyâhah adalah tangisan dengan suara keras”. Selanjutnya dijelaskan, “Di dalam istilah (syari’at) ungkapan para ahli fiqih tentang pengertian niyâhah berbeda-beda: Hanafiyyah menyatakan bahwa niyâhah adalah: tangisan yang disertai  menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit.  Ada juga yang mengatakan, niyâhah adalah tangisan yang disertai  suara. Kesimpulan pembiacaraan ulama Malikiyah bahwa niyâhah adalah tangisan yang disertai  dengan satu dari dua perkara: teriakan atau perkataan yang tidak baik. Kebanyakan ahli fiqih Syafi’iyyah dan sebagian ulama Malikiyah menyatakan bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit, walaupun tanpa menangis. Ada yang mengatakan: disertai dengan menangis. Hanabilah dan sebagian ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit dengan jeritan atau perkataan bersajak”. [Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/49] BAHAYA NIYÂHAH Sesuatu yang dilarang oleh agama pasti banyak keburukan dan bahaya. Adapun bahaya dan keburukan niyâhah antara lain sebagai berikut: Termasuk Kufur Ashghar. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ “ Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua perkara pada manusia yang menyebabkan mereka kufur yaitu mencela nasab dan niyahah terhadap mayit.” [HR. Muslim no. 67] Maksud kufur di sini adalah kufur ashghar, kufur kecil, yakni kufur yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Tidak Termasuk Pengikut Nabi Yang Baik عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ» Dari Abdullah (bin Mas‘ud) Radhiyallahu anhu , dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek juyuub, dan berteriak dengan teriakan  jahiliyah (yakni ketika ditimpa musibah kematian–pen).” [HR. Al-Bukhari no. 1294; Muslim no. 103] Syaikh Mushthafa Bugha menjelaskan: “Sabda Nabi “Tidak termasuk golongan kami”, yaitu tidak termasuk pengikut agama kami yang mengikuti petunjuk kami, “menampar” yaitu memukul wajah dengan telapak tangan bagian dalam, “juyuub” jama’ dari jaib, yaitu belahan baju sebelah atas untuk memasukkan kepala, yang dimaksud merobek baju secara umum, “teriakan  jahiliyah”, yaitu di dalam tangisannya dan jeritannya berteriak dengan teriakan yang biasa diucapkan oleh orang-orang jahiliyah, seperti: “Wahai sandaran kami!”, “Wahai kekuatan kami!”, dan ungkapan semacamnya”. [Catatan kaki, Shahih al-Bukhari, no. 1294] Nabi Berlepas Diri Abu Burdah bin Abu Musa berkata: وَجِعَ أَبُو مُوسَى وَجَعًا فَغُشِيَ عَلَيْهِ، وَرَأْسُهُ فِي حِجْرِ امْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ فَصَاحَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِهِ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهَا شَيْئًا، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ: أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنَ الصَّالِقَةِ، وَالْحَالِقَةِ، وَالشَّاقَّةِ» Abu Musa pernah menderita sakit parah hingga ia pingsan, saat itu kepalanya berada di pangkuan salah seorang wanita dari kalangan keluarganya. Seorang wanita dari kalangan keluarganya menjerit, tetapi Abu Musa tidak mampu membantahnya. Ketika Abu Musa telah sadar,  dia berkata: “Aku berlepas diri terhadap apa yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari wanita yang berteriak, wanita yang mencukur rambutnya, dan wanita yang merobek pakaiannya (ketika terjadi musibah kematian).” [HR. Al- Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104] Dipakaikan Pakaian Tembaga Dan Kudis Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu anhu. berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: «النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ» “Wanita yang melakukan niyâhah apabila tidak bertaubat sebelum meninggalnya, maka kelak di hari kiamat dia akan dibangkitkan dengan memakai pakaian dari tembaga dan pakaian dari kudis.” [HR. Muslim no. 934] SEBAB LARANGAN NIYAHAH Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Wanita yang melakukan niyâhah mendapatkan adzab dan laknat karena dia memerintah berkeluh kesah dan melarang kesabaran. Padahal Allâh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan bersabar dan mengharap pahala serta melarang keluh kesah dan murka (saat musibah), Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. 9Al-Baqarah/2: 153)”. [Al-Kaba`ir, hal. 185] Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita syukur ketika mendapatkan nikmat, dan kesabaran ketika mengalami musibah. Wallahul Musta’an. [majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M ]

