Antum Disini
Halaman Utama > Artikel > Tafsir > AKIBAT MENGIKUTI PEMBESAR KAUM YANG SESAT

AKIBAT MENGIKUTI PEMBESAR KAUM YANG SESAT

Oleh Ustadz Said Yai Ardiansyah, M.A.*

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا﴿٦٦﴾وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴿٦٧﴾رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allâh dan taat (pula) kepada Rasul.’

Dan mereka berkata, ‘Ya Rabb kami! Sesungguhnya kami dulu telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).

Wahai Rabb kami! Timpakanlah kepada mereka dua kali lipat dari adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.’ [Al-Ahzab/33:66-68]

TAFSIR RINGKAS
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka,” seperti daging yang dipanggang dan dibolak-balikkan di dalam api.

“Mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allâh dan taat (pula) kepada Rasul.’.” Mereka berharap dengan perkataan-perkataan mereka, andai mereka dulu mentaati Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan tidak bermaksiat kepada Allâh dan Rasul-Nya.

“Dan mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami! Sesungguhnya kami dulu telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).’.” Ini adalah aduan dan alasan yang mereka sampaikan. (Namun) aduan mereka tidak mungkin bisa diterima dan tidak akan bermanfaat untuk mereka. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami telah mentaati mereka, karena dahulu mereka menyuruh kami untuk melakukan kekufuran, kesyirikan dan melakukan hal-hal buruk, sehingga mereka menyesatkan kami dari jalan, yaitu dari jalan petunjuk, sehingga kami hidup dalam keadaan sesat, kami mati dalam keadaan kafir dan kami dikumpulkan bersama orang-orang yang berbuat dosa,

“Wahai Rabb kami! Timpakanlah kepada mereka dua kali lipat dari azab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” Maksudnya, Wahai Rabb kami! Lipat gandakanlah (adzab-Mu) kepada para pemimpin dan para pembesar kami yang telah menyesatkan kami. Lipat gandakanlah azab mereka dua kali lipat.

“Dan laknatlah mereka,” maksudnya timpakanlah kepada mereka adzab yang besar yang selalu menimpa mereka selama-lamanya.[1]

PENJABARAN AYAT
Firman Allâh Azza wa Jalla :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allâh dan taat (pula) kepada Rasul.”

Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang keadaan orang-orang kafir yang menjadi korban penyesatan para pembesar mereka di akhirat nanti. Wajah mereka akan dibolak-balikkan di dalam neraka. Mereka sangat menyesali apa yang telah mereka lakukan di dunia, karena mereka tidak mau mengikuti apa yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan.

Arti “dibolak-balikkan wajah mereka”

Adzab di neraka amat sangat pedih. Para penghuninya akan merasakan kesakitan yang luar biasa dan mendapatkan berbagai macam jenis adzab, termasuk di dalamnya adalah wajah mereka akan dibolak-balikkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ada beberapa penafsiran dari para Ulama tentang cara pembolak-balikan wajah mereka.

Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Arti dibolak-balikkan wajah-wajah adalah dibolak-balik dari satu arah, kemudian dibalikkan ke arah yang lain, seperti dari arah punggung ke arah perut, atau berubah-ubah warna mereka karena terkena sambaran api, sehingga terkadang berubah menjadi hitam dan terkadang berubah menjadi hijau, atau diubah kulit mereka dengan kulit yang lain.”[2]

Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan tiga kemungkinan untuk makna dibolak-balikkan tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Mereka diseret di dalam neraka dengan wajah-wajah yang tersungkur, dan wajah-wajah mereka dihadapkan ke neraka. Dalam keadaan seperti itu, mereka mengatakan dan berharap seandainya mereka dahulu di dunia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang taat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagaimana yang mereka katakan ketika mereka berada di padang luas (di hari kiamat):

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ﴿٢٧﴾ يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا﴿٢٨﴾ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengikuti jalan bersama rasul itu.

Kecelakaan besarlah bagiku. Seandainya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu sebagai teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari adz-dzikr (al-Quran) ketika dia itu telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan mau menolong manusia.” [Al-Furqân/25:27-29]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. [Al-Hijr/15:2]

Seperti itulah Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan keadaan mereka. Mereka sangat berharap jika dahulu mereka mentaati Allâh dan Rasul-Nya di dunia.”[3]

Inilah penyesalan yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak mentaati Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

Dan mereka berkata, ‘Ya Rabb kami! Sesungguhnya kami dulu telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).’