ATURAN AL-QUR’AN DALAM MASALAH HARTA

Oleh Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi[1] وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allâh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.  [An-Nisâ’/4:5] MUFRADAT Al-Îtâ’[الإيْتَاءُ] artinya memberikan. Misalnya ungkapan, “âtâhu kadzâ (آتَاهُ كَذَا) artinya ia memberinya sesuatu. Jadi makna wa lâ tu’tû (dalamayat di atas) adalah dan janganlah kalian memberikan. As-Sufahâ’(السُّفَهَاءُ) bentuk jamak dari kata safîh (السَّفِيْهُ). Dalam bahasa Arab, kata itu bermakna orang yang lemah akalnya dikarenakan jahil, atau karena ia tidak mengetahuinya. Sedangkan dalam pengertian syar’i, kata itu berati orang yang tidak bisa mengatur penggunaan harta dengan baik. Karena ia tidak tahu dan tidak mengerti aturan membelanjakan harta, atau karena dorongan hawa nafsunya lebih dominan daripada pertimbangan akal sehatnya. Kata ini cakupannya umum, meliputi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa ataupun anak-anak, yang tidak bisa mengatur hartanya dengan benar, baik dengan melakukan sesuatu yang bisa menguras hartanya, menyia-nyiakannya, atau dengan merusaknya, misalnya dengan menggunakan harta pada hal-hal yang justru mendatangkan bahaya, atau minimal membelanjakannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat sama sekali. Al-amwâl(الأمْوَالُ) bentuk jamak dari al-mâl (المَالُ), yaitu segala sesuatu yang bernilai harta, baik berupa benda mati, seperti emas, perak, biji-bijian, buah-buahan, atau berupa properti seperti tanah, rumah, pabrik; atau yang bersuara seperti hewan, khususnya binatang ternak berupa unta, sapi, dan kambing; juga kuda, bighal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai) serta keledai. Al-Qiyâm(القِيَامُ); dalam (salah satu) bacaan qira’ah sab’ah juga dibaca: qiyaman (قِيَماً) bentuk jamak dari qîmah (قِيْمَةٌ), artinya sesuatu yang dijadikan standar nilai bagi barang-barang yang lain, sedangkan al-qiyâm artinya pokok penopang atau penyangga sesuatu. Jadi, harta itu pokok yang menopang kehidupan manusia, baik dalam taraf pribadi maupun kelompok, karena harta ia dapat menjadikan hidup ini menjadi eksis dan berjalan dengan baik. Al-Qaul al-ma’rûf(القَوْلُ الْمَعْرُوفُ) adalah janji yang baik, ucapan yang lembut dan bagus. Misalnya, seorang wali atau yang diamanahi untuk menyampaikan (atau mengurusi) wasiat mengatakan kepada orang yang akan menerima wasiat tersebut namun dia masih belum diperbolehkan untuk mengurusi hartanya sendiri (mahjûr alaih) disebabkan akalnya yang belum sempurna, “Ini adalah hartamu. Aku hanya orang yang menjaga hartamu ini, untuk kepentinganmu. Bila engkau telah besar atau matang pikirannmu, hartamu akan kuserahkan kepadamu dan engkau bisa mengaturnya sendiri, karena engkau adalah pemiliknya.” MAKNA AYAT Sekelompok kaum Muslimin, yang bisa saja berkedudukan sebagai suami, ayah, wali, orang yang diamanati untuk menyampaikan atau menjaga wasiat, atau seorang hakim (penguasa) yang diminta (untuk mengurus harta orang safih), mereka ini dilarang oleh Allâh Azza wa Jalla untuk memberikan harta  kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, baik dia lelaki, wanita, ataupun anak-anak, meski faktanya harta itu memang hak mereka. Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka yang bertanggung jawab untuk memberikan kebebasan kepada orang-orang safîh tersebut dalam mengurusi harta mereka sendiri, sebab mereka bisa menyia-nyiakannya, merusaknya, atau melenyapkannya dengan cara membelanjakannya pada sesuatu yang tidak mereka butuhkan sama sekali, atau dengan menginfakkannya pada sesuatu yang lekat dengan kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Misalnya, mereka menggunakannya untuk pada minuman, makanan, atau pakaian yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Disamping itu, Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan kepada  para wali atau yang diwasiati agar memberikan nafkah kepada mereka (orang-orang safîh) itu dari harta tersebut dengan menyediakan atau membelikan sesuatu yang mereka butuhkan, baik berupa makanan, minuman, tempat tinggal ataupun pakaian. Allâh Azza wa Jalla juga agar mereka berkata-kata kepada mereka dengan tutur kata yang lembut, serta menjaga perasaan dan hati mereka. Ini dilakukan dengan cara memberikan janji yang baik (janji yang memang ditepati), yaitu apabila mereka telah matang akalnya, harta tersebut akan diserahkan kepada mereka, meskipun harta tersebut sudah berkembang banyak. KORELASI AYAT DENGAN AYAT SEBELUMNYA Dalam ayat sebelumnya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk mengembalikan harta anak-anak yatim kepada mereka, sebagaimana firman-Nya: وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ۖ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. [An-Nisa’/ 4: 2] Juga Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar memberikan mahar kepada para istri dengan firman-Nya: وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. [An-Nisa’ / 4: 4] Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla melanjutkannya dengan ayat yang sedang bahas ini, dengan menjelaskan bahwa orang-orang yang belum sempurna akalnya baik dari lelaki, wanita, dewasa maupun anak-anak, mereka tidak berhak untuk diberikan harta tersebut (kala itu), meskipun mereka mendapatkan kepemilikan harta tersebut secara benar menurut syariat. (Penundaan ini-red) Karena dikhawatirkan mereka akan menyia-nyiakannya, sebab akal mereka belum sempurna, pengetahuan mereka terlalu lemah, atau karena mereka tidak tahu bagaimana memperlakukan dan mengatur harta dengan baik. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman dengan firman di atas: وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allâh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. [An-Nisâ’/4:5] Berbagai Hukum Yang Terkandung Dalam Ayat Di antara hukum-hukum yang terkandung dalam ayat tersebut di atas adalah: Seorang yang belum sempurna akalnya harus dicegah atau dilarang dari melakukan transaksi harta (al-hijr ‘ala as-safih); yaitu ia dicegah untuk melakukan transaksi dalam hartanya, kecuali dalam kadar yang dibatasi, tidak melebihi nafkah kebutuhan kesehariannya yang pokok, berupa makanan, minuman dan sandang. Harta memiliki kehormatan dan dianggap sebagai penopang pokok kehidupan serta urat nadinya. Dengannya, kehidupan seseorang bisa eksis dan baik. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengharamkan perbuatan yang bisa melenyaapkan atau memusnahkan harta dan menghambur-hamburkannya. Allâh Azza wa Jalla juga mengharamkan pembelanjaan harta untuk hal-hal yang membahayakan atau tidak bermanfaat. Ada kewajiban untuk memberi belanja (nafkah) kepada orang yang belum matang akalnya, baik ia seorang lelaki, perempuan atau anak-anak, sampai akal mereka matang. Setelah itu, barulah harta tersebut diserahkan kepadanya. Seseorang yang diamanati memegang harta lalu dia ingin melakukan transaksi pada harta tersebut, maka sebelum melakukan apapun, ia wajib mengetahui bagaimana ia seharusnya mengelola harta tersebut. Harta adalah tiang penopang kehidupan komunitas Muslimin. Sehingga tidak boleh memberikan harta kepada orang yang akan merusaknya, baik dengan menghambur-hamburkanya, juga membelanjakannya dalam kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , siapapun itu. Sebab kepemilikan harta bagi individu tidak berarti memberikan ruang bebas bagi pemilik harta untuk merusak hartanya dengan cara dan bentuk apapun. Karena harta adalah tiang penopang kehidupan seluruh manusia. Sehingga haram atas seorang individu dari mereka untuk memusnahkan dan merusak hartanya, bagaimanapun cara dan bentuknya. PELAJARAN PENTING DARI AYAT Sesungguhnya ayat