Orang-orang kafir tersebut menyeru Allâh Azza wa Jalla sambil mengutarakan alasan mengapa mereka bisa tidak mentaati Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Mereka mengatakan bahwa mereka dahulu telah mengikuti para pemimpin dan para pembesar mereka, sehingga menyesatkan mereka dari jalan yang lurus.

Siapakah yang dimaksud dengan sâdah (para pemimpin) dan kubarâ’ (para pembesar) dalam ayat ini?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli tafsir dalam menafsirkannya. Di antara pendapat yang disebutkan adalah:

Sâdah berarti asyrâf, yaitu orang-orang yang mulia atau terpandang, dan kubarâ’ berarti ‘Ulamâ’, yaitu orang-orang yang berilmu. Ini adalah pendapat Thâwus rahimahullah .
Sâdah berarti para pemimpin dalam kesesatan atau keburukan sementara kubara’ berarti para pemimpin dalam kesyirikan. Ini adalah pendapat Qatâdah rahimahullah dan inilah yang dipilih oleh ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya.
Sâdah dan kubarâ’ memiliki arti yang sama, yaitu para pemimpin yang telah menyesatkan. Ini adalah pendapat Ibnu Zaid rahimahullah.[4] Di dalam ayat ini terkandung makna yang sangat penting agar seseorang tidak terlalu mudah dalam mengikuti para pemimpin dan para pembesar, karena belum tentu mereka berada di dalam kebenaran. Apalagi kita ketahui ada para pembesar yang mengajarkan kekufuran yang “dibungkus” dengan pelajaran agama dan menyebarkan kesesatan yang “dibalut” dengan kata-kata indah. Oleh karena itu, ketika menafsirkan ayat ini, Imam al-Quthubi rahimahullah mengatakan, “…Pada ayat ini terdapat larangan untuk bertaqlid (mengikuti manusia tanpa dalil).”[5]

Firman Allâh Ta’ala:

رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Ya Rabb kami! Timpakanlah kepada mereka dua kali lipat dari adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.

Orang-orang rendahan yang mengikuti para pembesar tersebut sangat jengkel dan marah terhadap para pembesar yang telah mengajak mereka ke dalam kesesatan dan menyebabkan mereka masuk ke dalam neraka. Mereka berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar para pembesar itu mendapatkan adzab dua kali lipat dari azab yang mereka rasakan, karena mereka telah berada di dalam kesesatan dan ditambah dengan mengajak orang lain untuk mengikuti kesesatan mereka. Akan tetapi, pada akhirnya semuanya tetap mendapat adzab yang pedih dari Allâh Azza wa Jalla .

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Orang-orang kafir di hari kiamat di neraka Jahannam berkata, ‘Wahai Rabb kami! Sesungguhnya kami telah mentaati para pemimpin kami dalam kesesatan dan para pembesar kami dalam kesyirikan ‘sehingga mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar),’ mereka telah memalingkan kami dari dalil yang haq, dari jalan petunjuk agar kami tidak beriman kepada-Mu juga memalingkan kami dari menetapkan keesaan-Mu serta memaling kami dari mengikhlaskan ketaatan kepada-Mu di dunia. ‘Ya Rabb kami! Timpakanlah kepada mereka dua kali lipat dari azab’ yaitu adzablah mereka dengan dua kali lipat adzab yang Engkau timpakan kepada kami. ‘Dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar,’ dan timpakanlah kerugian kepada mereka dengan kerugian yang besar.”[6]

al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Qatadah mengatakan, ‘Azab dunia dan azab akhirat.’ Disebutkan pendapat lain, yaitu adzab karena kekufuran dan adzab karena penyesatan. Maksudnya adzablah mereka dengan dua kali azab yang Engkau pergunakan untuk mengadzab kami, karena sesungguhnya mereka telah sesat dan menyesatkan.”[7]

Pendapat Imam Qatadah rahimahullah di atas kurang tepat, karena mana mungkin orang-orang kafir di adzab di dunia setelah terjadi kiamat, sementara perkataan-perkataan ini diucapkan ketika orang-orang kafir sudah berada di dalam neraka.