ini  adalah satu dari tiga ayat dalam al-Qur`an yang menjadi aturan umum dalam mengatur belanja dan aktivitas dalam harta. Seandainya seorang mengikuti aturan ini maka tidak akan butuh kepada sesuatu aturan yang meluruskan penyimpangannya. Tiga ayat tersebut adalah: Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala : وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allâh sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. [An-Nisâ’/4 :5] Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala : وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al-Isrâ’/ 17:29) Firman Allâh Azza wa Jalla : وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا   Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al-Furqân/ 25:67] Penjelasannya: Mencari dan menghasilkan harta dari berbagai sumbernya seperti dari perniagaan, industri dan pertanian serta memiliki usaha jasa bukanlah masalah, karena cinta harta termasuk perkara fitrah pada diri setiap manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ﴿٦﴾ وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ ﴿٧﴾ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Rabbnya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. [Al-Adiyaat/100:6-8] Kata al-khair dalam ayat ini bermakna harta. Sebagaimana juga realita membuktikannya, karena manusia sekarang telah menuhankan harta seperti orang musyrik menuhankan berhala yang disembahnya. Sampai-sampai banyak individu seperti sebuah jamaah, yang tidak dipandang dan tidak tegak kecuali dengan ekonomi dan hartanya, bukan dengan etika dan akhlaknya. Hal itu tentunya dikecualikan sedikit dari kaum Mukminin. Berdasarkan hal ini, cinta harta dan berbagai usaha untuk mendapatkannya serta kepemilikan terhadap harta bukanlah sebuah kesalahan dalam kehidupan manusia. Akan tetapi permasalahannya adalah pada cara mengeluarkan harta tersebut dan cara menjaganya. Ternyata, ada orang yang melampaui batas dalam mencintai harta, sehingga melakukan cara dan sarana yang terburuk untuk mengumpulkan dan menjaga hartanya seperti menjual diri dan kehormatan serta agamanya. Atau bakhil dan kikir dengan hartanya sehingga ia tidak mengeluarkan dan tidak menyerahkan apa yang menjadi hak harta atasnya. Wal’iyadzu billah. Ada juga orang yang tidak mengerti nilai harta, tidak menghormatinya dengan benar lalu membuangnya sia-sia, sehingga ia membelanjakannya pada hal-hal yang sangat rendah. Juga bersikap boros hingga mengeluarkannya dari tangannya walaupun sebanyak harta karun. Tidak mampu membuat aturan tepat yang bisa menjaga harta dan pemiliknya dari kerusakan kecuali aturan yang digariskan tiga ayat yang telah kami sebutkan di atas. Ayat pertama, menjelaskan konsep memuliakan harta dan menganggapnya sebagai hal yang inti dan pokok kehidupan, sehingga diharamkan membiarkan orang-orang yang belum sempurna akalnya menggunakan hartanya, agar tidak terlantar dan hancur. Ayat kedua, menjelaskan konsep moderat dalam nafkah sehingga pemiliknya dilarang bakhil dan kikir dalam membelanjakan hartanya; sesuai keharusan memberi nafkah dan kewajiban mengeluarkan dan memberikannya. Jangan menjadikan tangannya terbelenggu di lehernya. Ungkapan ini merupakan lafaz kinâyah (kata kiasan) dari puncak kekikiran dan kebakhilan. Tangan yang berbelenggu di leher tidak akan bisa berinfaq. Sebagaimana juga melarang boros dan buang-buang harta. Dan kedua hal ini adalah bentuk membelanjakan harta tanpa kebutuhan dan kepentingan, atau belanja untuk kemaksiatan. Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya: (dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya) adalah lafaz kinâyah yang menunjukkan makna membuang-buang harta dan boros dalam nafkah, baik yang disyariatkan maupun yang tidak disyariatkan. Tangan yang terlalu diulurkan tidak bisa menahan apapun, sehingga tidak ada yang tersisa. Untuk larangan yang pertama (yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Jangan kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu alias bakhil-red), jika dilanggar maka akibatnya adalah kamu akan dicela. Karena orang yang tidak menginfakkan atau mengeluarkan harta pada sesuatu yang seharusnya dibiayai, dia pasti akan dicela oleh umat manusia. Karena secara tidak langsung, dia telah menghambat hak-hak orang lain. Sedangkan untuk larangan kedua (yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya-red), jika dilanggar, maka akibatnya mahsûr. Mahsûr artinya tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kecapekan. Jadi orang menghambur-hamburkan hartanya dan melepaskannya dari genggaman tangannya akan terganggu dalam melanjutkan kehidupannya. Karena harta yang menjadi penopang utama kehidupannya telah disia-siakan dan dirusak sendiri, akibatnya dia akan merasakan bahwa kehidupan akan berakhir. Ini kematian secara maknawi yang bisa menghantarkan kepada kematian sebenarnya. Ayat ketiga, Ayat ini menetapkan asas keadilan dalam membelanjakan atau mengeluarkan harta. Terlalu mudah mengeluarkan atau terlalu susah (bakhil), kedua-duanya diharamkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al-Furqân/25:67] Maksudnya, tengah-tengah, diantara perbuatan menghambur-hamburkan atau berlebihan dalam membelanjakan harta dan perbuatan bakhil yang tercela ada jalan tengah. Jalan tengah itu adalah tengah-tengah (sedang-sedang) dalam membelanjakan atau memanfaatkan harta. Inilah aturan al-Qur’an dalam membelanjakan atau memanfaatkan harta. Barangsiapa yang memperaktikkan aturan ini, maka dia pasti selamat dan akan berakhir bahagia. Sebaliknya, orang yang berpaling dari aturan ilahi ini, dia pasti akan sengsara lalu binasa. Kalau sudah begini, maka janganlah dia menyalahkan orang lain. Hendaklah dia menyalahkan dirinya sendiri. Yang pertanyaan sekarang, seberapa jauhkah atau seberapa dalamkah kaum Muslimin memahami aturan ini? Seberapa jauhkah kaum Muslimin menerapkan aturan ini? Jawabnya adalah kaum Muslimin generasi awal umat ini telah memahami aturan ini dengan baik dan benar dan mereka juga sudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari mereka. Buktinya, mereka telah sampai pada suatu level peradaban yang agung, di mana kaum selain mereka tidak ada yang sampai pada level tersebut dalam kancah kehidupan dunia. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa mereka memahaminya dan mengamalkannya dengan baik adalah suatu pertanyaan yang dilontarkan seorang Khalifah Umawiyyah, yaitu Abdul Malik,  yang dilontarkan kepada putrinya yang bernama Fathimah.  Fathimah telah dinikahkan oleh khalifah dengan putra saudaranya yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Ketika mengunjungi Putrinya, Abdul Malik bertanya kepada putrinya, “Bagaimana kehidupan kalian?” Ia menjawab, “(Aku hidup dalam) kebaikan di antara dua keburukan.” Yang ia maksud dengan kebaikan adalah nafkah yang sedang dan proporsional. Sedangkan dua keburukan adalah berlebih-lebihan dalam nafkah dan terlalu hemat menyempitkan belanja. Adapun kaum Muslimin sekarang ini, sungguh (banyak di antara) mereka yang tidak mengetahui apapun, sampai pun mereka tidak mengetahui diri mereka sendiri. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa memahami aturan al-Qur’an terkait harta ini?! Mereka juga tidak mampu untuk mengambil dan mengamalkan aturan-aturan Qur’an terkait berbagai perbaikan dalam kehidupan. Hal itu karena mereka telah mati. Bukan mati secara ragawi, namun mati secara maknawi. Dan orang yang telah mati tentu tidak mampu untuk mendengar ataupun melihat. Ia tidak bisa datang (untuk mengambil aturan tersebut); tidak mampu pula untuk berpaling (meninggalkan aturan yang bertentangan dengan syariat). Ya Allâh, Wahai Dzat Yang menghidupkan yang mati, hidupkanlah mereka ini! Wahai Dzat Yang mengabulkan doa, kabulkanlah doa kami untuk mereka! Kembalikanlah mereka ke pangkuan Islam! Jadikan mereka mulia dan kuat dengan Islam! Sempurnakanlah mereka di atas Islam. Karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [ Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M ] _______ Footnote [1] Diangkat dari majalah Jami’ah al-Islâmiyah edisi 44 versi Maktabah Syamilah dengan sedikit perubahan.