Qira’at pada lafaz ayat “كَبِيْرًا(kabîran)” ada yang membacanya dengan “كَثِيْرًاkatsîran”

Jumhur Ulama Qira’at membaca lafaz “كَبِيْرًا(kabîran)” pada ayat ini dengan lafaz “كَثِيْرًاkatsîran”, sedangkan ‘Abdullah bin Mas’ud c dan para Sahabatnya, begitu pula Yahya, Tsabit dan ‘Ashim membacanya dengan lafaz “كَبِيْرًا(kabîran)”. Lafaz “كَبِيْرًا(kabîran)” inilah yang kita temukan pada mushaf yang banyak menyebar di dunia termasuk di Indonesia, karena mushaf tersebut dicetak dengan mengikuti riwayat Hafsh dari ‘Ashim, tetapi ini tidak berarti bahwa lafaz “كَثِيْرًاkatsîran” salah. Semuanya benar dan diwahyukan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Tidak ada perbedaan yang jauh antara “كَبِيْرًا(kabîran)” dan “كَثِيْرًاkatsîran” pada ayat ini.

Imam asy-Syaukani t mengatakan, “Jumhur ulama membaca dengan “katsîran,“ yaitu dengan tiga titik, artinya adalah laknat yang banyak jumlahnya, besar kadarnya dan kuat dampaknya. Yang memilih Qira’at ini adalah Abu Hatim, Abu ‘Ubaid dan An-Nahhas. Sedangkan Ibnu Mas’ud dan para Sahabatnya, Yahya, Tsabit dan ‘Ashim membacanya dengan satu titik (kabîran), artinya besar laknatnya, kuat dirasakan oleh mereka dan berat dampaknya.”[8]

Kemiripan arti ‘katsîr (banyak)’ dan ‘kabîr (besar)’ terdapat juga dalam hadits

Di dalam sebuah hadits terdapat perbedaan lafaz dalam doa berikut:
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr dari Abu Bakr Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Abu Bakr berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam , “Ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang bisa saya ucapkan dalam shalatku.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَبِيرًا – وَقَالَ قُتَيْبَةُ كَثِيرًا – وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ya Allâh! Sesungguhnya saya telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang besar –(Qutaibah berkata, ‘kezaliman yang banyak.’)– Dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka ampunilah dengan pengampunan dari sisi-Mu. Dan rahmatilah aku! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[9]

Pada hadits ini sebagian Ulama merajihkan lafaz katsîran, karena lafaz ini diriwayatkan melalui banyak jalur, sedangkan lafaz kabîran hanya diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dari al-Laits dengan sanadnya. Akan tetapi, makna “katsiran” pada hadits ini tidak jauh berbeda dengan lafaz “kabîran”.

Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah lebih condong kepada kebolehan membaca kedua lafaz tersebut, terkadang dibaca “kabîran” dan terkadang dibaca “katsîran”.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Keduanya memiliki makna yang benar. Sebagian Ulama menyatakan bahwa disunnahkan bagi orang yang berdoa untuk menggabungkan dua lafaz tersebut di dalam doanya. Pada yang demikian perlu ditilik ulang. Bahkan yang lebih utama adalah terkadang membaca ini dan terkadang membaca itu, sebagaimana seorang yang membaca al-Qur’an boleh memilih untuk membaca kedua Qira’at. Yang manapun dia baca, maka itu baik, dan dia tidak boleh menggabungkan kedua lafaz tersebut. Allâh-lah yang Maha Mengetahui.[10]

Ini menunjukkan makna ‘banyak’ dan ‘besar’ memiliki makna yang berdekatan.

AYAT-AYAT YANG SEMISAL DENGAN AYAT INI
Berkaitan dengan ayat-ayat yang sedang kita bahas ini, ada juga ayat-ayat lain yang bunyinya semisal dengan ini, orang-orang yang lemah dan rendahan menyalahkan para pembesar mereka yang telah mengajak mereka ke dalam kesesatan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

Allâh berfirman, ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kalian.’ Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), maka dia melaknat kawannya (yang menyesatkannya). Hingga akhirnya apabila mereka sudah masuk semuanya, berkatalah orang-orang yang masuk belakangan di antara mereka kepada orang-orang yang masuk duluan, ‘Ya Rabb kami! Mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.’ Allâh berfirman, ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kalian tidak mengetahui.” [Al-A’raf/7:38]

Dalam ayat ini Allâh menyebutkan bahwa baik pembesar maupun rendahan tetap mendapat adzab dan siksaan yang berlipat ganda.

Di dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ ﴿٤٧﴾ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikut kalian, maka dapatkah kalian menghindarkan kami dari sebagian adzab neraka?’