Manhaj ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM

ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM, POTRET BURAM SEORANG KORBAN PEMIKIRAN KHAWARIJ Oleh Muhammad ‘Ashim bin Musthafa Kebenaran pemahaman dan itikad yang baik merupakan tonggak penting dalam mengaplikasikan ajaran Islam secara benar. Dua perkara ini harus seiring-sejalan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, maka tabiat orang-orang Yahudi -yang tidak mempunya itikad baik di hadapan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala -, dan penganut Nashâra -yang berjalan tanpa petunjuk ilmu- akan berkembang di tengah umat. Akibatnya timbullah kerusakan. Contoh perihal bahaya dari pemahaman yang tidak lurus ini, dapat dilihat pada diri ‘Abdur- Rahmaan bin Muljam. Sosok ini telah teracuni pemikiran Khawaarij. Yaitu satu golongan yang kali pertama keluar dari jama’atul-muslimîn. Sejarah mencatat kejahatan kaum Khawaarij ini telah melakukan pembunuhan terhadap Amîrul-Mu`minîn ‘Ali bin Abi Thâlib, yang juga kemenakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. SIAPAKAH ‘ABDUR-RAHMÂN BIN MULJAM? Merupakan kekeliruan jika ada yang menganggap ‘Abdur-Rahmân bin Muljam dahulu seorang yang jahat. Sebelumnya, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa saat siang hari dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai. Meski demikian, ia mendapat gelar al-Muqri`. Dia mengajarkan Al-Qur`ân kepada orang lain. Tentang kemampuannya ini, Khalifah ‘Umar bin al Khaththab sendiri mengakuinya. Dia pun pernah dikirim Khaliifah ‘Umar ke Mesir untuk memberi pengajaran Al-Qur`ân di sana, untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, ‘Amr bin al-‘Aash, karena mereka sedang membutuhkan seorang qâri. Dalam surat balasannya, ‘Umar menulis: “Aku telah mengirim kepadamu seorang yang shâlih, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`ân kepada masyarakat”. Sekian lama ia menjalankan tugasnya sebagai muqri`, sampai akhirnya benih-benih pemikiran Khawârij mulai berkembang di Mesir, dan berhasil menyentuh ‘âthifah (perasaan)nya, hingga kemudian memperdayainya.[1] MERENCANAKAN PEMBUNUHAN TERHADAP ‘ALI BIN ABI THÂLIB [2] Inilah salah satu keanehan ‘Abdur-Rahmân yang sudah terjangkiti pemikiran Khawârij. Tiga orang penganut paham Khawârij – ‘Abdur-Rahmân bin Muljam al-Himyari, al-Burak bin ‘Abdillah at-Tamîmi dan ‘Amr bin Bakr at-Tamîmi – mereka berkumpul bersama, sambil mengingat-ingat tentang ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu yang telah menghabisi kawan-kawan mereka di perang Nahrawân. Mereka pun berdoa memohon rahmat kebaikan bagi orang-orang yang telah menemui ajalnya itu. Peristiwa peperangan Nahrawân sangat membekaskan luka mendalam pada hati mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Apa lagi yang akan kita perbuat setelah kepergian mereka? Mereka tidak takut terhadap apapun di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaiknya kita mengorbankan jiwa dan mendatangi orang-orang yang sesat itu [3]. Kita bunuh mereka, sehingga negeri ini terbebas dari mereka, dan kita pun telah melunasi balas dendam?” Akhirnya, mereka merencanakan balas dendam dengan merancang pembunuhan terhadap tiga orang yang mereka anggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pembunuhan ini mereka anggap sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka sepakat melakukan pembunuhan terhadap tiga orang itu, yaitu ‘Ali bin Abi Thâlib, Mu’awiyyah dan ‘Amr bin al ‘Âsh Radhiyallahu ‘anhum, dan mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan rencana keji itu. Rencana ‘Abdur- Rahmân bin Muljam untuk membunuh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu kian menguat setelah didorong oleh