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allâh telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” [Ghâfir/40:47-48]

AKIBAT MENGIKUTI PARA PEMIMPIN YANG MENYESATKAN
Di zaman sekarang ini kita harus khawatir jika kita terjerumus ke dalam kesesatan. Banyak orang-orang yang pandai berbicara, tetapi ternyata tidak berilmu, banyak juga orang yang sengaja ingin menyeret manusia ke dalam kesesatan atau ke dalam kubangan hawa nafsu, ada juga orang-orang munafik yang memiliki tujuan untuk merusak akidah kaum Muslimin. Orang-orang awam dan rendahan secara status sosial banyak tergantung kepada pemimpin dan pembesarnya. Apa yang pemimpin dan pembesarnya katakan, maka mereka akan mengikutinya; Apa yang pemimpin dan pembesarnya lakukan, maka mereka akan melakukannya juga. Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam sangat khawatir kepada umatnya jika nanti ada para pemimpin yang mengajak kepada kesesatan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam sangat takut apabila ada di antara kaum Muslimin para pemimpin yang menyesatkan umatnya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

وَإِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

Sesungguhnya di antara hal yang saya takutkan pada umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.[11]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam telah mengabarkan keadaan kaum Muslimin di akhir zaman bahwa mereka akan sangat jauh dengan ilmu agama, sehingga mengikuti fatwa-fatwa orang bodoh, kemudian menyesatkan mereka dari jalan yang benar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

Sesungguhnya Allâh tidak mencabut ilmu sekali cabut dari para hamba-Nya, melainkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama, hingga akhirnya Dia tidak menyisakan seorang Ulama pun. Kemudian mereka menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Kemudian orang-orang bodoh itu ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

Jika mereka dipimpin oleh orang-orang bodoh, maka mereka akan terus diseret ke dalam kesesatan dan penyimpangan.

Mengenai para pemimpin yang mengajak kepada kesesatan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam mensifati mereka sebagai syaitan- syaitan yang berwujud manusia. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu annhu dalam sebuah hadits. Beliau Radhiyallahu anhu berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: (( نَعَمْ.)) قُلْتُ: هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟ قَالَ: (( نَعَمْ )). قُلْتُ: فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ:(( نَعَمْ )). قُلْتُ كَيْفَ قَالَ: (( يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ)). قَالَ: قُلْتُ:كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟. قَالَ: (( تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ )).

Saya berkata, ‘Waha Rasûlullâh! Sesungguhnya kami dulu dalam keburukan, kemudian Allâh datang dengan membawa kebaikan dan kita sedang berada di dalamnya. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam berkata, ‘Ya.’ Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam berkata, ‘Ya.’ Saya berkata, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, ‘Ya.’ Saya bertanya, ‘Bagaimana itu?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, ‘Akan ada sepeninggalku para pemimpin yang mengambil petunjuk tidak dari petunjukku dan beramal tidak dengan sunnahku. Akan ada di antara mereka para lelaki yang hati-hati mereka seperti hati-hati setan dalam wujud manusia.’ Saya bertanya, ‘Apa yang saya lakukan ya Rasûlullâh jika saya mendapatkannya?’

Beliau berkata, ‘Engkau dengar dan taat kepada pemimpin. Jika punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengar dan taatlah.’.”[12]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam juga mewanti-wanti kita agar berhati-hati kepada orang-orang munafik yaitu orang-orang yang pura-pura beragama Islam, kemudian mereka ingin menghancurkan Islam dari dalam, terutama orang-orang munafik yang pandai berbicara di depan umum dan bisa mengajak manusia kepada kekufuran. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ

Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada umatku adalah setiap orang munafiq yang pandai lisannya. [13]

Demikianlah kita harus berhati-hati dalam mengambil ilmu dan selalu berhati-hati dalam memilih guru dan memilih bahan bacaan, karena di zaman sekarang ini, jika orang tidak terpengaruh dengan perkataan seseorang, maka dia terpengaruh dengan tulisan orang lain.