seorang perempuan. Dikisahkan, adalah Fithâm nama wanita itu. Kecantikannya yang masyhur di tengah kaum muslimin telah berhasil merebut hati ‘Abdur-Rahmân bin Muljam. Hingga ia melupakan misi jahatnya di Kufah, yaitu membunuh Amirul-Mu`minin ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu ‘anhu. Namun tak terduga, hasratnya memperistri wanita yang terkenal cantik itu, justru memicu niatnya yang sempat terlupakan. Pasalnya, selain permintaan mas kawin yang berupa kekayaan duniawi, wanita ini juga memasukkan pembunuhan terhadap ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu sebagai syarat, jika Ibnu Muljam ingin memperistrinya. Syarat pinangan yang aneh ini yang kemudian mengingatkan Ibnu Muljam dengan niat jahat itu, dan ia bertambah semangatnya untuk segera mewujudkan niat buruknya. Katanya,”Ya, ia adalah bagianku. Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali dengan niat untuk membunuh ‘Ali”. Syarat ini terpenuhi dan pernikahan pun dilaksanakan. Semenjak itu, sang wanita ini selalu membakar semangat suaminya untuk merealisasikan niatnya. Bahkan ia memberi bantuan kepada Ibnu Muljam seorang lelaki yang bernama Wardân untuk mewujudkan rencana jahat itu. Setelah itu, Ibnu Muljam pun mengajak seseorang yang Syabiib bin Najdah al Asyja’i. Katanya,”Maukah engkau memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?” Tetapi, begitu mendengar yang dimaksud ialah membunuh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, maka Syabîb menampiknya. Karena ia mengetahui, ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu memiliki jasa yang sangat besar bagi Islam dan kaum muslimin, dan ia memiliki kedekatan dalam hal kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. . Melihat penolakan ini, Ibnu Muljam tak kalah cerdik. Dengan agresifitasnya, ia membakar emosi Syabîb dengan menyebut kematian orang-orang Khawarij di tangan ‘Ali. Yang akhirnya, ia berhasil menjinakkan hati Syabîb. Padahal Khalifah ‘Ali bin Thâlib -pada masa itu- ialah orang yang paling tekun beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, paling zuhud terhadap dunia, paling berilmu dan paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Mereka bertiga kemudian bergerak melancarkan niatnya pada malam 17 Ramadhan 41 H . Hari yang sudah diputuskan oleh Ibnu Muljam, al-Burk dan ‘Amr bin Bakr untuk menyudahi nyawa tiga orang sahabat Rasulullah, yaitu ‘Ali, Mu’awiyyah, dan Amr bin al-‘Âsh Radhiyallahu ‘anhum. Begitu waktu subuh tiba, sebagaimana biasa Amirul-Mu`minin ‘Ali bin Thâlib keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat Subuh dan membangunkan manusia. Saat itulah pedang Khawarij yang beracun menciderai ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Ketika Ibnu Muljam menyabetkan pedangnya pada bagian pelipis ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berseru: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai ‘Ali),” lantas ia membaca ayat : “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. [al Baqarah/2:207].[4] Mendapat serangan ini, Amirul-Mu`minin berteriak meminta tolong. Dan akhirnya Ibnu Muljam berhasil ditangkap hidup-hidup. Adapun Wardân, ia langsung terbunuh. Sedangkan Syabîb berhasil meloloskan diri. AKHIR KEHIDUPAN ‘ABDUR-RAHMAAN BIN MULJAM Ketika Amirul-Mu`minin ‘Ali bin Thâlib Radhiyallahu ‘anhu dipastikan meninggal karena serangan Ibnu Muljam, maka diputuskanlah hukuman mati bagi Ibnu Muljam. Hukuman ini diawali dengan memotong kedua kaki dan tangannya dan menusuk dua matanya, kemudian dilanjutkan dengan membakar jasadnya. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: “Sebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, akhir kehidupannya ditutup dengan kejelekan (su`ul khâtimah). Dia membunuh Amirul-Mu’minin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tetesan darahnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ampunan dan keselamatan bagi kita”.[5] Berbeda dengan anggapan kalangan Khawârij. Di tengah mereka, ‘Abdur-Rahmân bin Muljam ini dielu-elukan bak pahlawan. Dia mendapatkan pujian dan sanjungan. Di antaranya keluar dari ‘Imrân bin Haththân. Orang ini, sebelumnya dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah. Namun, perkawinannya dengan seorang wanita yang memiliki pemikiran Khawârij, menjadikannya berubah secara drastis. Dia mengikuti pemahaman istrinya. Dia merangkai bait-bait sya’ir sebagai pujian yang ditujukan kepada ‘Abdur-Rahmân bin Muljam: Oh, sebuah sabetan dari orang bertakwa, tiada yang ia inginkan selain untuk menggapai keridhaan di sisi Dzat Pemilik ‘Arsyi Suatu waktu akan kusebut namanya, dan aku meyakininya (sebagai) insan yang penuh timbangan (kebaikannya) di sisi Allah.[6] Pujian ini tentu merupakan perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga dapat menyeret seseorang menjadi keliru dalam memandang kebatilan hingga terlihat sebagai kebenaran di matanya. Na’ûdzu billahi min dzâlik. Golongan lain yang juga memberi sanjungan kepada pembunuh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, yaitu golongan Nushairiyyah. Konon katanya, karena Ibnu Muljam telah melepaskan “ruh ilâhi” dari tanah.[7] BEBERAPA PELAJARAN DARI KISAH DI ATAS Pemahaman yang benar dalam mengaplikasikan Islam merupakan keharusan bagi seorang muslim. Dalam hal ini, para sahabat merupakan generasi Islam pertama, yang pastinya paling memahami Islam. Mereka mereguknya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika muncul pergolakan yang disulut kaum Khawaarij, tidak ada satu pun dari sahabat yang merapat ke barisan mereka. Pemahaman-pemahaman terhadap Islam yang tidak mengacu kepada para sahabat -sebagai generasi pertama umat Islam- hanya akan berakhir dengan kekelaman. Motif mereka sesat, karena beranggapan pembunuhan ini sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alasan demikian tentu menjatuhkan citra Islam, dan menjadi ternoda karenanya. Hal ini bisa menimpa siapa pun yang berbuat tanpa dasar ilmu, tanpa pemahaman yang lurus, dan hanya mengandalkan perasaan atau hawa nafsu semata. Kebodohan itu berbahaya, lantaran menyebabkan ketidakjelasan barometer syar’i bagi seseorang, sehingga membuat kelemahan dalam tashawwur (pendeskripsian) dalam memandang suatu masalah.[8] Bahaya teman dekat (istri, suami) yang berpemikiran buruk atau menyimpang. Wallahu a’lam Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XII/1429H/2008M   _______ Footnote [1]. Nukilan dari Al Ghuluww, Mazhâhiruhu, Asbâbuhu, ‘Ilâjuhu, Muhammad bin Nâshir al ‘Uraini, Pengantar: Syaikh Shâlih al Fauzân, Tanpa Penerbit, Cetakan I, Tahun 1426 H. [2]. Lihat al-Bidayah wan-Nihâyah, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah, Maktabah ash-Shafâ, Cetakan I, Tahun 1423H-2003 M (7/266-268) [3]. Maksudnya ialah ‘Ali bin Abi Thâlib, Mu’awiyyah dan ‘Amr bin al-‘Âsh Radhiyallahu ‘anhum. [4]. Ibnu Muljam mengira dirinya masuk dalam konteks ayat yang ia baca itu, Pen.). [5]. Mizânul-I’tidâl, Abu ‘Abdillah Muhammad adz-Dzahabi, Darul-Ma’rifah, Beirut, tanpa tahun, 2/592. [6]. Al-Farqu bainal-Firaq, ‘Abdul-Qâhir al-Baghdâdi, Darul-Kutub al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun, hlm. 62-63. [7]. Al-Mausû’atul-Muyassaratu fil Ad-yâni wal-Mazhâhibi wal-Ahzâbil-Mu’âshirah, Cetakan V, Tahun 1424 H / 2003 M, 1/392. [8]. Asbâbu Ziyâdatil-‘Imân wa Nuqshânihi, Prof Dr. ‘Abdur-Razzâq al-‘Abbâd, Ghirâs, Cetakan III, Tahun 2003M, hlm. 62.

Top

Bagian Pemasaran Majalah As Sunnah

Hubungi Kami