KESIMPULAN

1.Orang-orang kafir di neraka akan dibolak-balikkan wajahnya.
2.Mereka masuk ke dalam neraka karena tidak mengikuti perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan mengikuti perintah para pemimpin dan pembesar yang sesat.
3.Uzur (alas an) yang mereka sampaikan tidak bermanfaat sedikit pun di hadapan Allâh Azza wa Jalla .
4.Orang-orang rendahan yang masuk neraka akan meminta kepada Allâh Azza wa Jalla agar adzab untuk para pembesar mereka dilipat-gandakan oleh Allâh Azza wa Jalla , tetapi ternyata semuanya akan mendapat adzab yang berlipat dari Allâh Azza wa Jalla
5.Kita harus berhati-hati terhadap para pemimpin dan pembesar kita dan tidak fanatik kepada mereka, tetapi kita harus mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika mereka benar maka kita ikuti, jika mereka salah maka kita tinggalkan kesalahan mereka.
6.Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam sangat mengkhawatirkan orang-orang bodoh yang berfatwa tanpa ilmu, orang munafik yang pandai bicara dan para pemimpin yang mengajak kepada kesesatan.
7.Kita harus berhati-hati dalam mengambil ilmu dan selalu berhati-hati dalam memilih guru dan memilih bahan bacaan.
Demikian, mudah-mudahan Allâh Azza wa Jalla menunjuki kita jalan yang lurus, menjauhkan kita dari penyesatan orang-orang yang berpengaruh di masyarakat dan menjadikan kita beristiqamah di dalam kebenaran sampai akhir hayat kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA
1.Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr wa bihâmisyihi Nahril-Khair ‘Ala Aisarit-Tafâsî Jaabir bin Musa Al-Jazaairi. 1423 H/2002. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm Wal-Hikam.
2.Al-Jâmi’ Li Ahkâmil-Qur’ân. Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi. Kairo: Daar Al-Kutub Al-Mishriyah.
3.Fathul-Qadîr. Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani. 1426 H/2005. Al-Manshurah: Daarul-Wafaa’.
4.Jâmi’ul-bayân fî Ta’wîlil-Qur’ân. Muhammad bin Jariir Ath-Thabari. 1420 H/2000 M. Beirut: Muassasah Ar-Risaalah.
5.Ma’âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
6.Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhî Isma’iil bin ‘Umar bin Katsîr. 1420 H/1999 M. Riyaadh: Daar Ath-Thaibah.
7.Tafsîr Ibni Abi Hâ Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi. Shida: Al-Maktabah Al-‘Ashriyah.
8.Dan lain-lain. Sebagian besar telah tercantum di footnotes.

[Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XXI/1438H/2017M].

_______
Footnote
* Staf Pengajar di Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur, Sumsel (kuncikebaikan.com).
[1] Aisar At-Tafâsîr, hlm. 1226-1227.
[2] Fathul-Qadîr IV/404.
[3] Tafsîr Ibni Katsîr VI/483-484.
[4] Lihat Tafsîr Ibni Abi Hâtim X/3157, Tafsîr ath-Thabari XX/331 dan Tafsîr Ibni Katsîr VI/484.
[5] Tafsîr al-Qurthubi VI/483.
[6] Tafsîr ath-Thabari, XX/331
[7] Lihat Tafsîr al-Qurthubi XIV/250.
[8] Fathul-Qadîr IV/405.
[9] HR. Al-Bukhâri, no. 834 dan Muslim, no. 2705/6869. Lafaz ini adalah lafaz Muslim. Lafaz ini menggabungkan antara lafaz Qutaibah bin Sa’id dari al-Laits yang berbunyi ‘Katsîran’ yang berarti ‘banyak’ dengan lafaz Muhammad bin Rumh dari al-Laits ‘Kabîran’ yang berarti ‘besar’. Adapun Imam Al-Bukhâri hanya meriwayatkan dengan lafaz ‘Katsîran.’
[10] Tafsiir Ibni Katsiir VI/484.
[11] HR Ibnu Mâjah, no. 3952 dan ath-Thabrani dalam al-Ausath, no. 8397 dari Tsauban Radhiyallahu anhu . Hadits ini memiliki Syawahid dari ‘Umar bin al-Khaththab, Abud-Darda’, Abu Dzar Al-Ghiffari, Syaddad bin Aus dan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhum. Syaikh al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih dalam ash-Shahîhah, no. 1582
[12] HR. Muslim no. 1847/3785.
[13] HR. Ahmad no. 143 dan al-Bazzar dalam al-Musnad no. 305 dari ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu . Hadits ini juga memiliki syahid dari ‘Imran bin Hushain. Syaikh al-Albani t menyatakan, “Isnadnya shahih.” dalam ash-Shahîhah, no. 1013.

Leave a Reply

Top

Bagian Pemasaran Majalah As Sunnah

Hubungi Kami